laman opini Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/laman-opini/ Solusi Sukses Masa Depan Mon, 31 Mar 2025 14:09:31 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png laman opini Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/laman-opini/ 32 32 Banyak Orang Mengetahui HAM, Tapi Tak Memahaminya https://ummetro.id/banyak-orang-mengetahui-ham-tapi-tak-memahaminya/ Sat, 12 Dec 2020 05:30:16 +0000 https://ummetro.id/?p=12626 Frasa Hak Asasi Manusia atau yang biasa disingkat HAM kerap kali terdengar di telinga kita bahkan sejak kita duduk di bangku SD hingga sekarang. HAM ini sangat populer sejak digemakan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948. Betapa tidak, HAM menjadi salah satu dasar kebebasan berpendapat yang mulai bisa digaungkan masyarakat Indonesia

The post Banyak Orang Mengetahui HAM, Tapi Tak Memahaminya appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Frasa Hak Asasi Manusia atau yang biasa disingkat HAM kerap kali terdengar di telinga kita bahkan sejak kita duduk di bangku SD hingga sekarang. HAM ini sangat populer sejak digemakan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948. Betapa tidak, HAM menjadi salah satu dasar kebebasan berpendapat yang mulai bisa digaungkan masyarakat Indonesia secara lantang pasca era orde baru atau lahirnya era reformasi. Berbagai jenis kebebasan merujuk pada HAM mulai dari kebebasan berpendapat, kebebasan berpolitik hingga kebebasan berekspresi.

Jika dirunut satu per satu, maka terdapat sekitar 30 poin yang menjadi acuan HAM ini. Namun ada dua poin yang menarik untuk dibahas selaku pihak yang bergerak di dunia pendidikan. Yang pertama Hak Atas Pendidikan, ini bermakna bahwa setiap generasi baik dari kalangan menengah ke bawah mau pun kalangan menengah ke atas memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan dari mulai tingkat PAUD hingga ke Pendidikan Tinggi. Namun apakah hal ini sudah terwujud di Indonesia? Meski pemerintah Indonesia sejak zaman Pemerintahan SBY telah meluncurkan program wajib belajar 9 tahun bahkan didorong lagi oleh pemerintahan Jokowi dengan menghadirkan progam beasiswa KIP-Sekolah dan KIP-Kuliah untuk memfasilitasi generasi muda yang cemerlang namun berasal dari kalangan tidak mampu, akan tetapi masih banyak generasi muda di luar sana yang hidup tanpa status pendidikan di sisi mereka. Sebagian mereka ada yang sibuk membantu orang tua mereka, ada yang sibuk dengan teman sebaya mereka, ada juga yang sibuk menghabiskan waktu sia-sia.

Lantas ke arah mana sejatinya Hak Atas Pendidikan ini bertiup? Apakah ada yang salah dengan pemerintahan kita, atau ada yang salah dengan alurnya? Hal inilah yang harus kita pahami bersama bahwa tidak semua masyarakat memahami arti pentingnya pendidikan. Sebagian mereka bahkan banyak yang tidak tahu kemana harus mencari cara agar anak-anak mereka bisa menempuh pendidikan yang telah dijanjikan pemerintah. Hal ini membuktikan akan minimnya informasi yang mereka dapat.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan seorang petani yang datang dari ujung barat Lampung. Ia mengeluhkan bahwa Covid-19 mempengaruhi pendapatan sebagian masyarakat di sana, sehingga tidak sedikit dari mereka merasa kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka. Dari situ saya memahami, bahwa informasi KIP-Sekolah dan KIP-Kuliah serta beasiswa-beasiswa lain belum menjangkau mereka. Saya sampaikan, saat ini biaya kuliah bagi masyarakat yang kurang mampu bukanlah sebuah kendala, karena pemerintah sudah memfasilitasi dengan mengorbitkan KIP-Kuliah. Bahkan mahasiswa aktif pun mendapat bantuan UKT. Dan UM Metro merupakan salah satu kampus yang menerima program ini. Akar masalah di atas akan sedikit mengecil jika kita senantiasa mengkampanyekan kebaikan demi kebaikan khususnya kepada masyarakat kecil. Dan ini merupakan kewajiban kita bersama sebagai penggerak pendidikan, sebagai orang tua, sebagai masyarakat, sebagai tetangga, dan sebagai kerabat untuk terus membantu mereka agar Hak mereka dapat terfasilitasi dengan baik.

Lalu selanjutnya, yang juga tak kalah menarik untuk dibahas adalah Kebebasan Beragama dan Berpikir. Islam bahkan telah mengumandangkan Kebebasan Beragama sejak 14 abad yang lalu dengan turunnya Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan jikalau Tuhan-mu menghendaki tentulah semua orang yang ada di muka bumi beriman seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (Q.S 10:99).” Ditambah lagi dengan ayat yang populer yakni “Lakun Diinukum wa Liyadiin” yang artinya “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (Q.S. Al-Kafirun:6).

Saya tidak akan membahas tentang tafsir kedua ayat di atas karena itu di luar kapasitas saya. Namun yang ingin sampaikan bahwa kita sebagai umat muslim tentu tidak ingin ada pemaksaan atas atribut agama lain yang kita kenakan. Karena Islam telah mengatur kita dalam berpakaian. Pun demikian dengan mereka yang beragama di luar Islam, tentu mereka tidak ingin berpakaian di luar peraturan agama mereka. Lalu mengapa masih banyak kita jumpai pihak-pihak tertentu yang menginginkan orang lain untuk mengenakan atribut yang dilarang agama mereka.

