fai Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/fai/ Solusi Sukses Masa Depan Sun, 30 Mar 2025 12:51:33 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png fai Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/fai/ 32 32 Dosen UM Metro dilantik sebagai Pimpinan BAZNAS Kota Metro Periode 2024-2029 https://ummetro.id/dosen-um-metro-dilantik-sebagai-pimpinan-baznas-kota-metro-periode-2024-2029/ Tue, 26 Nov 2024 13:08:47 +0000 https://ummetro.id/?p=151229 Metro, 25 November 2024— Universitas Muhammadiyah Metro dengan bangga menyambut pelantikan Fathur Rohman, S.Th.I., M.SI., salah satu Dosen UM Metro, sebagai Wakil Ketua IV Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Metro periode 2024-2029. Pelantikan ini merupakan wujud nyata kontribusi aktif UM Metro dalam mendukung program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan zakat yang profesional dan

The post Dosen UM Metro dilantik sebagai Pimpinan BAZNAS Kota Metro Periode 2024-2029 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Metro, 25 November 2024— Universitas Muhammadiyah Metro dengan bangga menyambut pelantikan Fathur Rohman, S.Th.I., M.SI., salah satu Dosen UM Metro, sebagai Wakil Ketua IV Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Metro periode 2024-2029. Pelantikan ini merupakan wujud nyata kontribusi aktif UM Metro dalam mendukung program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan zakat yang profesional dan transparan.

Fathur Rohman merupakan Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam di Fakultas Agama Islam Um Metro. Beliau dikenal sebagai sosok berdedikasi di bidang akademik dan sosial, terpilih melalui proses seleksi ketat yang melibatkan berbagai tahapan, mulai dari seleksi administrasi, ujian tertulis, hingga wawancara faktual oleh Komisioner BAZNAS RI. Keberhasilannya menjadi salah satu pimpinan BAZNAS Kota Metro menunjukkan kualitas dan kompetensi yang dimiliki oleh warga UM Metro dalam berkontribusi untuk masyarakat luas.

Pelantikan ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Metro Nomor 733/KPTS/SETDA/02/2024 tentang Pengangkatan Pimpinan BAZNAS Kota Metro Periode 2024-2029. Dalam kepemimpinan BAZNAS yang baru, H. Joko Suroso, S.Ag., ditetapkan sebagai Ketua, didampingi Mujirul Hasan, S.Pd., Nadir Nay, S.E., Anik Karimullah, S.Fil.I., M.Pd., dan Fathur Rohman, S.Th.I., M.SI., sebagai wakil ketua.

Sebagai lembaga yang memiliki misi sosial besar, BAZNAS Kota Metro diharapkan dapat menjalankan tugasnya untuk mendukung pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan Fathur Rohman di dalam kepemimpinan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UM Metro, tetapi juga memperkuat sinergi antara dunia akademik, lembaga sosial, dan pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Dengan bergabungnya Fathur Rohman dalam jajaran pimpinan BAZNAS, UM Metro optimis akan semakin banyak program berbasis pemberdayaan umat yang dapat dijalankan secara efektif. Hal ini sejalan dengan visi UM Metro sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pengembangan intelektual, tetapi juga pada pengabdian kepada masyarakat. Kehadirannya dalam kepemimpinan BAZNAS Kota Metro diyakini akan membawa dampak positif, baik bagi lembaga maupun masyarakat yang menjadi sasaran utama program zakat.

UM Metro berharap kepercayaan ini dapat dijalankan dengan baik oleh Fathur Rohman, sekaligus memberikan inspirasi bagi warga UM Metro lainnya untuk terus berkontribusi dalam berbagai bidang demi kemajuan bersama. Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, UM Metro siap mendukung berbagai upaya yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial di Kota Metro dan sekitarnya.

The post Dosen UM Metro dilantik sebagai Pimpinan BAZNAS Kota Metro Periode 2024-2029 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Mahasiswa PAI UM Metro Raih Juara 1 Sirkuit Tenis Tunggal Putri 2021 https://ummetro.id/mahasiswa-pai-um-metro-raih-juara-1-sirkuit-tenis-tunggal-putri-2021/ Mon, 08 Nov 2021 09:03:59 +0000 https://ummetro.id/?p=14024 UM Metro – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Metro, Nyimas Aulia berhasil meraih juara 1 dalam ajang Sirkuit Tenis Junior Lampung seri 2, kriteria usia 18 tahun, di Lampung Selatan, Ahad (24/10/21). Nyimas menyatakan untuk meraih juara 1 tersebut, latihan keras dilakukan hampir 15 jam dalam

The post Mahasiswa PAI UM Metro Raih Juara 1 Sirkuit Tenis Tunggal Putri 2021 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
UM Metro – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Metro, Nyimas Aulia berhasil meraih juara 1 dalam ajang Sirkuit Tenis Junior Lampung seri 2, kriteria usia 18 tahun, di Lampung Selatan, Ahad (24/10/21).

Nyimas menyatakan untuk meraih juara 1 tersebut, latihan keras dilakukan hampir 15 jam dalam satu pekan.

“Untuk pencapaian yang kemarin, saya banyak melakukan kegiatan fisik agar menambah daya tahan tubuh saya. Saya melakukan latihan pukulan tennis lapangan seminggu hampir 15 jam secara terpisah waktunya,” kata Nyimas.

Lebih lanjut, Nyimas menyampaikan pencapaian yang diraih akan dipertahankan dengan latihan fisik dan mental secara lebih baik lagi.

“Prospek ke depan saya, saya harus lebih lebih giat dalam berlatih fisik maupun mental. Menjaga kesehatan dan berlatih lebih untuk bisa mempertahankan pencapaian seperti kemarin, menjaga pola makan dan pola tidur agar tetap sehat,” tambah Nyimas.

Terakhir, Nyimas sangat mensyukuri keberhasilannya yang tidak terlepas dari dukungan semua pihak disekitarnya.

“Saya sangat bersyukur kepada Allah dan keluarga saya yang selalu mendukung saya dalam keadaan apapun terkhusus untuk ayah saya yang tak pernah bosan memberikan banyak latihan kepada saya, tetapi tetap tidak membuat besar hati saya atas pencapaian saya yang kemarin. Saya akan terus berjuang karna pencapaian kemarin bukan akhir dari segala nya,” tutup mahasiswa PAI tersebut.

The post Mahasiswa PAI UM Metro Raih Juara 1 Sirkuit Tenis Tunggal Putri 2021 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Membangun Komunitas Rukuk https://ummetro.id/membangun-komunitas-rukuk/ Thu, 12 Aug 2021 10:25:36 +0000 https://ummetro.id/?p=13538 Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.(Al Baqarah ayat 43) Kurang lebih 100 ayat yang mengajak manusia untuk mengaktifkan akal fikiranya dengan berbagai metode berfikir, baik tafakur (berfikir terhadap alam semesta)_tadabbur (merenungi ayat Allah), _ta’aqqul (berfikir dalam objek sosial) dan _tadzakkur (berfikir untuk mengingat Allah)

The post Membangun Komunitas Rukuk appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.(Al Baqarah ayat 43)

Kurang lebih 100 ayat yang mengajak manusia untuk mengaktifkan akal fikiranya dengan berbagai metode berfikir, baik tafakur (berfikir terhadap alam semesta)_tadabbur (merenungi ayat Allah), _ta’aqqul (berfikir dalam objek sosial) dan _tadzakkur (berfikir untuk mengingat Allah) sehingga akal kita akan selalu tergerak untuk terus memikirkan ayat-ayat Allah SWT baik yang tersurat maupun tersirat.

Hari ini kita akan memikirkan surat Al Baqarah ayat 43, yang memerintahkan mendirikan sholat, menunaikan zakat dan rujuk bersama orang-orang yang Rukuk.

Ayat sebelumnya membahas bagaimana perilaku orang-orang yang senang melakukan talbis (pencampur adukan) antara hak dan batil, serta senang menyembunyikan kebenaran demi kepentingan duniawi mereka.

Ayat 43 adalah menjadi antitesa bagi ayat sebelumnya, yang menggambarkan bagaimana karakter orang yang beriman, yang konsisten dalam sholat dan zakat, konsisten membangun nilai spiritual dan nilai sosial, serta membangun komunitas positif.

Tiga karakter itu adalah karakter yang sangat luar biasa untuk kebangkitan sebuah peradaban dan kemajuannya. Yang berkontra produktif dengan orang yang mencari keuntungan dengan cara-cara yang culas.

Yang pertama, menegakkan nilai sholat

Aqiimussholah kata Aqim artinya adalah tegakan atau dirikan. Menegakan artinya bukan sekedar melaksanakan, akan tetapi menegakan segala aspek nilai sholat, baik rukun, wajib, Sunnah sholat, serta semua nilai filosofis yang terkandung dalam sholat.

Insan profetis akan menjadikan sholat sebagai kebutuhan, karena ini adalah nutrisi hati, karena para ulama mengatakan disinilah posisi kita paling dekat dengan Allah SWT, dan disinilah kita akan berdialog dengan Allah SWT.

Dengan sholat hati akan mengalami ketenangan paripurna, karena sujud adalah kondisi di mana seorang hamba sangat dekat dengan Allah SWT, seorang hamba sangat bahagia karena dia tidak ada rasa berat ketika semua sudah ditundukkan di hadapan Allah SWT.

Sehingga Sayid Qutub dalam tafsir fi dzilal Qur’an, menyebutkan bahwa sholat adalah hubungan hamba yang lemah kepada Zat Yang Maha Kuasa, Allah berikan waktu 24 jam untuk ibadah, selama itulah manusia tunduk dan patuh kepada Nya. Akan tetapi Allah SWT memberikan waktu tertentu untuk khusus mendekatkan diri dengan sengaja, dengan cara yang ditetapkan. Disitulah Manusia mengadu, memohon dan mencurahkan masalahnya kepada Allah SWT, sehingga manusia mengalami ketenangan.

