bahagia dengan quran Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/bahagia-dengan-quran/ Solusi Sukses Masa Depan Tue, 08 Apr 2025 14:13:12 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png bahagia dengan quran Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/bahagia-dengan-quran/ 32 32 Bahagia dengan Al-Qur’an: Bunglon Sosial yang Gemar Berolok-Olok https://ummetro.id/bahagia-dengan-al-quran-bunglon-sosial-yang-gemar-berolok-olok/ Fri, 02 Jul 2021 02:06:15 +0000 https://ummetro.id/?p=13371 Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah ber-olok-olok (Al-Baqarah ayat 14) Ayat ini seakan menggambarkan seekor bunglon, hewan yang mampu menyesuaikan diri dalam setiap kondisi dan keadaan,

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Bunglon Sosial yang Gemar Berolok-Olok appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah ber-olok-olok (Al-Baqarah ayat 14)

Ayat ini seakan menggambarkan seekor bunglon, hewan yang mampu menyesuaikan diri dalam setiap kondisi dan keadaan, yang menyesuaikan warna lingkungan dengan warna kulitnya. Penyesuaian ini untuk perlindungan dirinya agar tidak dideteksi oleh musuhnya.

Dalam teori sosial disebut sebagai self-monitoring. Self-monitoring adalah salah satu ciri kepribadian yang menunjukkan bagaimana seseorang mengontrol image dirinya di muka publik terhadap berbagai situasi sosial.Teori ini diperkenalkan oleh Mark Snyder pada tahun 1974. Mereka yang memiliki self-monitoring yang tinggi merupakan Bunglon Sosial di sekitar kita.

Karakter ini seakan menggambarkan karakter manusia, karakter ini bisa bernuansa positif dan juga negatif. Positif ketika bunglonisasi dijadikan sebagai proses dalam adaptasi melakukan perubahan suatu kondisi masyarakat. Dengan menyesuaikan pola komunikasi, pola gerak agar dapat diterima segala informasi dan message yang dibawa. Akan tetapi dapat bernuansa negatif ketika karakter ini untuk mencari keuntungan kepada setiap keadaan. Sehingga manusia karakter ini disebut dengan manusia berwajah dua. Dan karakter inilah yang sangat berbahaya, ketika bertemu orang beriman berkata beriman, ketika bertemu orang kafir dia mengatakan aku adalah kawan kalian.

Bahkan bunglon sosial ini dengan keluwesannya selalu proaktif dalam kehidupan sosial, menawarkan solusi dalam setiap problematika kehidupan, bahkan dia terlihat berkharisma dan memberikan kepercayaan Luar biasa di depan masyarakat. Padahal bunglon sosial adalah orang yang tidak memiliki kemampuan mempertahankan komitmen, dan akan cepat berubah ketika ada kondisi yang membuatnya berubah.

Hidup dalam ketidaksesuaian antara citra publik dan realitas pribadi menjadikan seorang bunglon sosial krisis akan identitas diri nya sendiri. Helena Deutsch, seorang psikoanalis, menyebut bunglon sosial sebagai ‘pribadi semu’, karena kepribadiannya yang berubah-ubah dengan kefasihannya yang menakjubkan begitu ia menangkap isyarat-isyarat dari orang-orang sekitar. Akibatnya, bunglon sosial menjadi sangat rentan dengan masalah-masalah eksternal dan sangat menghawatirkan tanggapan orang lain terhadap dirinya.

Dalam membangun sebuah peradaban, tentu ada manusia yang seperti itu. Sebagaimana awal peradaban Islam banyak orang-orang yang hanya mencari keselamatan dan keuntungan dengan mengaku beriman, tetapi ketika bersama orang kafir mereka berolok-olok. Mereka membawa informasi Islam kepada musuh, dan menjadi mata-mata musuh di dalam tubuh umat Islam.

Dalam realitas perjuangan bangsa Indonesian juga banyak karakter bunglon ini, merekalah yang menjadi pengkhianat bangsa ini, memberikan informasi rahasia perjuangan para pahlawan, sebagaimana kisah pangeran Sudirman.

Hakikatnya manusia berwajah dua ini adalah penuh tipu daya, dan selalu ingin membuat kerusakan. Sehingga dia akan menjadikan informasi kebaikan menjadi olok olokan bersama syetan syetan mereka (kawan keburukan). Mereka menjadikan iman dan segala kebaikan bahan tertawaan dan candaan saja.

Olok-olokan ini disebut istihza, istihza adalah mengolok-olok kebenaran menjadi sebuah candaan, sehingga akan menyimpangkan kebenaran itu sendiri. Akhirnya penyimpangan yang bersifat provokatif ini membuat manusia meninggalkan kebenaran itu sendiri.

Bangsa kita saat ini mengalami penyakit ini, bagaimana ayat Al-Qur’an menjadi olok-olokkan, jilbab menjadi olok-olokkan, haji jadi olok-olokan sebagai pemborosan anggaran, dan masih banyak lagi realitas ini.