Semoga hal ini tidak terjadi di Perguruan Tinggi Muhammadiyah khususnya di Lampung. Meski kampus kita memiliki basis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai landasan kampus Islami, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kampus Muhammadiyah juga menerima mahasiswa yang beragama non-muslim baik itu mereka yang beragama Kristen, Hindu, Budha maupun agama lainnya. Dan hal ini harus kita jaga dengan memberikan mereka kebebasan dalam berpakaian tanpa memaksakan mereka mengenakan atribut Islam selama belajar. Hanya saja kita perlu mensosialisasikan kepada mereka tentang standar berpakaian di lingkungan masyarakat Islam. Mereka tidak boleh dituntut untuk mengenakan jilbab, hanya saja dalam berpakaian minimal mereka menggunakan norma berpakaian orang ketimuran, misalnya tidak berpakaian mini, melainkan mengenakan celana atau rok panjang, kemeja panjang atau jas almamater. Memang beberapa dari mereka yang non-muslim ada yang mengenakan jilbab saat berada di lingkungan kampus. Saat ditanya apakah ada pihak yang memaksa mereka untuk melakukan hal demikian. Mereka menjawab bahwa hal itu atas keinginan mereka sendiri lantaran malu karena teman-teman mereka semua mengenakan jilbab. Salama itu tidak ada unsur paksaan, maka hal ini kita kembalikan lagi ke orangnya.

Selama hak mereka kita penuhi tentunya dengan kaidah-kaidah yang benar, maka persatuan dan kebersamaan masyarakat Indonesia khususnya di Lampung akan terus maju dan berkemajuan. Sebagaimana yang disampaikan Presiden RI keempat, Bapak Gus Dur bahwa memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya dan ini adalah kewajiban kita semua.

Penulis: Drs. H. Jazim Ahmad, M.Pd. – Rektor Universitas Muhammadiyah Metro

The post Banyak Orang Mengetahui HAM, Tapi Tak Memahaminya appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/ https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/#respond Mon, 20 Jan 2020 01:58:10 +0000 https://ummetro.id/?p=11763 Laman Opini UM Metro – Belitang (Blitang) terletak cukup jauh dari Kota Metro, membutuhkan sekitar 5,5 jam perjalanan. Secara geografis memang cukup jauh, namun secara psikologis keduanya sangat dekat. Sejak dulu, begitu banyak pelajar dan mahasiswa di Kota Metro berasal dari Belitang. Begitu juga  UM Metro, sejak dulu menjadi tujuan utama masyarakat Belitang sebagai tempat

The post Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Belitang (Blitang) terletak cukup jauh dari Kota Metro, membutuhkan sekitar 5,5 jam perjalanan. Secara geografis memang cukup jauh, namun secara psikologis keduanya sangat dekat. Sejak dulu, begitu banyak pelajar dan mahasiswa di Kota Metro berasal dari Belitang. Begitu juga  UM Metro, sejak dulu menjadi tujuan utama masyarakat Belitang sebagai tempat menimba  ilmu.

Bahkan,  ada satu keluarga besar (satu kakek nenek) yang merupakan alumnus UM Metro, seperti keluarga bapak Muhamdi. Tentu, keluarga Muhamdi bukan satu-satunya di Belitang, banyak ditemui keluarga seperti itu dan tersebar di seluruh wilayah Belitang yang cukup luas (BK=Bendungan Komering : 0 sd 30).

Peran dan kontribusi para alumni UM Metro di Belitang sangat signifikan, bukan saja menjadi bagian formal dari Pemda OKU Timur dan membangun jaringan komunikasi yang baik dengan Pemda dan semua komunitas, mereka juga menjalankan tugas keumatan secara mengagumkan. Banyak sekolah Muhammadiyah baik dari level terendah hingga Perguruan Tinggi mereka bangun, begitu juga panti asuhan dan masjid-masjid megah bisa mereka bangun dari kegigihan dan kemampuan menjalin komunikasi yang efektif dan kinerja yang amanah.

Kota Metro menjadi tujuan favorit studi masyarakat Belitang karena alasan sederhana yang intinya bisa  langsung merasa nyaman: seperti typologi masyarakat yang hampir sama, aman, biaya hidup murah, dan gaya hidup kota yang tidak terlalu wah dan glamour. Para orang tua calon pelajar dan mahasiswa tidak ada kekawatiran akan terjadi culture shock dan maladatif  pada putra putrinya ketika tinggal di Kota Metro.

Selama satu hari berada di Belitang, kami bisa merekam harapan dan sedikit keluhan dari masyarakat yang umumnya alumni terhadap UM Metro. Jika saya bahasakan ulang intinya: bahwa “Pelayanan terbaik adalah Promosi terbaik”. Customer services merupakan energi yang melahirkan kepuasan konsumen dan akan menjaga keberlanjutan sebuah institusi. Di sebuah Perguruan Tinggi, layanan akademik dan administrasi  kepada mahasiswa adalah roh keberhasilan PT.


(Dok: Dosen PPs UM Metro Memasang Kalender 2020 UM Metro di salah satu RM di OKU Timur)

Pelayanan yang baik di sebuah PT akan menjadi cerita indah para alumni dan diceritakan secara indah pula kepada sanak saudara dan teman-teman mereka di lingkungannya. Tentu hal itu merupakan promosi gratis bagi almamaternya. Begitupun sebaliknya, layanan yang tidak profesional: tidak tepat waktu, tidak ramah, tidak tulus dan sepenuh hati kepada mahasiswa akan menggumpal menjadi citra kelabu yang mengalir dari waktu ke waktu.

Begitulah kejadianya, ketika kita turun ke suatu daerah menyambangi para alumni selalu dapat masukan yang jujur, objektif, dan clear karena mereka tidak lagi memiliki beban psikologis-seperti takut menyinggung dosen dan sulit mendapatkan tandatangan tugas akhir-untuk bercerita tentang bagaimana pelayanan para dosen di almamaternya dulu. Negative Brand Personality masih menjadi memori jangka panjang di otak mereka, bahkan menjadi semacam traumatik.