Shalat merupakan waktu pilihan saat pelimpahan karunia dan kecintaan yang menetes dari sumber yang tak kunjung kering. Di sisi lain, shalat menjadi kunci kekayaan yang melimpah dan amat banyak bagi pelaksana-nya. Shalat juga termasuk titik tolak dari dunia yang kecil dan terbatas. Ia bagaikan ruh, salju dan naungan pada saat jiwa sedang panas. Shalat merupakan sentuhan kasih sayang terhadap hati yang letih. Karena itulah, ketika Nabi Muhammad saw tengah mengalami berbagai kesulitan dan persoalan, beliau segera melakukan shalat.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. (QS al-Baqarah: 45) ayat ini adalah bukti bahwa sholat adalah kekuatan, sholat adalah solusi, sehingga menegakkan sholat menjadi keharusan.

Menegakan sholat bukan hanya berlaku pada wilayah rukun syaratnya, akan tetapi lebih dalam dari itu adalah nilai-nilai sholat yang sangat luar biasa.

Bagaimana nilai takbir hadir dalam diri hamba, ketika mengakui kebesaran hanya milik Allah SWT, sehingga dia tidak akan merasa sombong dalam dirinya, walau jabatan, harta dan pengetahuan berpihak pada dirinya. .

Menegakan nilai khusyu’, hanya tunduk patuh kepada Allah SWT, takut hanya kepada Allah SWT, sehingga dia hanya fokus pada apa yang Allah kehendaki dalam kehidupan. Dia tidak pernah menengok kepada sesuatu yang melanggar kehendak Allah SWT dalam Al Qur’an.

Dia menegakan kedisiplinan dalam kehidupan, sebagaimana sholat yang ditetapkan waktunya, siapa yang disiplin maka Allah SWT akan memberikan karunia-Nya sesuai kedisiplinannya.

Intinya bagi mereka yang berakal akan mampu menegakan nilai sholat ini dengan istiqamah, karena tanpa menegakkan nilai-nilai sholat, maka sholat hanya menjadi rutinitas ritual, yang menggugurkan kewajiban. Belum menyentuh ruang kehidupan yang diharapkan Allah SWT.

Sholat adalah simbol peradaban ritus tertinggi, kekuatan spiritual tertinggi orang beriman, ketika mampu menjadikan sholat sebagai jalan pertolongan.

Kedua, menunaikan zakat, spirit keadilan sosial

Jika sholat dengan kata menegakan, maka zakat menggunakan kata menunaikan, yang dalam bahasa Arab atuu azzakah makna asli atuu adalah datangkan lah, artinya zakat itu mendatangi yang berhak. Karena memang mendatangi adalah bentuk kesadaran dan keikhlasan. Walau orang yang butuh, tetapi kita yang mendatanginya. Bukan seperti tradisi hari ini, yang meminta orang yang menerima datang, seakan kita dibutuhkan, sedangkan hakikatnya zakat adalah kebutuhan orang yang kaya, orang yang mampu, agar hartanya bersih dan Allah akan lipat gandakan rezekinya. Sehingga jangan sekali-kali kita berfikir bahwa zakat itu memberikan kepada orang yang butuh, tetapi kitalah yang butuh kepada para mustahiq, sehingga kita hendaknya mendatanginya. Disinilah spirit indah yang harus dihadirkan, untuk membangun keadilan dan kesejahteraan, bukan membangun sikap miskin, sikap merasa dikasihani dan sebagainya.

Hal ini hendaknya dilakukan oleh lembaga zakat agar mendatangi langsung Mustahik demi menjaga nilai kemanusiaan, bukan mereka dikumpulkan dengan dinampakan kepapaan mereka, sungguh jauh dari nilai keadilan. Spirit zakat adalah nilai sosial berkeadilan, sosial adalah bagaimana terjadi pemerataan nilai-nilai kebaikan dari orang kaya kepada ornag yang kekurangan, serta terbangunnya nilai keadilan dan kesejahteraan, sehingga orang yang miskin mampu memperbaiki kehidupan nya

Yang ketiga, bangun komunitas sujud

Tugas terberat dalam ayat ini adalah membangun komunitas sujud. Karena siapapun yang sudah sholat dan zakat, jika mereka tidak memiliki lingkungan positif, lingkungan sujud sungguh akan tergeser prilaku mereka.

Rukuklah bersama orang-orang yang Rukuk, adalah perintah untuk berjamaah dalam aktivitas ibadah. Rukuk disimbolkan sebagai aktivitas ibadah, sehingga ketika seseorang memikiki komunitas baik, maka akan terpengaruh diri kita pada kebaikan.

Mengapa ruku’? Karena rukuk adalah simbol satu rekaat, artinya sholat dianggap lengkap satu rekaat dilihat dalam rukunya. Sehingga siapapun yang mendapatkan Rukuk maka dia mendapatkan satu rekaat  sholat sempurna.

Komunitas Rukuk hendaknya dihadirkan untuk menjaga diri dan keluarga kita. Sebagaimana Rasulullah pesankan bahwa jika bergaul dengan orang baik maka dirinya akan menjadi baik pula, dan sebaliknya. Hal ini harus menjadi fokus insan profetis, menghadirkan komunitas Rukuk dan sujud. Dengan komunitas inilah nantinya Allah SWT akan berkahi. Pengaruh positif Rukuk dan sujud akan banyak mempengaruhi prilaku anak-anak, mereka akan terbimbing untuk jauh dari perbuatan keji dan mungkar.

Menjadi keharusan insan profetis menghadirkan suasana dan komunitas Rukuk dalam kehidupan akademik, kehidupan politik, kehidupan masyarakat. Karena dengan komunitas ini akan mampu menyelamatkan bangsa ini, dari komunitas yang lebih besar yang tidak mengenal tempat rukuk dan sujud. (https://hingwala.com/)

Series Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Membangun Komunitas Rukuk appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bahaya Pencampur Adukan Kebenara dan Kebatilan https://ummetro.id/bahaya-pencampur-adukan-kebenara-dan-kebatilan/ Tue, 10 Aug 2021 09:31:53 +0000 https://ummetro.id/?p=13519 Profetik UM Metro – Allah SWT Berfirman: “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. (Zolpidem) Padahal kalian menyadarinya,” (Surat Al-Baqarah ayat 42). Kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika hatinya mampu menerima segala yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah

The post Bahaya Pencampur Adukan Kebenara dan Kebatilan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM MetroAllah SWT Berfirman: “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. (Zolpidem) Padahal kalian menyadarinya,” (Surat Al-Baqarah ayat 42).

Kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika hatinya mampu menerima segala yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An-Nur [24]: 51-52).  Juga dalam ayat yang lain “Dan apa yang diberikan Rasulullah SAW  kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr: 7).

Demikianlah seharusnya orang mukmin ketika al Qur’an di hadapanya maka dia memperlakukan dirinya seperti gelas kosong yang siap diisi oleh Allah SWT, apapun isinya, karena seorang mukmin sangat yakin Allah SWT akan mengisi gelas (hati) yang kosong tersebut dengan curahan air kebaikan, walaupun serasa pahit. Bisa saja Allah swt mengisi dengan air susu yang nikmat, madu bahkan kopi manis, yang semua mukmin akan merasakan kenikmatan langsung. Akan tetapi bisa jadi Allah SWT mengisi gelas mukmin dengan jamu yang sangat pahit, yang mana tidak semua mukmin mampu meminumnya, akan tetapi Allah SWT menjadikan jamu untuk mengobati penyakit yang ada pada diri mukmin tersebut, sehingga esok harinya dirinya akan sehat dan bugar.

Akan tetapi betapa banyak hari ini orang yang ragu akan hal ini, mereka hanya siap ketika menerima kenikmatan tetapi ragu bahkan tidak terima dengan pahitnya kehidupan. Banyak syariat Allah SWT yang logik mudah diterima manusia, dan mudah dilaksanakan, akan tetapi betapa banyak syariat Allah SWT sebagai ujian yang diragukan bahkan ditolak oleh manusia.

Penolakan akan syariat dengan berbagai dalih, salah satunya adalah dalih keilmiahan. Dalih keilmiahan sering menjadi justifikasi atau pembenaran akan konsep seseorang, yang kadang mengkaburkan ajaran syariat itu sendiri, dia melakukan proses talbis (pencampur adukan) antara teori manusia yang memperkosa konsep kebenaran mutlak al-Qur’an dan sunnah. Dan pola ini sangatlah berbahaya.

Surat al baqarah ayat 42 ada dua karakter manusia yang menolak ajaran kebenaran, tetapi tidak dengan terang-terangan, mereka menggunakan dua pola yang seakan dianggap baik dan ilmiah: yang pertama, pola talbis ( cammpur aduk kebenaran dan kebatilan)  dan yang kedua, Menyembunyikan kebenaran yang diketahui (kitman al haq).

Yang pertama, Campur aduk Kebenaran dan Kebatilan (talbis al haq wa al bathil)

Allah swt berfirman: “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Ayat ini adalah larangan untuk mencampur adukan kebenaran dan kebatilan. Kata larangan (al-nahyu) dalam kaidah ushul fiqih adalah keharaman, karena asal dari larangan adalah haram. Ayat ini jelas menunjukan keharaman melakukan pencampur adukan kebenaran dengan kebatilan, karena akan menyebabkan ketidak jelasan kebenaran itu sendiri. Ini adalah pola tasybih (membuat syubhat) sebuah konsep kebenaran, tasywih (membuat samar kebenaran) dan talfiq al batil (pencampuran yang batil).