Bahkan saat ini akhlak baik menjadi candaan, orang jujur dianggap aneh, orang rajin dianggap sok, orang rajin ibadah dianggap sok ahli surga dan seterusnya. Belum lagi olok-olokkan ilmiah, bagaimana mungkin orang sehat dipasang selang impus, kartun dikunci gembok besi dan seterusnya.

Belum lagi kondisi dunia maya, media sosial yang sangat ringan memprovokasi dengan merendahkan para ulama, para ilmuwan bahkan ajaran agama. Bagaimana nasib negeri ini jika hal ini tidak dihentikan. Hoaks demi hoaks selalu muncul membuat toxic berbahaya bagi hati dan fikiran umat.

Hal ini menjadi tanggung jawab berat bagi insan profetis, karena tugas nabi adalah menghadirkan manusia yang konsisten, bukan orang orang yang berwajah dua. Mereka orang yang istiqamah kepada kebenaran, dan menyebarkan kebenaran.

Insan profetis adalah orang yang tidak pernah mempermainkan kebaikan dan kebenaran, mereka sangat patuh pada kebenaran dan serius menjalankan kebenaran. Mereka adalah insan yang objektif dalam menerima kebenaran, bukan karena sebuah kepentingan tapi karena sebuah keyakinan.

Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Bunglon Sosial yang Gemar Berolok-Olok appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan https://ummetro.id/bahagia-dengan-al-quran-iman-dan-kecerdasan/ Thu, 01 Jul 2021 16:15:43 +0000 https://ummetro.id/?p=13368 Profetik UM Metro – Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti (Al-Baqarah ayat 13). (https://baycities.com) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Waiza qila ” (apabila dikatakan), yakni kepada

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti (Al-Baqarah ayat 13). (https://baycities.com)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Waiza qila ” (apabila dikatakan), yakni kepada orang-orang munafik. Aminu kama amanan nasu, berimanlah kamu sekalian sebagaimana orang-orang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari berbangkit sesudah mati, surga dan neraka serta lain-lainnya yang telah diberitakan oleh Allah kepada orang-orang mukmin. Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dalam mengerjakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.

Qalu anuminu kama amanas sufaha-u; mereka menjawab, “Akankah kami disuruh beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Yang mereka maksudkan dengan “orang-orang yang bodoh” adalah para sahabat Rasul Shalallahu’alaihi Wasallam.

Demikianlah orang-orang yang berpenyakit hati, yang menganggap bahwa keimanan adalah indikasi kebodohan, ketidakcerdasan.

Saat ini kita mengalaminya suatu kondisi bagaimana keimanan sering diidentikkan dengan orang-orang yang tidak rasional, karena mempercayai sebuah keyakinan yang tidak empiris.

Saat ini banyak manusia menjadikan rasionalitas untuk menjadikan dirinya ragu akan iman, ragu akan agama akhirnya melemahnya amal ibadah seseorang, karena cenderung meremehkan iman.

Hakikatnya iman adalah tanda kecerdasan seseorang, karena kecerdasan bukan hanya terkait masalah rasionalitas, tetapi juga spiritualitas.

Teori spiritual Quotien bahwa setiap manusia memiliki titik Ketuhanan (God spot) dalam dirinya, menunjukan bahwa seseorang yang memiliki keimanan adalah kecerdasan sangat luar biasa.

Seseorang yang memiliki keimanan akan menjadikan dirinya orang yang paripurna, karena memiliki kekuatan vertikal ilahiah dan horizontal insaniah. Sedangkan orang yang tidak beriman, walau memiliki kecerdasan intelektual dia akan mengalami kegelisahan sepanjang hidupnya, karena dia akan takut setelah kematiannya.

Sehingga saat ini ada informasi bagaimana ilmu pengetahuan mampu menghidupkan orang mati, ini adalah indikasi ketakutan nasib manusia setelah kematianya.

Bagi orang beriman, mereka akan memiliki ketenangan karena mengetahui apa yang terjadi setelah kematiannya. Rasullullah menyebut mereka sebagai orang super cerdas dengan sabdanya: “Manusia yang paling utama adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Manusia yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang berakal dalam riwayat lain: Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsami)

Sehingga mereka menyiapkan dirinya untuk hari tersebut.

Insan profetis adalah insan yang cerdas intelektual dan cerdas spiritual, karena inti hidup mereka ada pada ruang spiritualnya. Ilmu yang mereka miliki dalam rangka menguatkan sisi spiritualnya, mengenal Tuhannya dan menjadi jalan akhir kehidupannya.