“Bayangkan pak, kami datang dari Belitang ke ke Metro perlu waktu sekitar 6 jam untuk memenuhi janji konsul tentang Draft Tesis dengan pembimbing, tiba di kampus masih dalam kondisi cape dan lapar, mendapatkan kabar bahwa beliau sedang berada di luar kampus. Ketika kami minta konfirmasi tentang waktu yang disepakati, dijawab oleh beliau, jika emang mau konsul sekarang boleh, tapi ke sini (sambil menyebut sebuah kota yang sangat jauh).”

Alhasil, bukannya kata maaf yang diterima dari dosen tersebut yang tentu akan sedikit mengobati kekecewaan mereka. Akhirnya bisa ditebak, mahasiswa pulang dengan tangan dan pikiran hampa akan harapan bisa lulus tepat waktu. Tentu, berbekal perasaan hancur  sambil terus menyetir menyusuri jalan panjang pulang ke Belitang dan harus tiba sebelum pagi datang menjelang. Suasana tambah mengharu biru ketika lagu yang mereka putar di mobilnya dari Ebiet G. Ade, Bertita Kepada Kawan: “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan…”

Beruntung, mahasiswa Blitang adalah pejuang ilmu yang tangguh sehingga pantang jika perjuangan hanya akan jadi arang. Benar adanya, hanya dalam waktu satu bulan dari peristiwa miris tersebut, mereka pun berhasil ujian tesis dan lulus. Dan, kejadian miris tersebut  sekarang justru  menjadi cerita manis yang selalu diceritakan dengan ringan dan penuh tawa.

“Pokoknya kalau sekarang ada orang tanya ke saya, ada dimana? Maka akan saya jawab, Saya ada dimana-mana,” sambil tertawa riuh rendah semuanya. Itu salah satu ilmu baru yang nyelip dalam perjalanan studi mereka dan akan selalu mereka ingat, yang dikhawatirkan justru ilmu utama yang mereka pelajari malah lupa.

Banyak contoh lain seperti kejadian tersebut yang luput dari kepekaan dosen untuk dapat mengukur perlakuan-perlakuan yang menunjukkan pelayanan baik atau buruk kepada mahasiswa dan berujung pada promosi negatif terhadap institusinya secara keseluruhan.

Maka, saatnya perlu penguatan komitmen, dan niat tulus dari kita semua: untuk apa dan siapa hakikat tugas yang kita jalani selama ini? Untuk apa mengeluarkan promosi mahal, seandainya staf dosen dan administrasi masih saja mengekspresikan negative brand personality dalam menjalankan kewajibannya? Patut menjadi renungan dan introspeksi bersama jika kita ingin terus bergerak maju.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si. (Dosen PPs UM Metro)

The post Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/feed/ 0
5 Kunci Inspirasi Kemajuan 2020 https://ummetro.id/5-kunci-inspirasi-kemajuan-2020/ https://ummetro.id/5-kunci-inspirasi-kemajuan-2020/#respond Tue, 31 Dec 2019 11:11:16 +0000 https://ummetro.id/?p=11730 Laman Opini UM Metro – Tahun 2020 hadir dengan membawa sejuta tantangan sekaligus peluang. Kompetisi di pelbagai aspek semakin ketat sehingga diperlukan kompetensi yang unggul. Siapa yang layak jadi pemenang adalah mereka yang paling adaptif dengan perubahan dan  dapat memanfaatkan tantangan menjadi peluang. Dan semua itu perlu keuletan dan kerja keras. Seorang pemenang adalah orang

The post 5 Kunci Inspirasi Kemajuan 2020 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Tahun 2020 hadir dengan membawa sejuta tantangan sekaligus peluang. Kompetisi di pelbagai aspek semakin ketat sehingga diperlukan kompetensi yang unggul. Siapa yang layak jadi pemenang adalah mereka yang paling adaptif dengan perubahan dan  dapat memanfaatkan tantangan menjadi peluang. Dan semua itu perlu keuletan dan kerja keras. Seorang pemenang adalah orang yang lebih mengandalkan kerja kerasnya, karena kontribusi bakat hanyalah 10% dari sebuah kerberhasilan, sementara 90% berasal dari usaha yang sungguh-sungguh.

Cyberthreat.id telah merangkum bagaimana millennials kill everything. Setidaknya ada 36 yang mereka prediksi akan menjadi sasaran kegusaran era desrupsi dewasa ini. Kita ketahui bagaimana generasi milenial menggerogoti department store seperti Mall (Matahari, Ramayana dll). Generasi milenial saat ini tidak lagi belanja langsung ke tempat, mereka lebih suka belanja online, kalaupun ada yang bepergian ke mall, tujuan mereka bukan untuk belanja melainkan hanya untuk cuci mata atau menghilangkan stress. Pasar kost-kostan juga akan menjadi salah satu sasaran generasi milenial ini. Di mana pemerintah saat ini sedang menggalakkan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), sehingga nanti generasi muda tidak perlu menyewa kost-kostan untuk studi di perguruan tinggi, mereka cukup belajar di rumah mereka masing-masing.

Hal serupa juga terjadi pada perusahaan Kodak. Pada tahun 1998, Kodak memiliki 170.000 pegawai dan menjual 85% foto kertas di seluruh dunia. Keuntungan yang mereka dapatkan sangat fantastis. Hanya dalam beberapa tahun, model bisnis ini hilang bagai di telan bumi. Generasi milenial lebih menyukai foto mereka tersimpan di android dan media sosial mereka untuk berbagi dengan orang lain ketimbang mencetaknya. Siapa yang akan menyangka hal ini. Dan tentunya masih banyak kasus-kasus yang serupa yang turut menjadi sasaran generasi milenial. Dan hal ini tentu tidak akan berhenti di sini saja, kita akan melihat di masa depan, perkembangan demi perkembangan akan semakin bermunculan yang menyebabkan banyak pihak yang akan menjadi sasaran generasi milenial. Siapa saja yang tidak siap dalam menyambut kemajuan di masa depan ini, maka mereka akan tertinggal.