Saat ini diakui trend pengkajian pola integrasi keilmuan, yang memadukan agama dengan keilmuan umum, agar umat Islam mampu berfikir secara universal. Hal ini adalah sebuah keharusan, karena semua ilmu diyakinin datang dari Allah SWT, tetapi pola integrasi adalah untuk menguatkan keilmuan itu sendiri, membangun keyakinan dan menjalankan perintah Allah SWT dan mengetahui hikmah dari sebuah pelarangan.

Berbeda dengan pola talbis ini, karena ini mencoba memperkosa kebenaran dengan segala nilai yang bertentangan dengan kebenaran.

Imam Jalaluddin dalam Kitab Tafsirul Jalalain mengatakan, kata “al-haqq” atau kebenaran pada Surat Al-Baqarah ayat 42 adalah kitab suci yang diturunkan kepada Ahli Kitab. Sedangkan kebatilan pada Surat Al-Baqarah ayat 42 adalah keterangan dusta yang mereka ada-adakan. Sementara kebenaran yang mereka sembunyikan adalah sifat Nabi Muhammad SAW.

Imam Al-Baidhawi dalam Kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil mengatakan, kata “talbisū” atau mencampur adalah tindakan membuat sesuatu menjadi mirip dengan yang lain. Dengan demikian, makna Surat Al-Baqarah ayat 42 adalah, “Jangan kalian mencampur kebenaran yang diturunkan kepada kalian dengan kebatilan yang kalian rekayasa dan menyembunyikan kebenaran tersebut sehingga keduanya tidak dapat dibedakan.”

Pencampur adukan ini sering terjadi dalam konteks kehidupan, berdalih toleransi maka harus melunturkan prinsip keyakinan, misal harus bersama merayakan hari raya. Bahkan muncul banyak pemahaman yang terkait kesatuan agama (wihdatul adyan) sehingga tidak nampak prinsip dan cabang dalam sebuah agama. Akhirnya efek dari pencampur adukan ini menyebabkan kerusakan faham beragama, terutama agama Islam.

Pencampur adukan biasa dilakukan oleh para ilmuwan yang berpaham pluralisme. Hakikatnya penulis tidak menolak pluralitas (perbedaan agama) akan tetapi memahami semua agama adalah sama, mengakibatkan sebuah masalah besar, karena umat tidak akan mampu memahami mana agama yang dianggap benar. Paham pluaralisme sangat berbeda dengan paham pengakuan akan pluralitas beragama, karena Islam sendiri menerima pluralitas agama, sebagaimana Allah SWT berfirman: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (al maidah 48)

Namun, Islam menolak pluralisme. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan pernah mengeluarkan fatwa terkait ini, sebagaimana termuat dalam surat nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005. Di sana, MUI menilai pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama bertentangan dengan Islam.

Pluralisme didefinisikannya sebagai paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan, karena itu, tiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim agamanya saja yang benar sedangkan agama lainnya salah. Adapun liberalisme agama dimaknai MUI sebagai paham yang hanya menerima doktrin agama yang sesuai kebebasan akal pikiran saja. Kemudian, sekularisme agama sebagai paham yang ingin agar agama hanya mengatur soal hablu minaallah, sedangkan habluminannas mesti diatur via konvensi sosial. Dalam masalah akidah dan ibadah, demikian fatwa MUI, umat Islam wajib bersikap eksklusif. Namun, di saat yang sama, sifat eksklusif demikian tidak menghalangi orang Islam untuk berinteraksi secara wajar dengan umat agama lain.

Hakikatnya secara eksplisit pencampur adukan ini tidak nampak, akan tetapi bagi mereka yang memiliki dasar dan prinsip beragama yang kuat akan memahami hal ini. Banyak kajian-kajian ilmiah yang secara dzohir sangat bagus, sistematis dan logis, akan tetapi menggiring umat untuk tidak memiliki prinspi beragama sama sekali, akhirnya sisipan-sisipan kebatilan berkedok keilmiahan dan riset yang secara metodologis benar itu, diakui oleh umat dan dunia.

Yang kedua, menyembunyikan kebenaran dan ilmu (kitman al haq)

Larang Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 42 adalah menyembunyikan kebenaran. Hakikatnya hal ini terjadi pada orang-orang yahudi yang menyembunyikan kebenaran kerasulan nabi Muhammad saw oleh para rahib mereka, bahkan mereka merubah ayat atau menghapusnya. Sehingga umat benar-benar tersesat dengan keinginan dan nafsu para Rahib mereka.

Hakikatnya penyakit ini juga banyak terjadi pada kalangan ilmuwan muslim, yang mereka menyembunyikan ayat Allah SWT yang tidak sesuai dengan nalar berfikir mereka, karena mereka lebih mengedepankan logika mereka. Bahkan kadang mereka asyik dengan mengambil sebagian yang mereka sukai, dan meninggalkan ayat yang mereka sendiri ragu dan berat melakukan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami ingkar terhadap (sebagian yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan,” (QS. An-Nisa: 150-151).

Begitu indah ayat al-Qur’an, dengan ungkapan dalih mencari jalan tengah akan tetapi harus menyembunyikan kebenaran. Banyak sekali ayat al Qur’an disembunyikan baik sengaja maupun tidak sengaja, misal ayat tentang jihad harus ditafsiri dengan tafsir yang menghilangkan makna hakikinya, bahkan sangat jarang sekali mendapatkan porsi pembahasan. Ayat dalam keluarga misal poligami, selalu diragukan dengan dalih keadilan, akhirnya mayoritas umat ragu dan dianggap tidak baik. Ayat tentang warisan, yang seakan tidak adil mendapatkan sorotan tajam dalam konteks keadilan dan kesetaraan. Dan masih banyak lagi ayat yang tidak mendapatkan perhatian, dengan berbagai macam cara untuk mendistorsi ayat tersebut.

Seharusnya orang beriman menjadikan hati untuk mengimani, kemudian iman melakukan dorongan (drive) kepada akal untuk mengungkap makna (hikmah) dan melakukan relation of understanding sehingga menghadirkan pemahaman yang baik. Tentu ini adalah kerja akademis yang tidak mudah, sehingga membutuhkan kemampuan ilmu dan iman yang totalitas.

Insan profetis hendaknya meninggalkan dua larangan ini, karena ini sangat bahaya bagi umat, terkecuali karena ketidak tahuanya. Akan tetapi ketika ada kesengajaan mencampur adukan karena sebuah proyek akademik, atau menyembunyikan dengan berbagai dalih, karena ketidak cocokan atau keraguan, maka sungguh Allah SWT akan tusuk mereka dengan api neraka sebagaimana hadits nabi: Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang hafal suatu ilmu, namun dia menyembunyikannya, kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat dengan keadaan dikekang dengan tali kekang dari neraka” [HR. Ibnu Majah, no. 261; Syaikh al-Albani menyatakan tentang hadits ini ‘Hasan Shahîh).

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahaya Pencampur Adukan Kebenara dan Kebatilan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Jangan Lacurkan Kitab Suci https://ummetro.id/jangan-lacurkan-kitab-suci/ Tue, 10 Aug 2021 09:27:32 +0000 https://ummetro.id/?p=13516 Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian (Taurat) dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa.(Al Baqarah ayat 41) Ketika kita menikmati

The post Jangan Lacurkan Kitab Suci appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah berfirman: Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian (Taurat) dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa.(Al Baqarah ayat 41)

Ketika kita menikmati suguhan Al Qur’an dengan berbagai metodenya maka yang harus kita rasakan adalah bagaimana kita sedang berhadapan dengan Allah SWT.

Dalam ayat di atas Allah SWT menggunakan metode imperatif dalam menggugah ruh manusia, karena metode ini lebih tegas dan lugas, penuh konsekuensinya.

Kalimat imperatif merupakan kalimat yang berisi perintah terhadap sesuatu. Pemberian perintah ini bisa berupa lisan maupun secara tertulis.

Secara umum, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, imperatif bersifat memerintah atau memberi komando; mempunyai hak memberi komando; bersifat mengharuskan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya, yaitu melalui firman-Nya:

{وَآمِنُوا بِمَا أَنزلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ}

Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian (Taurat). (Al-Baqarah: 41)

Yang menunjukkan imperatif adalah aaminu perintah beriman kepada apa yang Allah SWT turunkan yaitu Al Qur’an sebagai pembenaran akan taurat.

Ada hal yang menarik dalam kalimat anzaltu (Aku turunkan). Mengapa? Karena secara dominan, Allah SWT sering menggunakan domir jamak (kata ganti plural ) ketika berbicara tentang sifat rububiyah Nya, misal anzalna, arsalna, dan lain sebagainya. Tetapi pada konteks ini Allah menggunakan kata anzaltu yang biasanya domir tunggal digunakan pada sifat uluhiyah Nya.

Saya menikmati bahasa Al Qur’an ini, karena dengan menyebut kata ganti singular atau mufrad Allah seakan menegaskan bahwa Al Qur’an itu mutlak dari Allah, tidak ada karya manusia sedikit pun. Sehingga dia adalah pembenar dari taurat yang diyakini oleh Yahudi Bani Israil. Karena memang Yahudi begitu antipati dengan Nabi Muhammad Saw.

Demikianlah indahnya Al Qur’an, setiap kata memiliki makna yang tersembunyi, bahkan penggunaan kata ganti, misal dalam surat Yusuf ayat 30;

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِى ٱلْمَدِينَةِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفْسِهِۦ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”.

Ayat ini salah satu yang menarik, ketika Allah menggunakan kata ganti laki-laki pada subjek perempuan, wa qala niswatun seharusnya wa qalat niswatun  hal ini menggambarkan bahwa wanita di zaman nabi Yusuf itu sudah seperti laki-laki, karena lebih berani mengejar lelaki dari pada rasa malunya, seharusnya lelaki yang mengejar perempuan.