Insan profetis akan bangga dengan keimanan, bukan meremehkannya, walau keimanan itu jauh berbeda dengan rasionalitas dirinya. Karena keimanan diatas rasio manusia.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bahagia dengan Al-Qur’an: Kerusakan dalam Bingkai Slogan Perbaikan https://ummetro.id/bahagia-dengan-al-quran-kerusakan-dalam-bingkai-slogan-perbaikan/ Thu, 01 Jul 2021 15:40:39 +0000 https://ummetro.id/?p=13362 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi:’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’,” (Al-Baqarah ayat 11). Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidu fil ard” artinya janganlah kalian berbuat maksiat

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Kerusakan dalam Bingkai Slogan Perbaikan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi:’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’,” (Al-Baqarah ayat 11).

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidu fil ard” artinya janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka timbulkan disebabkan perbuatan maksiat mereka terhadap Allah.

Karena orang yang durhaka kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan kepada kedurhakaan (kemaksiatan) berarti telah menimbulkan kerusakan di muka bumi, mengingat kebaikan bumi dan langit adalah karena perbuatan taat. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah demikian Ibnu Katsir menyebutkan.

Kerusakan paling besar bukanlah kerusakan lingkungan karena atom atau nuklir, akan tetapi kerusakan paling besar adalah kemaksiatannya yang dilakukan manusia dalam rangka melawan Allah SWT. Karena ketika manusia telah berani melawan Tuhannya maka mereka sudah tidak memiliki hati kepada manusia dan alam semesta, sehingga alam semesta pun akan dirusak dan manusia akan dianiaya.

Bagi orang-orang yang hatinya sakit, mereka tidak pernah merasa berbuat kerusakan, bahkan mereka adalah orang yang lantang dan vokal melakukan perbaikan di dalam kehidupan.

Dalam teori konsistensi kognitif bahwa manusia akan mengalami perubahan ketika terjadi ketidak konsistenan antara informasi dan prilaku, sehingga orang-orang yang berpenyakit hatinya akan memanfaatkan media informasi untuk memblow up seakan mereka sangat konsisten, walau hakikat realitasnya inkonsistensi yang terjadi.

Kemaslahatan atau perbaikan yang mereka lakukan tak sebanding dengan kerusakan yang mereka sebabkan, akan tetapi karena ketidaktahuan umat, mereka dipercaya sebagai pelaku perbaikan.

Teori konsistensi memprediksi bahwa untuk mengatasi ketidakkonsistenan ini, maka orang akan melakukan berbagai macam hal seperti mengubah sikap atau perilaku sebagai bagian dari aspek kognitif agar kembali mencapai konsistensi atau keseimbangan.

Sehingga dalam praktiknya mereka menutup mata dan hati umat dengan uang dan materi yang mereka miliki, sehingga mereka seakan telah melakukan perbaikan dan perjuangan. Sedangkan hakikatnya mereka mengeruk keuntungan lebih bahkan melakukan kerusakan demi kerusakan.

Kerusakan moral umat dan bangsa yang tidak terasa telah menjadikan umat ini jauh dari nilai-nilai Akhlakul Karimah, sehingga saat ini mereka hanya berjalan menggunakan insting dan fikiran mereka tanpa bimbingan agama.

Kerusakan politik juga banyak disebabkan karena pukauan sang pemberi janji yang tidak menepati janjinya, akhirnya mereka lupa pernah mengatakan bahwa mereka ingin melakukan perbaikan, tapi faktanya menjadikan politik sebagai alat kepentingan syahwat.

Kerusakan dunia ekonomi pun sama, betapa banyak teori yang menjadi ideologi para retoris ekonomi bahwa inilah teori yang akan membawa kemajuan ekonomi, tetapi ternyata standar ganda diberlakukan, pencetus teori ekonomipun tak mau menggunakan teorinya, akhirnya keuntungan demi keuntungan mereka yang mendapatkan, sementara umat mengalami kemunduran ekonomi yang sistemik.

Kerusakan pendidikan pun disebabkan banyaknya sistem pendidikan yang semua mengatakan akan membawa kemajuan, tetapi faktanya umat semakin bingung, tujuan pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa, dibekali IPTEKS dan IMTAQ sudah terlalu berat dicapai.

Insan profetis adalah insan pembawa risalah kemaslahatan, bukan kerusakan. Kemaslahatan tertinggi adalah ketaatan kepada Allah SWT. Mereka menjadikan semua profesi mereka sebagai ketaatan kepada Allah SWT, sehingga mereka menjadikan Allah sebagai Zat yang mengawasi segala aktivitasnya.

Insan profetis adalah pembawa perbaikan dan membawa kelestarian alam, karena mereka adalah Khalifah di muka bumi, yang diamanahi untuk mengembangkan alam semesta, menjadikan lingkungan sosial yang baik, ekonomi berkeadilan, dan politik yang penuh Khidmah.

Konsistensi perkataan dan perbuatan adalah kepastian menuju peradaban yang diharapkan oleh kehidupan.

Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I.

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Kerusakan dalam Bingkai Slogan Perbaikan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>