Lalu bagaimana persiapan kita untuk menghadapi semua ini. Maka diperlukan orang yang berbeda dari yang lain. Orang yang tidak biasa-biasa saja. Karena jika kita menjadi orang yang biasa-biasa saja, maka kita akan menjadi pihak yang tertinggal. Bagaimana menjadi orang yang berbeda dari kebanyakan orang? Menjadi orang yang berbeda berarti kita harus menjadi orang yang memiliki karakter 4C yakni Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creative (Kreatif), Communicative (Komunikatif) and Collaborative (Kolaboratif).

1. Berpikir Kritis

Yang pertama untuk menjadi orang yang tidak biasa-biasa saja, maka kita harus memiliki karakter berpikir kritis. Berpikir kritis sebagaimana yang diterangkan Scriven & Paul, 1992. adalah proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan.

Orang yang berpikir kritis sebagaimana yang disampaikan Scriven & Paul, akan menjadi orang yang pintar dalam menganalisis suatu permasalahan lalu menemukan solusinya. Sehingga tindakan yang mereka ambil akan sangat bijak dengan meminimalisir resiko yang ada.

Generasi milenial saat ini sangat dimudahkan untuk mengakses pelbagai informasi di media sosial mau pun di internet. Namun sayangnya, kemudahan mengakses informasi seringkali tidak berjalan lurus dengan kebenaran atau keotentikan isi informasi tersebut yang terus mengalir dari orang satu ke orang yang lain. Sebagai generasi milenial yang bijak, tindakan berpikir kritis merupakan keniscayaan. Orang yang berpikir kritis tidak akan mudah terpengaruh dengan informasi yang mudah tersebar di media sosial atau pun di internet seperti yang marak terjadi. Mereka cenderung menganalisis kebenaran akan informasi tersebut terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan.

sebagai penerus bangsa berfikir kritis dan megambil sikap yang bijaksana dalam situasi sekarang ini adalah proses yang positif untuk hidup bersosial dalam masyarakat, karna saat ini kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk mengembangkan kemampuan berpikir lainnya , seperti kemampuan untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.

Selain itu, dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang hilang yang di era revolusi industry 4.0, maka lapangan pekerjaan baru akan bermunculan seiring dengan kebutuhan zaman. Orang yang berpikir kritis akan sangat cepat menangkap peluang ini, sebelum kebanyakan orang melakukannya.

Setidaknya ada empat manfaat berpikir kritis, yakni memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif; mudah memahami sudut pandang orang lain; menjadi rekan kerja yang baik; lebih mandiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengingatkan kita akan pentingnya berpikir kritis sebagaimana tertuang dalam Surah Az-Zumar ayat 9:

“… Katakanlah: Adakah sama orang yang paham dengan yang tidak paham, adakah sama orang yang berpikir dengan orang yang tidak berpikir, adakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Sesungguhnya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran dari hal itu.

2. Berpikir Kreatif

Yang kedua, mulai sekarang kita harus membangun pola pikir yang kreatif. Membangun pola pikir yang kreatif dengan memiliki mindset bahwa peluang itu selalu ada, lalu ditopang dengan sikap optimis. Berpikir kreatif akan melahirkan banyak inovasi, dengan adanya inovasi maka akan menyebabkan banyak perubahan. Orang yang senantiasa kreatif tidak akan kehabisan akal dalam mengerjakan sesuatu. Jika ia menjumpai banyak hambatan maka ia akan menemukan solusinya. Karena bagi orang yang kreatif, setiap hambatan pasti ada peluang.

Tindakan untuk menjadi kreatif dapat menggunakan teori ATM yakni Amati, Tiru dan Modifikasi.  Setiap ide kreatif yang muncul tidak harus bersifat orisinil namun bisa dengan memodifikasi apa yang sudah ada untuk menjadi sesuatu yang baru.

Teori mengamati bahkan sudah tertuang dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Ghasiah ayat 17-20. “Maka tidakkah mereka mengamati unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan?”

3. Komunikatif

Yang ketiga, memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi adalah kemampaun untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, keinginan, melalui komunikasi verbal mau pun non-verbal untuk mendapatkan pengertian orang lain. Memiliki kemampuan komunikasi bagi generasi milenial adalah keniscayaan, di mana ide dan gagasan hanya bisa dijual dengan kemampuan ini. Tidak sedikit kreativitas yang dihasilkan memiliki nilai jual yang tinggi, namun tidak laku di pasaran dikarenakan cara menjual hasil kreativitas tersebut kurang baik atau kurang tepat.

Seorang pakar komunikasi dari UM Malang, mengungkapkan, “Tidak ada barang yang tidak laku dijual, akan tetapi barang yang tidak laku disebabkan banyak orang tidak tahu cara menjualnya.” Menurutnya semua produk dapat dijual di pasaran namun bergantung pada kemampuan komunikasi dari para penjualnya. Bagaimana para penjual produk ini mampu meyakinkan para pembeli untuk membeli produk mereka.

Kemampuan komunikasi ini tidak hanya penting untuk menjual hasil kreativitas, namun juga untuk membangun kerja sama yang baik dengan pihak lain baik bagi sesama rekan tim mau pun dengan lembaga mitra. Setidaknya ada lima hal yang menjadi tolak ukur dalam berkomunikasi sebagaimana yang dikutip dari maximaimpactindonesia.com yakni persepsi, ketepatan, mempengaruhi sikap/pengendalian, kredibilitas dan menjaga hubungan.

4. Kolaboratif

Yang keempat, memiliki kemampuan Kolaboratif. Kemampuan kolaboratif adalah kemampuan bekerja di dalam sebuah tim guna mencapai target yang diinginkan secara bersama. Kemampuan ini wajib dimiliki generasi milenial dalam menghadapi tantangan zaman, di mana mereka akan banyak berinteraksi dengan banyak pihak dalam mengerjakan sesuatu. Apalagi kreativitas yang telah didesain dengan baik akan sulit direalisasikan jika tidak memiliki kemampuan kolaboratif.