Sehingga bagi para insan profetis harus banyak memahami ketika ingin menggunakan bahasa Arab, jangan sampai salah kata ganti karena juga bisa bermakna beda. Misal syafakallah untuk lelaki, syafakillah untuk perempuan.

Demikianlah indahnya bahasa Arab, surat Al Baqarah 41 ini menegaskan untuk mengimani Al Qur’an yang menjadi pembenar taurat.

Perintah ini mutlak, karena setelah Al Qur’an turun maka Al Qur’an menjadi risalah baru penyempurna yang harus diikuti oleh semua manusia. Sehingga Allah SWT mengatakan, _

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ}

Dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. (Al-Baqarah: 41)

Adapun mengenai firman-Nya, “Awwala kafirin bihi,” artinya orang pertama yang kafir kepadanya dari kalangan Bani Israil, mengingat banyak orang yang kafir kepadanya lebih dahulu daripada mereka, yaitu dari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang Arab.

Sesungguhnya makna yang dimaksud dari kalimat ‘hanya kaum Bani Israil sebagai orang pertama kafir kepadanya’, mengingat orang-orang Yahudi Madinah merupakan orang pertama dari kalangan Bani Israil yang diajak berbicara oleh Al-Qur’an. Kekafiran mereka berarti menyimpulkan bahwa mereka adalah orang pertama kafir kepadanya dari kalangan ahli kitab.

Dalam logika, seharusnya orang Yahudi adalah yang paling pertama masuk Islam, karena dalam taurat sudah nampak alamat kenabian, akan tetapi fakta berbeda ketika Al Qur’an turun, mereka adalah kaum yang mendustakan dan kafir pertama kalinya, sedangkan yang belum pernah mendapatkan kitab suci mereka mengimani.

Inilah penyakit fitnah ilmu, merasa mengetahui dan merasa memiliki ilmu, kadang lebih sulit menerima pengetahuan baru dari orang lain, bahkan menentang tetapi tidak membuka hati dan fikiran untuk mencerna.

Kekafiran mereka adalah bukan karena kebodohannya, tetapi karena kesombongan mereka, mereke memahami bahwa Al-Qur’an itu benar, Muhammad adalah benar, tetapi mereka ingkari.

Kemudian penyakit orang Yahudi adalah menjual ayat Allah dengan murah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا}

Dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (Al-Baqarah: 41)

Sasaran utama ketika ayat ini diturunkan adalah sebagai peringatan untuk para pembesar yahudi, seperti Huyai bin Akhtab, Ka’ab al-Asyraf, atau pemuka yahudi lainnya. Sebelum islam datang, para pemuka yahudi mendapatkan upeti dan uang sogokan dari masyarakatnya. Setiap kali mereka mengeluarkan fatwa atau membacakan taurat, atau melakukan ritual yahudi, mereka diberi bayaran oleh masyarakat.

Banyak masyarakat sekitar Madinah, baik yahudi maupun orang musyrik, yang menjadi korban mereka.

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tiba di madinah, mereka khawatir, jika nanti sampai banyak masyarakat Madinah, terutama yang yahudi masuk islam, maka mereka tidak lagi mendapatkan uang upeti, sogok atau minimal pemasukan mereka akan berkurang.

Karena alasan ini, mereka berusaha menghalangi masyarakat Madinah, terutama masyarakat yahudi, agar tidak mengikuti dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. padahal mereka tahu dengan yakin, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir seperti yang disebutkan dalam taurat

Ibnu Katsir menyatakan, Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Prilaku melacurkan ayat Allah yang dilakukan oleh Yahudi demi kepentingan dunia ini kadang juga terjadi, bagi para ulama yang mereka menginginkan kekuasaan, harta dan apapun itu yang terkait dunia, sering membuat fatwa yang menguatkan posisi mereka, mendukung penguasa untuk mendapatkan keuntungan.

Hal ini harus dihindari oleh para ulama yang memahami agama, agar tidak terjerumus kedalam pelacuran ayat ini.

Ayat ini tidak menjadi dasar bagi mereka yang mendapatkan honor mengajar membaca Al Qur’an, tetapi lebih kepada keculasan hati dan fikiran, dengan sengaja mencari keuntungan dengan berlindung pada ayat ayat Allah SWT.

Insan profetis harus menghindari diri dari sifat lacur ini, sampaikan ayat Allah SWT sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Qur’an, sampaikan Sunnah Rasul sebagaimana rasul ajarkan, jangan diubah-ubah demi kepentingan pribadi yang tak akan ada habisnya. Hancurnya dunia, salah satunya Krena banyaknya ulama suu’ dan ilmuwan yang lacur akan kebenaran ilmunya, semua ditutup demi kepentingan duniawi.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Jangan Lacurkan Kitab Suci appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Kausalitas dalam Janji Allah SWT https://ummetro.id/kausalitas-dalam-janji-allah-swt/ Tue, 10 Aug 2021 09:24:29 +0000 https://ummetro.id/?p=13513 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian; dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).(Al Baqarah ayat 40) Surat Al Baqarah ayat 40 ini sangat mengaktifkan logika hamba, karena syarat metodologis. Jika direnungkan

The post Kausalitas dalam Janji Allah SWT appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian; dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).(Al Baqarah ayat 40)

Surat Al Baqarah ayat 40 ini sangat mengaktifkan logika hamba, karena syarat metodologis. Jika direnungkan dan ditadabburi, maka ayat ini mengandung metode berpikir.

Banyak yang menyangsikan Al Qur’an sebagai kitab acuan ilmiah, dan Hanya meyakini sebagai otoritas doktriner, yang jauh dari pengakuan ilmiah. Tetapi dengan melihat ayat ini, kita akan melihat bagaimana Allah SWT menyampaikan kalam Nya dengan sebuah metode berfikir kausalitas (causality thinking).

Konsep berpikir kausalitas bisa juga disebut dengan berfikir secara kronologis. Kausalitas ini menyangkut hubungan sebab akibat antara dua atau lebih peristiwa. Secara umum pengetahuan tentang hubungan sebab akibat sangat penting dalam mempelajari sejarah terutama untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu peristiwa itu terjadi.

Teori kausalitas terdiri dari monokausalitas yang berhubungan dengan sebab akibat yang pertama kali muncul dalam ilmu sejarah. Sedangkan multikausalitas didefinisikan sebagai penjelasan suatu peristiwa dengan memperhatikan berbagai penyebab.

Metode ini sering sekali Allah SWT gunakan dalam membangun keyakinan hamba Nya,   karena lebih mudah memahami dan menyadarkan logika.

Sebagimana dalam ayat di atas, ada dua sebab dalam satu akibat. Dua sebab itu adalah mengingat Allah SWT dan memenuhi janji. Lalu akibatnya adalah pemenuhan janji Allah SWT.

Agar lebih mudah memahami saya akan bahas secara detail;

Yang pertama, objek Kalam adalah Bani Israil

Dalam ayat tersebut Allah SWT memanggil Bani Israil, yaitu keturunan Israel. Israel adalah Nabi Ya’kub, as sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Imam Abu Dawud:

telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Bahram, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut: Segolongan orang-orang Yahudi datang menghadap kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepada mereka, “Tahukah kalian bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab, “Ya Allah, memang benar.” Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Ya Allah, saksikanlah.”

Sehingga dalam pendekatan hukum, mencela Israel dilarang, karena itu adalah Nama Nabi Ya’kub as. Yang tepat adalah Bani Israil, karena yang sering berbuat tidak baik adalah Bani Israil.

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya _‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (Simak Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf untuk surat Al Baqarah ayat 40)

Sehingga dengan konflik Palestina dan zionis saat ini kadang kita latah dan salah sebut, maka dengan kajian ini kita akan menempatkan posisi dengan benar, bahwa yang terlaknat adalah zionis Yahudi, bukan Israel.

Mengapa ayat ini objeknya adalah Bani Israil? Karena Bani Israil adalah bangsa yang paling sering lupa dan ingkar janji. Bahkan banyak sekali kesalahan mereka, misal membunuh para nabi, menganggap Allah punya anak perempuan dari malaikat, melanggar hari sabat, dan sering melakukan kerusakan.

Akan tetapi dalam pendekatan tafsir, ayat ini bukan hanya untuk Bani Israil, akan tetapi siapapun yang membaca ayat ini sebagai objek Kalam.

Karena sifat atau karakter Bani Israil bisa jadi menjangkiti manusia, bahkan orang beriman.

Sehingga ayat ini menjadi pelajaran berharga dalam diri orang-orang beriman. Agar menjauhi Sifat buruk Bani Israil.

Yang kedua, Mengingat Allah dan Memenuhi Janji sebagai sebab

Ada masalah Bani Israil adalah mengingat Allah SWT, mereka paling sulit untuk mengingat segala nikmat Allah SWT, misal ketika diberikan keleluasaan rezeki ikan, tetapi jangan sesekali mencari ikan dihari sabat, mereka malah melanggar. Ketika meminta rezeki, Allah karuniai Manna, Salwa, tetapi mereka tidak bersyukur dan minta lebih, bahkan mereka ketika diselamatkan dari kejaran Fir’aun, terlena dengan Samiri.

Dan masih banyak lagi, sampai saat ini mereka tetap kuat sifat ini, bagaimana Yahudi ketika di usir oleh Hitler, diberikan tempat oleh warga Palestina, tetapi mereka lupa dengan kebaikan Palestina, dan merebut Palestina dengan tanpa hak.

Seperti itulah karakter Yahudi Bani Israil, yang sangat buruk, kurang mau bersyukur. Hal ini juga dapat menggejala bagi diri manusia, yang Allah SWT telah karuniakan baginya Nikmat tetapi melupakan, seakan dirinya yang memiliki nikmat itu.