Sebagaimana sebuah perusahaan Gojek yang dikembangkan oleh Mas Menteri Pendidikan saat ini, Bapak Nadiem Makarim. Dalam menjalankan operasinya, misalnya perusahaan Gojek ini terdiri dari manager, staff administrasi, staff IT dan staff keuangan. Mereka akan memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing dengan saling ketergantungan. Seorang manager akan membutuhkan staffnya untuk menjalankan ide-ide cemerlang yang ia rencanakan, staff administrasi mengerjakan syarat-syarat secara administrasi mulai dari perizinan, perekrutan hingga menjadi call center, staff IT membuat program-program untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhdadap aplikasi gojek mulai dari pemesanan secara daring, pembayaran cash atau menggunakan go-pay, serta pemberian reward baik bagi pengguna aplikasi gojek mau pun bagi partisan gojek itu sendiri, sementara staff keuangan merumuskan berapa pemasukan yang harus didapat melalui penggunaan aplikasi tersebut serta memfasilitasi secara materiil terkait apa saja yang dibutuhkan untuk mengembangkan aplikasi gojek ini. Agar perusahaan dapat berkembang dengan baik sesuai apa yang direncanakan sang manajer maka semua pihak yang terlibat harus bekerjasama dengan baik.

Kemampuan kolaboratif ini juga tertuang dalam sebuah pepatah Ubuntu, Afrika yang berbunyi: “Jika Anda ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendirian, tapi jika ingin berjalan lebih jauh, maka berjalanlah bersama orang lain.”

5. Istiqomah/Telaten/Ulet

Jika sudah memiliki empat karakter di atas, maka tahapan selanjutnya adalah telaten/ulet/istiqomah. Telaten berarti melakukan pekerjaan secara terus menerus walaupun kecil, sebagaimana yang tertuang dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim No. 783 dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala adalah amalan yang continue (terus menerus) walaupun itu sedikit.”

Maka untuk menjadi insan yang berkemajuan di masa depan, maka kunci yang terakhir adalah harus telaten. Sebagaimana yang dipraktikkan oleh penemu sekaligus pemilik KFC (Kentucky Fried Chicken) Kolonel Harland Sanders, sang penemu resep ayam goreng dengan 11 bumbu pertama kali di dunia. Ia mengaku untuk menjual resep ayam gorengnya ia rela berkeliling Amerika dan ditolak sebanyak 1.009 kali. Padahal dirinya hanya meminta 4 sen dari setiap ayam goreng yang terjual. Sayangnya, tawaran Sanders tak kunjung disetujui. Namun sang kolonel tidak pernah menyerah, ia terus mondar-mandir ke berbagai restoran untuk menawarkan resepnya tersebut, dan akhirnya bertemu dengan Pete Harman, seorang temannya yang langsung sukses setelah menjual ayam goreng dengan resep Sanders. Setelah itu pihak-pihak lain pun mulai tertarik untuk membeli resepnya.

Penulis : Drs. H. Jazim Ahmad, M.Pd. (Rektor Universitas Muhammadiyah Metro)

The post 5 Kunci Inspirasi Kemajuan 2020 appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/5-kunci-inspirasi-kemajuan-2020/feed/ 0
Kotak Pandora Pendidikan Indonesia https://ummetro.id/kotak-pandora-pendidikan-indonesia/ https://ummetro.id/kotak-pandora-pendidikan-indonesia/#comments Tue, 31 Dec 2019 03:27:30 +0000 https://ummetro.id/?p=11726 Laman Opini UM Metro – Awal Pemerintahan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo periode ke-2 memberikan kejutan kepada khalayak tentang pengangkatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. Beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan dengan kontroversi oleh kalangan para praktisi pendidikan. Melihat latar belakang beliau yang menjadi CEO Gojek yang bekerja

The post Kotak Pandora Pendidikan Indonesia appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Awal Pemerintahan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo periode ke-2 memberikan kejutan kepada khalayak tentang pengangkatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. Beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan dengan kontroversi oleh kalangan para praktisi pendidikan. Melihat latar belakang beliau yang menjadi CEO Gojek yang bekerja dalam bidang Transportasi dipandang skeptis oleh para pakar praktisi pendidikan. Hal tersebut dianggap tidak layak karena bagaimana mungkin dunia pendidikan dinahkodai oleh orang yang tidak memahami seluk beluk pendidikan di Indonesia.

Akibatnya banyak sekali pro dan kontra yang muncul oleh keputusan Menteri Pendidikan Indonesia tersebut. Seperti penyederhanaan RPP, penghapusan Ujian Nasional. Memang jika kita memandang sesuatu dengan ruang lingkup yang universal kita selalu melihat dikotomi yang saling berlawanan. Seperti penyederhanaan RPP ada yang beranggapan bahwa dengan RPP yang sekarang ini membuat beban guru menjadi berat dalam administratif pendidikan, bagaimana mungkin guru akan berfokus mendidik anak jika guru direpotkan oleh hal-hal yang bersifat administratif.

Namun, dikotomisasi yang lain beranggapan bahwa RPP itu adalah sebuah perencanaan, dan rencana dibuat untuk mempermudah mencapai tujuan dari sebuah pendidikan. Dalam membuat perencanaan guru harus merancang sematang mungkin karena ketika guru gagal membuat RPP sama saja dengan merancang kegagalan. Kemudian, tentang penghapusan Ujian Nasional. Hal tersebut disambut baik oleh berbagai pihak bahwasannya Ujian Nasional dianggap membebani siswa Indonesia bahkan hingga muncul istilah Full Day School untuk mengurangi tingkat kegagalan dalam Ujian Nasional.

Di lain pihak beranggapan bahwa Ujian Nasional menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia. Adanya Ujian Nasional selama ini belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, lantas bagaimana mungkin dengan adanya penghapusan Ujian Nasional justru akan membuat pendidikan di Indonesia lebih baik. Keputusan Bapak Nadiem Makarim tersebut bagaikan membuka kotak pandora yang berisi bola panas. Namun, apakah masalah yang muncul itu justru membuat pendidikan di Indonesia semakin kacau atau semakin lebih baik. Semua kembali kepada paradigma para paraktisi pendidikan dalam mengambil sudut pandang yang tepat dalam permasalahan ini.

Akibat Bapak Nadiem Makarim membuka kotak Pandora tersebut, semua kalangan jadi berfikir, terutama para praktisi pendidikan tentang meningkatkan mutu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Semua menyambut bola panas yang keluar dari pandora tersebut, ada yang memandang negatif dan memandang positif, namun kedua pandangan tersebut sebenarnya terkooptasi untuk menjadikan kualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Permasalahan pendidikan akan selalu ada selama ada proses pendidikan di dalamnnya. Artinya, tidak mungkin penyelenggaraan pendidikan berjalan tanpa ada permasalahan. Terlebih pendidikan di Indonesia itu bagaikan kumpulan benang merah yang saling bersimpul sehingga tidak dapat di lihat ujung dari permasalahannya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan semua harus bersinergi baik dari tataran eksekutif, yudikatif, legislatif, praktisi pendidikan, akademisi bahkan masyarakat.

Kotak Pandora yang dibuka oleh Mas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim memunculkan banyak kontroversi, namun justru membuka semua mata khalayak untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Dikotomi pandangan yang terjadi saling beradu untuk mencipatkan kondisi pendidikan yang baik. Karena perbedaan yang benar adalah saling bertukar gagasan untuk mencapai suatu tujuan demi kepentingan bersama bukan saling menjatuhkan untuk kepentingan salah satu pihak. (https://jensen-jensen.com/)

Banyaknya kaum intelektual di Indonesia membuat bangsa ini berpotensi untuk memajukan pendidikan. Pendidikan yang maju tersebut tentunya harus sesuai dengan tujuan pendidikan pada Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional,  yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kotak pandora yang sering dianggap oleh banyak orang sebagai kotak yang berisi banyak masalah terkadang menjadi pintu awal dari sebuah pengetahuan. Mewujudkan pendidikan yang sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional itu sangat sulit. Kita harus meyakini bahwa sesuatu yang sulit itu akan menjadi mudah. Namun, untuk menjadi mudah itu sulit. Oleh karena itu, keterlibatan semua pihak sangat diharapkan untuk berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Penulis : Hudaya Indra Bakti (Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UM Metro)

The post Kotak Pandora Pendidikan Indonesia appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/kotak-pandora-pendidikan-indonesia/feed/ 1
Menanti Action Mas Menteri Pendidikan https://ummetro.id/menanti-action-mas-menteri-pendidikan/ https://ummetro.id/menanti-action-mas-menteri-pendidikan/#respond Fri, 20 Dec 2019 01:58:58 +0000 https://ummetro.id/?p=11673 Laman Opini UM Metro – Sebagai orang yang berada dikalangan pendidikan, merasa gatal jika tidak ikut nimbrung dalam perkumpulan diskusi tentang pemilihan menteri pendidikan diluar dari kalangan pendidikan oleh pemerintah. Bentuk kegatalan itu dinyatakan dalam berbagai bentuk, dan pada kesematan ini penulis mewujudkanya dalam bentuk tulisan. Kalangan pendidik dibuat bertanya-tanya tentang gebrakan apa yang akan

The post Menanti Action Mas Menteri Pendidikan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Sebagai orang yang berada dikalangan pendidikan, merasa gatal jika tidak ikut nimbrung dalam perkumpulan diskusi tentang pemilihan menteri pendidikan diluar dari kalangan pendidikan oleh pemerintah. Bentuk kegatalan itu dinyatakan dalam berbagai bentuk, dan pada kesematan ini penulis mewujudkanya dalam bentuk tulisan.

Kalangan pendidik dibuat bertanya-tanya tentang gebrakan apa yang akan dilakukan oleh mas Menteri pendidikan ke depan. Kalangan pendidik terus menyimak perkembangan pendidikan yang terus berjalan dinamis hingga saat ini. Jika dilihat sebelumnya, kalangan pendidik juga telah dikagetkan dengan dipilihnya menteri pendidikan dari kalangan non pendidikan yang juga masih muda “Mas Menteri Nadiem Makarim” sebutan baru untuk menteri pendidikan yang merupakan pendiri startup Go Jek. Hal ini juga membuat mengkerut jidat tidak hanya kalangan guru, akan tetapi juga para dosen yang pada kenyataanya kementerian yang dibuat saat ini dikembalikan seperti dulu, digabungkan antara pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi (Kemendikbud Dikti)

Terka menerka dikalangan pendidik beraneka ragam, unik namun terkadang ada benarnya jika difikir-fikir. Ada yang menyangsikan kinerja mas menteri karena dipandang masih minim pengalaman tentang pendidikan, namun banyak juga yg tetap optimis karena rumor yang berkembang saat ini Mas Menteri akan memberikan kemerdekaan pendidik dan pembelajar dalam belajar. (Tramadol) Terlepas dari berbagai anggapan dan spekulasi yang berkembang, yang jelas akan banyak tantangan Mas Menteri dalam merealisasikan ide-idenya untuk memerdekaan pembelajaran di sekolah.