Bagaimana Allah SWT karuniai bangsa ini kemerdekaan, tetapi bagaimana sikap bangsa ini saat ini. Ketidak ingatan para elitis yang melakukan Mega korupsi, mengorbankan rakyat dan sebagainya, menunjukkan mereka tidak ingat akan perjuangan bangsa.

Mengingat nikmat adalah bentuk syukur seorang hamba, ini adalah sebab yang Allah SWT berikan, untuk mendapatkan janji Allah SWT.

Jika sebab ini tidak dilakukan maka secara hukum normalitas sangat sulit bagi manusia mendapatkan janji Allah SWT.

Sebagaimana Allah sampaikan, jika kalian bersyukur maka sungguh Aku akan tambah nikmat ku kepada mu.

Mungkin banyak yang mempertanyakan mengapa orang Yahudi yang notabene nya tidak bersyukur, kekayaannya selalu bertambah, bahkan mohon maaf, kondisi saat ini dengan covid 19 ini yang masiv dengan gerakan vaksin, CEO vaksin adalah orang-orang Yahudi.

Janji Allah untuk menambah nikmat bukan bersifat materi saja, bahkan bisa saja tidak sama sekali dengan materi, tetap adalah nikmat iman, nikmat hidayah, dan nikmat ketenangan. Akan tetapi dengan kehendak Nya Allah sangat mungkin memberikan keluasan rezeki materi kepada siapa yang bersyukur.

Seorang mukmin wabilkhusus insan profetis hendaknya mengambil sebab syukur ini, untuk mendapatkan janji Allah SWT.

Perintah Allah untuk memenuhi janji juga diperintahkan kepada manusia, karena terlalu banyak manusia lupa akan janji yang telah dibuat, sebagaimana Bani Israil lupa akan janji yang mereka buat kepada Allah SWT.

Janji itu sebagaimana dalam Al Qur’an:

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku beserta kalian, sesungguhnya jika kalian mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosa kalian. Dan sesungguhnya kalian akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. (Al-Maidah: 12)

Sedangkan ulama mengatakan, janji tersebut adalah yang diambil oleh Allah atas diri mereka di dalam kitab Taurat, bahwa Allah kelak akan mengutus seorang nabi yang besar dan ditaati oleh semua bangsa dari kalangan Bani Ismail; nabi yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam Barang siapa yang mengikutinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga serta memberikan kepadanya dua pahala.

Ar-Razi mengetengahkan banyak berita gembira yang disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu mengenai kedatangan Nabi Muhammad

Abul Aliyah mengatakan bahwa makna firman-Nya, “Penuhilah janji kalian kepada-Ku” (Al-Baqarah: 40) yaitu janji Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah agama Islam dan mereka diharuskan mengikutinya.

Sehingga janji paling tinggi adalah perjanjian ketaatan, syahadat kepada Allah dan mengikuti Rasulullah Saw.

Akan tetapi para Yahudi ingkar tidak mengikuti nabi Muhammad Saw, maka mereka termasuk ingkar janji. Apalagi kita pengikut nabi Muhammad Saw, yang sudah bersyahadat tetapi tidak mengikutinya, ini adalah pengingkaran terbesar, bagaimana Allah akan berikan janji Nya kepada kita.

Insan profetis harus bekerja keras bagaiamana membangun masyarakat dan umat untuk memenuhi janjinya kepada Allah dan Rasul Nya, agar janji Allah berupa pertolongan akan segera hadir dalam kehidupan.

Yang ketiga, pemenuhan janji Allah adalah akibat

Ketika sebab sudah terpenuhi dalam diri hamba maka Allah SWT pasti akan memenuhi janji Nya, Karena Allah SWT tidak akan mengingkari janji.

Tugas hamba hakikatnya menghadirkan sebab, fokus akan sebab yang Allah SWT telah perintahkan, tidak perlu memikirkan akibat yang akan Allah SWT berikan, karena akibat adalah mutlak dari Allah SWT, dan kadang manusia tidak akan mampu memahami akibat ini.

Dalam teori kausalitas, jika terpenuhi sebab maka akibat pasti akan hadir.

Pemenuhan janji Allah SWT dapat berupa urusan dunia, keluasan rezeki, ilmu, kejayaan dan kemajuan.

Janji akhirat akan berupa surga, ridho, ampunan, pertemuan dengan Allah SWT serta masih banyak janji Allah SWT.

Yang keempat,. Allah yang berhak ditakuti

Allah sebagai Zat yang paling ditakuti hamba hendaknya Allah’ SWT, Zat yang hendaknya diharapkan adalah Allah SWT.

Demikianlah seorang mukmin hendaknya menjadikan Allah sebagai harapan tertinggi, yang paling ditakuti, karena dengan sikap ini akan menghadirkan sikap ketaatan.

Akan tetapi ketika rasa takut sudah tidak ada, maka ketaatan kepada Allah SWT akan hilang.

Bangsa yang besar yang memiliki rasa takut, memiliki kompetitor positif, sehingga mereka akan selalu mengoptimalkan diri dalam bertahan dan mengembangkan diri. Ketakutan seseorang akan kemiskinan akan membangun semangat bekerja, ketakutan akan kebodohan akan membangun semangat belajar dan selanjutnya.

Ketakutan kepada Allah akan membangun sikap taat, dan patuh mendengar titahNya, dan menjalankan perintahNya.

Tetapi ketika bangsa sudah tak memiliki rasa takut apalagi kepada Tuhannya maka hancurlah bangsa itu. Bangsa yang sudah merasa nyaman dan mapan dengan keadaan saat ini

Insan profetis adalah manusia yang memiliki tingkat kejelian dalam membaca sebab dan akibat, sehingga akan membangun pola hidup sesuai dengan aturan Allah SWT.

Insan profetis tidak memiliki rasa takut kecuali hanya kepada Allah, sehingga dia selalu taat kepada Allah dan memenuhi janji Allah SWT untuk optimalisasi sebagai hamba dan Khalifah.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Kausalitas dalam Janji Allah SWT appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Ingkar dan Mendustakan Al-Qur’an Jalan Kesengsaraan https://ummetro.id/ingkar-dan-mendustakan-al-quran-jalan-kesengsaraan/ Fri, 06 Aug 2021 10:36:20 +0000 https://ummetro.id/?p=13508 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(Al Baqarah ayat 39) Tidak ada kenyang dalam menikmati suguhan ilahi yaitu Al Qur’an, bahkan hari ini kita meningkatkan pada level tilawah sebagai sebuah perniagaan ilahi, perniagaan yang tidak pernah merugi. Perniagaan yang

The post Ingkar dan Mendustakan Al-Qur’an Jalan Kesengsaraan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(Al Baqarah ayat 39)

Tidak ada kenyang dalam menikmati suguhan ilahi yaitu Al Qur’an, bahkan hari ini kita meningkatkan pada level tilawah sebagai sebuah perniagaan ilahi, perniagaan yang tidak pernah merugi. Perniagaan yang akan membuat manusia mendapatkan keuntungan tak terbatas.

Perniagaan adalah bisnis, setiap bisnis pasti mengalami kerugian, tetapi tilawah Al Qur’an (selalu melalukan replikasi dan pendalaman) adalah bisnis hakiki yang tak akan rugi. Karena kita jual amal kebaikan kita kepada Allah dan Allah beli setiap huruf dengan sepuluh kebaikan, kebaikan dunia kita, kebaikan akhirat kita. Kebaikan dunia bisa berupa karir baik kita, kesehatan kita, rezeki kita, ilmu kita, kebaikan akhlak kita, anak Sholih kita, istri Sholih kita dan seterusnya. Sedangkan akhirat berupa syafaat, surga, dan tingkatan surga tertinggi bahkan mahkota dan jubah cahaya dari surga.

Tilawah insan profetis harus balance antara tilawh lafdziah yaitu membaca dan mengulang bacaan harian, bisa satu juz sehari, dan juga tilawah maknawiyah yaitu merenungi dan memahami isi Al-Qur’an sebagai jalan penerang hidup kita.

Hari ini kita mendapatkan novelti sangat luar biasa dari Al Baqarah ayat 38 : ” Sesungguhnya orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Allah, mereka penghuni neraka dan kekal di dalamnya dari ayat ini ada dua hal yang sangat penting, yang pertama adalah ingkar dan kedustaan awal dari kesengsaraan, dan kedua, Neraka adalah puncak kesengsaraan. Mari kita jelaskan dan nikmati pesan ilahi ini:

Pertama adalah ingkar dan kedustaan awal dari kesengsaraan,

Kata alladziina kafaru orang-orang yang kafir (ingkar) dalam ayat ini dapat dijelaskan dengan pendekatan bahasa. Kata kafir yang sempat menjadi perbincangan dalam dunia politik, karena dianggap sebuah ungkapan yang kasar dan merendahkan orang lain. Sehingga harus membangun istilah bagi orang selain Islam dengan non-Islam dan lain sebagainya.

Hakikatnya kafir adalah bukan sebuah ungkapan subjektif, tetapi lebih kepada ungkapan objektif, karena bukan menyebut personal dan sebuah institusi. Tetapi lebih pada ungkapan sifat.

Kafir asal kata dari kafara yang artinya menutup. Artinya orang kafir orang yang menutup dirinya dari sesuatu. Orang yang bukan Islam disebut kafir karena dia menutup diri dari Islam, dan tidak menerima Islam sebagai agama.

Akan tetapi kafir ada dua bagian, kafir hakiki dan kafir maknawi. Kafir hakiki adalah mereka yang selain Islam. Sedangkan yang maknawi, semua yang mereka ingkar akan kebenaran walau hanya satu dari sekian banyak kebenaran maka termasuk kafir, walau tidak dapat dijudgment.