Kebijakan

Selama ini pendidikan di negara kita dilaksanakan dengan mengacu pada banyaknya peraturan pemerintah yang mengikat, baik yang berada di sekolah dasar dan menengah maupun yang berada dipendidikan tinggi. Mas menteri perlu mengeluarkan banyak peraturan baru jika perubahan yang akan dilakukan signifikan. Mengubah administrasi dalam pembelajaran yang akan dipermudah pendidik misalnya. Perlu diketahui bahwa hampir semua perangkat pembelajaran yang dibuat oleh pendidik berdasarkan peraturan pemerintah berupa permen. Sehingga mas menteri perlu mengeluarkan banyak peraturan baru untuk mengubah peraturan lama. Tidak hanya itu, pemikiran tentang revolusi pendidikan dibidang kurikulum juga sudah terlihat digagas oleh mas menteri merespon pendapat dari organisasi pendidikan dan para pakar pendidikan melalui dengar pendapat. Tak terlupakan pembahasan tentang kesejahteraan guru yg ingin ditingkatkan. Sejauh ini, langkah yang sudah ditempuh oleh mas menteri pendidikan seperti memberi angin segar bagi para pendidik meskipun baru sebatas verbalisme ide.

Kepentingan Politik

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa jabatan dan kedudukan dipemerintahan dibuat berdasarkan kepentingan politik. Sampai muncul stigma dimasyarakat bahwa Yang dekat dengan penguasa, mendapat prioritas mendapat jatah kedudukan dipemerintahan. Secara tidak langsung mereka yang duduk menjadi pejabat dipemerintahan memiliki pemikiran yang sejalan dengan pemerintah. Jika tidak sejalan meskipun itu merupakan ide kreatif untuk memajukan bangsa akan tertangguhkan untuk terealisasi, bahkan bisa langsung digantikan dengan pimpinan yang lain. Kepentingan politik ini menjadi tantangan tersendiri bagi mas menteri dalam menjalankan ide-ide kreatifnya.

Harapan demi harapan terus bermunculan. Berharap besar pada kemajuan pendidikan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Menteri pendidikan. Disamping setumpuknya permasalahan lain di dunia pendidikan, harapan perbaikan kualitas pendidikan harus tetap terus dimunculkan oleh kalangan pendidikan. Mari sama-sama kita doakan, semoga mas menteri pendidikan dapat menjalankan tugas sebagai bentuk penjalanan amanah dengan baik, tidak sebatas retorika verbal belaka. Manis terdengar namun sulit untuk diwujudkan. Salam pendidikan berkualitas.

Penulis: Bobi Hidayat, M.Pd. (Dosen FKIP UM Metro)

The post Menanti Action Mas Menteri Pendidikan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/menanti-action-mas-menteri-pendidikan/feed/ 0
Hoax yang Berkamuflase https://ummetro.id/hoax-yang-berkamuflase/ https://ummetro.id/hoax-yang-berkamuflase/#respond Tue, 15 Oct 2019 09:30:25 +0000 https://ummetro.id/?p=11218 Laman Opini UM Metro – Masyarakat modern identik dengan pemanfaatan sosial media dan atau media elektronik lainnya dalam menopang aktivitas kehidupan sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan sampai orang tua asyik dengan sosial medianya masing-masing. Ada juga sebagian orang yang sudah menganggapnya sebagai kebutuhan pokok. Tidak sekedar sebagai media komunikasi dan juga sebagai media

The post Hoax yang Berkamuflase appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Masyarakat modern identik dengan pemanfaatan sosial media dan atau media elektronik lainnya dalam menopang aktivitas kehidupan sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan sampai orang tua asyik dengan sosial medianya masing-masing.

Ada juga sebagian orang yang sudah menganggapnya sebagai kebutuhan pokok. Tidak sekedar sebagai media komunikasi dan juga sebagai media untuk menyebarkan informasi antar sesama teman sejawat atau kerabat, akan tetapi juga ada yang sudah mengembangkan menjadi media untuk usaha dan semacamnya. Tidak terlepas dari pada itu, perpolitikan pada saat ini juga tidak terlepas dari pemanfaatan media sosial sebagai wahana untuk berkampanye.

Singkat kata, sosial media sudah menjadi budaya masyarakat modern mulai dari kalangan anak-anak sampai kalangan dewasa dan tua serta sudah merambah disegala bidang dalam kehidupan manusia.

Namun, belakangan ini media sosial banyak yang disalahgunakan oleh beberapa orang atau kelompok tertentu untuk menyebarkan berita bohong atau ”hoax” istilah kekinian. Hoax membuat resah pengguna sosial media lainya. Hoax merupakan berita bohong, berita yang sengaja atau tidak sengaja disebarluaskan kekhalayak umum melalui dunia maya (sosmed) yang belum tentu benar keberadaanya.

Berkamuflase

Pembuat dan penyebar berita bohong atau hoax tentu memiliki tujuan. Mereka ada yang terorganisir, ada juga yang bersifat mandiri atau individual. Ada yang bertujuan untuk menjatuhkan orang atau kelompok yang lain, ada juga yang hanya sekedar bersenang-senang belaka tanpa berfikir dampak buruk yang akan timbul setelahnya.

Pembuat hoax mempercantik bahasa dan tampilannya seolah-olah nyata dan sesuai dengan faktanya. Bahkan apabila ingin menyerang untuk merugikan orang atau kelompok lain, rela mengambil foto yang kemudian diberitakan dengan memberi narasi tidak sesuai dengan kenyataan atau kejadian yang ada pada foto tersebut.

Data yang diperoleh diolah sedemikian rupa sehingga seperti nyata, sesuai antara foto dan narasi berita yang ditulisnya. Ditambah dengan mempercantik tampilanya, berita hoax yang muncul hingga dapat mempengaruhi orang yang melihat dan membacanya percaya dan ikut memviralkanya.

Hal ini menjadi preseden buruk bagi pemanfaatan sosial media yang semakin kompleks bentuknya dan semakin luas jangkaunya. Ini juga menjadi hal yang buruk bagi pola pikir dan anggapan netizen yang sejatinya memiliki latar belakang berbeda-beda.