Sehingga orang yang tidak bersyukur bisa disebut kufur nikmat, karena ingkar akan segala nikmat yang Allah SWT berikan kepadanya.

Dalam ayat ini kata kufur dikaitkan dengan ayat-ayat ALLAH SWT, yang secara khusus adalah Al Qur’an. Mereka yang ingkar akan Al Qur’an, isinya dan amalnya maka akan mengalami kesengsaraan.

Mengapa?

Karena Al Qur’an jalan kebahagiaan, Al Qur’an berisi arah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Seperti orang yang berjalan salah jalan maka dia akan tersesat dan susah selalu. Tak akan sampai pada tujuan.

Sedangkan faktanya hari ini, mayoritas umat Islam benar-benar kurang perhatian dengan Al Qur’an. Tidak mengalami, merenungi, memahami, menurunkan dalam amal, aturan yang akan membuat kemajuan pribadi maupun institusi.

Insan profetis hendaknya menjadikan Al Qur’an sebagai kitab acuan dalam setiap aspek hidupnya, jika dia seorang pendidik, maka bagaimana Al Qur’an mengarahkan pendidikan yang baik, harus benar-benar difahami.

Jika seorang ahli hukum maka dia buka Al Qur’an dan memahami bagaimana Allah memberikan arah akan hukum yang baik dan benar, jika dia politisi maka dia buka Al Qur’an dan mengaji bagaimana Al Qur’an mengarahkan politik yang penuh Khidmah.

Hati insan profetis harus benar-benar yakin akan konsepsi Al Qur’an, sebagai jalan kembali kepada fitrah kebenaran, untuk mengembalikan dunia menjadi baik dan teratur.

Efek meninggalkan Al Qur’an terlalu jauh, seperti orang yang meninggalkan makan dalam waktu yang lama, maka dia akan sakit dan menuju kepada kematian. Sama dalam hidup kita, terlalu jauh meninggalkan Al Qur’an karena tidak percaya akan konsep nya membuat kita semakin sakit hati dan membawa kepada kematian hati, bahkan kehancuran kehidupan dunia, karena manusia sudah tidak mengikuti arahan Allah, tapi nafsu syahwatnya.

Kedua, Neraka adalah puncak kesengsaraan

Efek tidak percaya, bahkan ragu dengan Al Qur’an, dengan konsepsi hidup Al Qur’an, akan membawa kesengsaraan abadi, dunia dan akhirat.

Jika ada yang bertanya, orang yang sama sekali tidak faham Al Qur’an, dia hidup bahagia, kaya sejahtera, itu hanyalah tampak luarnya saja di dunia. Kita tidak perlu membahas bagaimana di akhirat, karena sudah jelas siksa neraka sebagai puncak kesengsaraan.

Neraka adalah simbol ilahiah sebagai puncak kesengsaraan akhirat, sesungguhnya semua yang jauh dari Al Qur’an akan mengalami kesengsaraan Ruhani, walau dunia mereka miliki.

Betapa banyak mereka bunuh diri walau bergelimang harta, mereka harus hidup dengan gaya Ibis di tengah pulau, di gunung demi mencari kebahagiaan.

Artinya mereka mengalami gangguan psikologis yang sangat luar biasa, sekarang kita yang didepan kita ada Al Qur’an apakah akan mengalami kondisi ini?

Apakah kita akan terus mendustakan Al Qur’an hanya karena besarnya dunia kita, proyek bisnis yang besar, proyek akademi yang menggiurkan, dan keluarga yang sangat membahagiakan. Andaikan kita tetap mendustakan demi itu semua sungguh kesengsaraan dunia akhirat akan menghampiri diri kita.

Insan profetis adalah mereka yang yakin totalitas dengan konsepsi Al Qur’an, dia akan menurunkan Al Qur’an dalam konsep hidup, dan mengimplementasikan dalam ruang kehidupan secara nyata.

Merinding rasanya saya menulis ini, Karena sambil evaluasi diri, sudah seperti apa diri kita dengan Al Qur’an.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Ingkar dan Mendustakan Al-Qur’an Jalan Kesengsaraan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Ketaatan Menghilangkan Kesedihan https://ummetro.id/ketaatan-menghilangkan-kesedihan/ Fri, 06 Aug 2021 10:28:28 +0000 https://ummetro.id/?p=13505 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Al Baqarah ayat 38) Salah satu tugas orang beriman terhadap Al Qur’an adalah tilawah, sebagaimana dalam Al Qur’an:

The post Ketaatan Menghilangkan Kesedihan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Al Baqarah ayat 38)

Salah satu tugas orang beriman terhadap Al Qur’an adalah tilawah, sebagaimana dalam Al Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang bertilawah terhadap kitab Allah.” (QS: Faatir ayat 29). Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab (Al-qur’an), mereka bertilawah (membacanya) dengan benar.” (QS: Al-Baqarah ayat 121).

Makna dari ayat ini mereka yang bertilawah Al-qur’an secara benar adalah dengan ittiba’ atau mengikutinya. Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan setelah memaparkan tilawah ada dua yakni tilawah Lafdziyah dan tilawah maknawiyah. “Intinya tilawah yang hakiki adalah tilawah atau membaca makna dari ayat-ayat Allah, ittiba’ atau mengikutinya, membenarkan semua beritanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, mematuhinya seluruh tuntunannya.”

Demikian makna tilah secara universal, yang secara bahasa bermakna mengikuti, sehingga metode tilawah adalah metode sejenis talaqqi dan sangat tepat bagi siapa yang belum mampu membaca Al Qur’an, maka dia akan dibimbing oleh seorang guru.

Secara maknawi seseorang yang melakukan tilawah akan membaca, merenungi dan konsisten mengikuti semua titah dan spirit Al Qur’an. Tilawah akan masuk kedalam jiwa manusia dengan pengulangan terus menerus, sehingga Al Qur’an akan dan melekat dalam diri orang beriman.

Seseorang yang melakukan replikasi dalam pembacaan akan banyak menemukan kebaruan dalam hidup, banyak hal yang mencerahkan dirinya, membuka tabir suram dirinya, ketika menghadapi berbagai masalah kehidupan.

Hari ini kita membahas surat Al Baqarah ayat 38

Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” mari kita tilawah hari ini, kita baca-baca, kita ulang-ulang dengan baik, dengan hati dan fikiran kita, apa yang hadir dalam diri kita.

Yang pertama, Allah tak biarkan Adam tanpa petunjuk

Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, dalam kalimat ini, ketika Allah SWT mengusir Adam ke dunia tidak membiarkan tanpa arah, tanpa pegangan. Tetapi Allah SWT datangkan petunjuk agar mampu hidup di dunia dengan baik dan benar. Di sinilah Rahmat Allah tertinggi, ketika Allah SWT tidak melepaskan manusia tanpa petunjuk jalan, tetapi memberikan arah dan pedoman hidup, sehingga Adam mampu kembali lagi kepada Allah SWT dengan selamat.

Demikianlah manusia hidup, harus mengikuti pedoman Allah SWT, yaitu Al Qur’an, dalam setiap aspek kehidupannya.

Al Qur’an adalah jalan hidup yang lurus, pedoman pendidikan yang terbaik, pedoman politik yang paling bijak, pedoman ekonomi paling adil sejahtera dan pedoman hukum yang berkeadilan.

Ibarat sebuah jalan, Al-Qur’an sebagai peta penunjuk jalan yang akan mengantarkan manusia menuju tujuannya. Didalamnya ada roadmap kehidupan, sehingga, seseorang benar-benar jelas dalam menjalani kehidupan.

Bahkan bukan hanya roadmap, kurikulum kehidupan sudah sangat jelas dalam Al Qur’an, apa yang harus dipelajari oleh manusia, dari masalah keyakinan sampai masalah logika.

Jika seseorang sudah menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman, dia akan fokus mengikutinya, mengembangkan dalam kehidupannya, dan tidak tertarik degan panduan dan pedoman selainnya.

Yang kedua, ketaatan pada Al Qur’an membahagiakan

Allah berfirman: maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan merasa khawatir dan sedih, mengapa? Dia mengetahui peta hidup, dan apa yang harus dilakukan, bahkan balasan kehidupan.

Logika ini hanya akan dapat difahami oleh mereka yang benar mengimani Al Qur’an, karena tanpa iman Al Qur’an tidak akan memberikan apa-apa bagi manusia, bahkan akan menjadi kerugian.

Al Qur’an akan menjadi hidayah (guidance) bagi manusia yang beriman, dia akan mendapatkan konseling ilahiah melaui ayat Al Qur’an, menjadi obat dari seluruh penyakit kehidupan, bahkan patologi sosial.

Sehingga siapapun yang mengikuti Al Qur’an akan hilang rasa sedih dan takutnya. Sedih adalah tanda bahwa manusia sedang ada penyakit dalam dirinya, penyakit yang membuatnya merasa tidak nyaman, ini adalah penyakit hati. Bahkan Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa sedih adalah pintu masuk syetan. Karena syetan akan masuk pada hati yang sedang bermasalah.

Orang yang mengikuti hidayah Al Qur’an akan selalu bahagia, karena penyakit hatinya telah hilang.

Seperti orang yang sakit, dia akan berbahagia ketika dirinya sehat.

Demikianlah sifat Al Qur’an yang mengobati segala penyakit bagi manusia, bahkan penelitian banyak menyebut bahwa Al Qur’an juga obat bagi penyakit fisik.

Menurut sebuah studi ilmiah Efek Terapi Membaca Alquran: Sebuah Studi Ilmiah yang dilakukan oleh Dr Ahmed Al-Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat membuktikan bahwa perubahan fisiologis terjadi pada sistem saraf otak dari sampel pasien yang mendengarkan pembacaan Al-Qur’an ketika sedang dipantau oleh sistem yang sangat canggih di klinik yang terletak di Panama City, Florida.

Sementara itu, dilansir dari situs Research Gate, Dr Ahmed Al-Qadhi berhasil membuktikan bahwa mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, baik mereka yang bisa berbahasa Arab maupun tidak, dapat merasakan perubahan psikologis yang sangat besar.

Demikianlah Al Qur’an mampu mengobati fisik maupun psikologis dari segi bacaannya yang indah dan sound healing nya. Apalagi Al-Qur’an dalam arti sebagai obat masalah hati, masalah sosial, dan sebagainya, maka Al Qur’an menajadi solusi kebahagiaan hidup.

Satu ayat yang kita maknai akan menjadi solusi bagi hidup ini, sebuah kisah bagaimana Kiai Ahmad Dahlan berbekal surat Ali Imran ayat 103 melahirkan Muhammadiyah, bekal Al Maun melahirkan gerakan sosial (social movement) sampai saat ini Muhammadiyah menjadi solusi bagi bangsa ini.

Andaikan semua umat Islam mengambil pola berfikir seperti Yai Dahlan tentu akan menghasilkan kemajuan luar biasa umat Islam.

Demikianlah pola profetis, berfikir deduktif untuk menjadikan Al Qur’an sebagai jalan kemajuan hidup.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Ketaatan Menghilangkan Kesedihan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Taubat Mengembalikan Keseimbangan Alam dan Keteraturan https://ummetro.id/taubat-mengembalikan-keseimbangan-alam-dan-keteraturan/ Fri, 06 Aug 2021 10:25:07 +0000 https://ummetro.id/?p=13502 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah ayat 37) Prof Dr Nasser al-Omar, ketua Lembaga Tadabur Quran Internasional yang juga Sekretaris Jenderal Ulama Muslim Dunia mengatakan ” semua problematika umat yang kita saksikan di

The post Taubat Mengembalikan Keseimbangan Alam dan Keteraturan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah ayat 37)

Prof Dr Nasser al-Omar, ketua Lembaga Tadabur Quran Internasional yang juga Sekretaris Jenderal Ulama Muslim Dunia mengatakan ” semua problematika umat yang kita saksikan di negeri kaum Muslimin hari ini berupa kehinaan, kelemahan, kemunduran, dan berbagai problem lainnya disebabkan oleh jauhnya kaum Muslimin dari Alquran.

Jauhnya mereka dari Al Qur’an artinya mereka tidak mau mentadaburi Al Qur’an, apalagi mengamalkannya. Sehingga ketika umat Islam ingin kembali menjadi umat yang mulia dan dimanja, Umat yang maju dan memimpin dunia maka harus kembali kepada Al Qur’an.

Judul tadabur hari ini adalah keseimbangan alam dan keteraturanya dikembalikan dengan taubat artinya semua manusia sudah merasakan gejala ketidak seimbangan ini, bahkan kekacauan yang tidak ada henti. Maka membutuhkan suatu gerakan ekstra menuju perubahan itu.

Ketidak seimbangan kehidupan karena terjadinya penyimpangan fitrah kehidupan itu sendiri. Manusia keluar dari fitrahnya, melanggar tugas dan misi hidup yang diamanatkan pada dirinya, sehingga merusak dan menggerus alam semesta dengan memperturutkan nafsunya, sehingga alampun menyimpang dari sunnatullah keteraturanya, maka yang muncul ketidak seimbangan (inbalance) dan ketidak teraturan(chaos).

Ibarat tubuh manusia yang fitrahnya makan tiga kali sehari, dia melawan dengan makan hanya sekali sehari, maka akan terjadi malfungsi pencernaan dirinya, sehingga akan mengalami magh yang membahayakan bagi kehidupannya. Sama dengan alam semesta, hutan sebagai penyangga banjir harus dihabisi demi nafsu proyek para elitis dan konglomerat, maka hilanglah penyangga banjir, dan yang terjadi kerusakan alam yang tiada henti.

Manusia diciptakan sudah dengan fitrah ketaatan, ketika melanggar maka dia akan mengalami ketidak seimbangan hidup dan kekacauan, sebagaimana Adam as. Sehingga problematika kehidupan manusia saat ini baik diri, keluarga, masyarakat semua berujung pada  ketidaktaatan atau penyimpangan fitrah.

Banyaknya perceraian karena fitrah berkeluarga dilanggar, posisi suami sudah jauh dari nilai qiwamah (pemimpin), dan wanita jauh dari nilai muthiah (ketaatan). Hal ini bisa disebabkan karena bias istilah pengarusutamaan jender, yang menginginkan kehidupan laki laki dan perempuan mitra sejajar, bukan mitra fungsional.

Banyaknya anak durhaka juga sama, karena tugas orang tua sebagai pendidik ditinggalkan, mereka sibuk dengan karir dan usahanya, melupakan tugas pendidikan anaknya.

Pendidikan yang saat ini belum mampu memberikan solusi kepada umat, begitu banyak pengangguran, dan penyimpangan perilaku anak didik, hal ini karena fitrah pendidikan diacuhkan, pendidikan yang seharusnya berangkat dari nilai tauhid, dilanggar dengan memaksimalkan pendidikan materi kepada anak, sehingga generasi materialisme yang hadir, dan mereka menjadi hamba hamba dunia yang malah merusak alam semesta dan jauh dari Tuhanya.

Jika kita melihat ayat di atas maka Allah SWT memberikan solusi bagi Adam yang sudah sangat jauh dari fitrahnya, sehingga harus jatuh ke dunia yang penuh ujian. Solusi itu adalah kalimat pertaubatan sebagaimana firman Allah;

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37) }

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Banyak tafsir menjelaskan akan maksud kalimat dalam ayat tersebut, ada yang mengatakan syariat haji, ada yang mengatakan taubat.

Menurut suatu pendapat, ayat ini merupakan tafsir dan penjelasan dari ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

{قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang merugi.” (Al-A’raf: 23)

Ayat tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits Gharib, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Asim, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Adam ‘alaihissalam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan kembali? Apakah Engkau akan mengembalikan diriku ke surga?” Allah menjawab, “Ya.” Yang demikian itulah makna firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.”(HR. Ibnu Abi Hatim)

Syarat kembali ke surga adalah taubat. Sehingga fitrah akan dapat dikembalikan dengan taubat, keteraturan dan keseimbangan dunia akan dapat terjadi dengan taubat, mereset ulang kehidupan manusia dengan pola awal yang Allah SWT telah tetapkan.

Dalam ayat tersebut dapat diambil beberapa hikmah yang dapat diimplementasikan:

Yang pertama, Pertaubatan Universal

Nabi Adam as di dunia hanyalah menajalankan pertaubatan, dan inilah yang hendaknya dilakukan oleh semua manusia. Bahwa manusia adalah makhluk yang akan selalu berbuat salah dan lupa, bahkan melakukan dosa. Maka dengan sifat manusia itu pertaubatan menjadi misi hidup utama, sebagai ittiba’ dengan nabi Adam as, sehingga surga akan menjadi tempat kembali kita.

Pertaubatan bukanlah hanya menyesali dosa-dosa karena zina ataupun meninggalkan sholat, tetapi taubat yang universal, sebagaimana Allah SWT sampaikan, Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).(at tahrim ayat 8).

Taubat yang sebenar-benarnya taubat adalah taubat universal, taubat dalam seluruh kehidupan manusia, bukan hanya taubat dalam pengertian hanya kembali ke masjid, sering sholat dan menjalankan ibadah. Akan tetapi taubat sebagai sistem reset fitrah, hendaknya mengembalikan sistem kehidupan kepada jalan fitrah ilahiah, sistem pendidikan, sistem politik, sistem ekonomi dan semua aspek hidup manusia.

Pendidika hendaknya dikembalikan kepada aturan Allah SWT, menjadikan tauhid sebagai dasar semua pengetahuan. Sistem politik harus berdasarkan pada konsep kepemimpinan tertinggi milik Allah, Dialah yang menjadikan seseorang pemimpin atau merendahkannya, dan semua kepemimpinan akan diminta tanggung jawab Allah SWT. Sistem ekonomi harus berkeadilan, jauh dari sistem Ribawi dan gharar. Sehingga ekonomi akan terus bertumbuh dan mensejahterakan.

Dibutuhkan kemampuan para pemimpin, insan profetis untuk berjuang mengembalikan ketidakseimbangan dan kekacauan saat ini kepada fitrah ilahiah nya, bukan terbawa arus kerusakan yang malah membuat kehidupan semakin hancur.

Yang kedua, Allah maha penerima taubat dan menyayangi

Pertaubatan totalitas akan menghasilkan kasih sayang Allah SWT. Sehingg sifat Allah at Tawwab selalu bergandengan dengan _Al Rahiim, artinya kasih sayang Allah akan hadir dengan pertaubatan hamba, bahkan saking senangnya Allah dengan taubat hamba Nya, seperti seorang yang senang ketika menemukan ontanya yang hilang.

Artinya, Allah menghendaki hamba Nya kembali, melakukan reset ulang pemikiran, ideologi, sistem dan prilaku, menyesuaikan dengan kehendak Allah SWT, bukan semakin menyombongkan diri dengan berbagai dalih kecerdasan intelektualnya, dan kekuatan tekhnologi yang mereka hasilkan.

Karena semakin manusia melakukan kesombongan maka dia benar-benar melawan Allah SWT, merebut selendang Allah SWT yaitu Al kibriya’.

Merasa bahwa sistem yang dia hasilkan adalah mampu menyelesaikan semua masalah hidup, sedangkan sistem tersebut jauh dari aturan Allah SWT, maka dia akan mengalami kesulitan dan kesulitan.

Andai Adam tidak melakukan pertaubatan, sungguh dia akan semakin terjerumus kedalam kubangan dosa dan kesengsaraan.

Maka mengakui diri bahwa diri kita adalah manusia yang lemah, hina dan penuh aniaya adalah kebijaksanaan tertinggi, dan selalu berharap akan ampunan Allah, berharap Allah kembalikan semuanya kepada fitrah yang baik.

Insan profetis adalah yang selalu cerdas dalam hidupnya, senantiasa melakukan pertaubatan totalitas, dalam rangka berjuang mengembalikan jalan fitrah yang Allah SWT telah tetapkan.

Memang ini adalah tugas yang sangat luar biasa, karena bias penyimpangan dari fitrah sudah terlalu jauh, tetapi Allah SWT tidak melihat hasil kita, tetapi semangat dan ketulusan kita. Seperti pembunuh seratus manusia yang bertaubat, dan hijrah, maka Allah menghitung jarak tempuh hijrahnya, bukan hasil hijrahnya.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Taubat Mengembalikan Keseimbangan Alam dan Keteraturan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal) https://ummetro.id/ternyata-iblis-sudah-melakukan-post-truth-izlal/ Fri, 06 Aug 2021 10:20:55 +0000 https://ummetro.id/?p=13499 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”(Al Baqarah ayat 36) Indahnya Al Qur’an akan dirasakan

The post Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal) appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”(Al Baqarah ayat 36)

Indahnya Al Qur’an akan dirasakan oleh siapapun yang  senantiasa melakukan tadabbur. Karena dengan tadabbur seseorang akan menikmati surat cinta Allah SWT kepada hamba Nya. Allah SWT berfirman”  Tidak adalah bagi manusia, bahwa Allah bercakap-cakap dengan dia, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir, atau Dia utus seorang utusan(malaikat) lalu utusan itu mewahyukan dengan izinNya apa-apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana.” (QS. Asy Syuro, 42 : 51)

Jadi tidaklah mungkin seorang manusia dapat bercakap-cakap dengan Allah SWT. Jadi bagaimana jika kita ingin curhat kepada Allah? Seorang ulama menyebutkan “ Jika kita ingin berbicara kepada Allah, berdo’alah/sholatlah. Dan jika kita ingin mendengar Allah maka bacalah Alquran.” Karena sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha melihat, Maha mengetahui yang Nampak dan yang tersembunyi.”

Tadabbur adalah cara terbaik untuk mendengarkan Kalam Allah SWT, disitulah akan terbangun rasa keintiman dengan Allah SWT, sehingga bahagia yang tak terhingga hadir dalam jiwa perindu Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka menadaburi (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shad [38]: 29).

Dalam tafsirnya tentang ayat ini, al-Sa’di menjelaskan, pada Alquran terdapat kebaikan dan ilmu yang sangat banyak. Di dalamnya terdapat petunjuk dari kesesatan, obat dari penyakit, cahaya untuk menerangi kegelapan, setiap hukum yang diperlukan manusia.

Alquran juga memuat dalil tegas tentang segala yang diinginkan, sehingga menjadikannya semulia-mulia kitab yang diturunkan Allah. Selanjutnya, beliau menjelaskan, hikmah diturunkannya Alquran ini agar manusia menadaburi ayat-ayatnya, menggali ilmunya, dan merenungkan rahasia dan hikmahnya.

Hanya dengan menadaburi ayat-ayatnya, merenungkan maknanya, serta memikirkannya, seseorang akan mendapatkan berkah dan kebaikan yang ada dalam Alquran. Kita harus menyadari, Alquran itu  kitab penuh berkah dan mengandung mutiara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Secara bahasa, tadabur berarti melihat dan memperhatikan kesudahan segala urusan dan bagaimana akhirnya. Al-Alusi dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani menjelaskan, pada dasarnya tadabur berarti memikirkan secara mendalam kesudahan sesuatu urusan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Ibnu al-Qayyim juga menjelaskan, yang dimaksud dengan menadaburi suatu perkataan adalah melihat dan memperhatikan perkataan itu dari awal dan akhir perkataan kemudian mengulang-ulangi hal itu.

Adapun yang dimaksud dengan tadabur Alquran adalah menggunakan ketajaman mata hati lewat proses perenungan mendalam secara berulang-ulang agar dapat menangkap pesan-pesan Alquran yang terdalam dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.

Demikianlah seharusnya seseorang yang memiliki iman kepada Al Qur’an mengaktifkan logika imanya untuk merenungkan Al Qur’an dengan optimal, mengambil faidah dan menghadirkan dalam kehidupan.

Yang pertama, Post Truth Iblis dan Era Modern

Surat Al Baqarah ayat 36 adalah kelanjutan dari ayat 35 yang menyatakan bagaiamana Adam tergoda oleh iblis dan mendekati pohon kezaliman. Akhirnya akhir dari tipuan iblis ini, pengkaburan iblis ini Adam dan hawa tergelincir dan keluar dari surga. Ini akibat prilaku tasywih (pengkaburan) istilah kedzaliman dirubah dengan kekekalan (khuldi).  Istilah modern saat ini disebut post Truth.

Post truth adalah era di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Caranya? Dengan memainkan emosi dan perasaan kita.

Kemaren saya diskusi panjang akan hal ini bersama Dr. Edi Ribut H, M.H, tentang era post truth ini. Di mana kebenaran sudah menjadi ilusi, bahwa muncul anggapan bahwa pernah terjadi era kebenaran (truth).

Hakikatnya izlal atau penggelinciran syetan inilah yang sebut post truth, sehingga Allah sebut dengan kalimat :

{فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا}

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu. (Al-Baqarah: 36)

Kalimat azalla dalam bahasa Arab di maknai sebagai inkhiraf ‘an showab artinya menyimpangkan dari kebenaran. Seakan benar, tapi sebenarnya salah. Analoginya seperti lantai yang mengkilat tetapi ternyata sangat licin, karena sulitnya membedakan antara bersih dan licin. Inilah karakter post truth yang menggelincirkan Adam dan hawa dari surga.

Hakikatnya post truth sudah lama dilakukan oleh para retoris dan politikus Yunani dalam mempengaruhi manusia. Kecanggihan retorika mereka, mengaduk emosi manusia, sehingga mereka mampu menyuguhkan racun dengan cara terbaik, sehingga manusia merasa disuguhi susu, akhirnya mereka semua rusak dan hancur.

Pada Republik Romawi Kuno, misalnya, orasi-orasi populis dalam senat lebih mementingkan kelincahan retorika daripada ketepatan data. Bahkan di era modern, hoaks dan sentimen telah menjadi bensin konflik terbesar sepanjang sejarah: propaganda Nazi dalam Perang Dunia Kedua.

Artinya era “kebenaran” bisa dibilang tidak pernah ada. Prasangka, emosi, dan kepercayaan sejak dulu lebih mudah mendominasi pendapat publik daripada rasio.

Sehingga kondisi hari ini adalah kondisi seperti Adam dan hawa digelincirkan Iblis, ketika seluruh umat manusia digiring oleh media informasi yang begitu cerdas menggiring opini, bahkan dengan istilah buzzer dan lainya, membuat manusia dibenturkan antara dunia fakta dan ilusi mereka.

Jika ini dibiarkan maka manusia akan benar-benar dikeluarkan dari konsistensi ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga manusia akan menjadi tidak stabil, dan mudah dipermainkan oleh retorika orang-orang yang memiliki kepentingan.

Yang kedua, permusuhan dan perpecahan efek post truth

{وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ}

dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang dilentukan. (Al-Baqarah: 36)

Inilah efek Adam as dan hawa ketika melanggar ketaatan, akhirnya harus keluar dari surga. Banyak perdebatan para ulama, apakah ini surga diakhirat atau surga di dunia. Tetapi bagi saya cukup menikmati dialektika ilmu tersebut, karena hakikatnya Allah SWT yang mengetahui.

Dalam konteks tadabur, ayat ini adalah efek izlal (penggelinciran) syetan, maka Adam harus keluar dari surga, dan akhirnya harus bermusuhan satu sama lainya.

Pekerjaan syetan memang memecah belah, dan menjauhkan manusia dari persaudaraan. Dan inilah yang terjadi era saat ini. Post truth yang menyebabkan perpecahan umat dan bangsa, bahkan satu agama bisa berperang, satu bangsa bisa berseteru, dan bahkan dunia bergejolak dengan satu statemen post truth yang dibangun legitimasi nya oleh lembaga otoritas.

Kondisi permusuhan inilah yang terus dipupuk oleh media, sehingga rupiah terus mengalir di kantong mereka, tapi Umat semakin hancur, buzzer mendapatkan rupiah begitu banyak, tetapi umat harus saling caci maki. Para tokoh membuat pernyataan seakan tidak menggunakan Pengetahuannya, hanya Asal bunyi dan mendapatkan trending Twitter dan subcriber, akibatnya umat semakin terbelah.

Sungguh tipu daya iblis sampai hari kiamat, melalui wujud modern yang sangat menipu dan ilusionis.

Sebagian mereka mendapatkan kenikmatan dari perpecahan ini, mendulang dolar dan rupiah melalui keributan sosial, bahkan menggelontorkan proyek begitu besar tanpa diketahui umat, tetapi mereka lupa bahwa ada waktu yang ditentukan Allah SWT.

Insan profetis adalah mereka yang mampu memahami kondisi post truth ini, bahwa kondisi ini bukan kondisi yang baik, sehingga mereka memiliki sensor dakwah dan perubahan, bagaiamana menyelam umat dan bangsa dari izlal iblis dan post truth yang menipu ini.

Tugas nabi adalah melakukan permusuhan abadi dengan syetan, maka insan profetis harus berani melanjutkan ini, agar ilusi syetan manusia dapat dilawan dan dirubah menjadi realitas tauhid.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Ternyata Iblis Sudah Melakukan Post-Truth (Izlal) appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>