Kebijaksanaan

Perkembangannya, pengguna sosial media atau bisa juga disebut netizen, yang sering berinteraksi dengan sosial media sudah mulai terbiasa dengan berbagai berita yang berseliweran di wall sosial medianya. Awalnya, merasa aneh dengan berita atau informasi yang muncul karena antara berita yang baik dan yang buruk terkadang lebih banyak berita buruknya.

Namun karena seringnya berita bermunculan, maka sikap acuh dengan alamiahnya yang bisa jadi mungkin akan muncul. Namun tidak sedikit pula pengguna sosmed yang percaya dengan berita yang muncul tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu kebenaran berita tersebut. Hal ini dapat terjadi pada netizen yang sering berinteraksi dengan sosial media, terlebih lagi pada orang yang baru mengenal sosial media. Mengapa demikian, karena orang yang baru mengenal sosial media masih gandrung-gandrungnya dengan hal yang baru yaitu sosial media yang dengannya dapat berinteraksi dengan dunia luar yang lebih luas.

Disinilah pengguna media sosial harus bijaksana dalam menilai berita yang dilihat dan dibacanya. Netizen harus lebih komprehensif dalam menyikapi sebuah berita. Jangan kemudian ikut menyebarluaskan atau memviralkan berita yang belum jelas kebernaranya. Perlu adanya kross check dengan berita yang sama dari sumber yang berbeda. Mengapa hal ini perlu dilakukan oleh netizen? Karena dampak yang ditimbulkan dari menyebarluaskan berita bohong sangatlah merugikan.

Merugikan bagi diri sendiri, maupun orang lain yang percaya dan ikut menyebarluaskan berita tersebut. Undang-undang ITE menjerat pembuat dan penyebar hoax. Artinya tidak hanya yang membuat saja yang akan terkena pidana, akan tetapi yang menyebarluaskan juga akan mendapat imbasnya. Disinilah pengguna sosmed harus lebih berhati-hati dalam menyikapi berita yang masuk di wall sosial medianya. Harus lebih bijaksana walaupun terkadang mengalami kesulitan karena harus mencari berita dari sumber lainya yang berbeda.

Diakhir tulisan ini, penulis mengingatkan pada kita semua bahwa pada zaman ini telah membudaya memanfaatkan sosial media dari semua kalangan dan berbagai latar belakang yang berbeda. Melihat kondisi seperti ini, adanya berita bohong atau hoax dapat merugikan kita semua jika tersebar luas. Hoax sangat meresahkan pengguna sosial media.

Hoax dapat pula memunculkan konflik dan pertentangan-pertentangan dikalangan masyarakat. Contoh nyata yang sering terjadi adalah kurang cermatnya pengguna sosial media dalam menyikapi berita yang masuk melalui wall sosial medianya, tahu-tahu malah berurusan dengan aparat keamanan karena ikut menyebarluaskan berita yang ternyata merupakan berita bohong sehingga menimbulkan gejolak dimasyarakat luas. Maka, selalu berhati-hatilah dalam memanfaatkan sosial media. Terutama dalam menyikapi berita yang masuk dalam wall sosial medianya. Lebih baik mendiamkan dari pada menyikapi dengan ikut menyebarluaskan berita yang belum jelas kebenaranya, atau mengkalrifikasikan terlebih dahulu sebagai bentuk mencari kebenaran agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

Penulis : Bobi Hidayat, M.Pd. (Dosen FKIP UM Metro)

The post Hoax yang Berkamuflase appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/hoax-yang-berkamuflase/feed/ 0
Puasa Kontekstual Petani Sayur https://ummetro.id/puasa-kontekstual-petani-sayur/ https://ummetro.id/puasa-kontekstual-petani-sayur/#respond Sun, 19 May 2019 09:59:22 +0000 https://ummetro.id/?p=9970 Laman Opini UM Metro – Mereka, para petani telah mengajari kita untuk pandai merasa cukup. Pukul 11.00 siang di tengah terik matahari yang begitu menyengat tubuh, mereka tetap bertanam dan memanen sayur, tentu tetap berpuasa. Sedangkan kami pamit pulang duluan karena kerongkongan sudah terasa kering. Kata mereka, “jika tidak ke ladang malah terasa lemas dan

The post Puasa Kontekstual Petani Sayur appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Mereka, para petani telah mengajari kita untuk pandai merasa cukup. Pukul 11.00 siang di tengah terik matahari yang begitu menyengat tubuh, mereka tetap bertanam dan memanen sayur, tentu tetap berpuasa. Sedangkan kami pamit pulang duluan karena kerongkongan sudah terasa kering. Kata mereka, “jika tidak ke ladang malah terasa lemas dan lama puasanya”.

Lalu, sayur yang mereka panen, baik sawi, pakcoi, selada, bayam, kangkung, dan kemangi, per ikat dijual Rp. 1000 ke pedagang. Benar, hanya Rp. 1000 dan itu harga yang menggembirakan bagi mereka. Di sinilah kadang saya bingung mengkalkulasi secara ekonomi jerih payah dan keringat mereka, para petani. Di sisi lain, hal itu semakin menyadarkan kita, bahwa sulit mengukur kecukupan dan kesyukuran seseorang dari aspek ekonomi semata.

Karena, di tempat lain, banyak orang yang begitu mudah mendapatkan uang, tapi sulit merasa cukup. Kerja di ruang ber AC dan mewah, kadang hadir hanya untuk tidur di ruang rapat atau kantor, tapi tiap tahun menuntut naik gaji terus. Dan tetap tidak bisa bersyukur. Merekalah para petani yang luar biasa dan bukan kita.

Yang jelas puasa hadir dan mendidik kita untuk menahan banyak keinginan dan pandai merasa cukup. Dan mereka, para petani telah mengajarkan kepada kita puasa yang lebih kontekstual dari puasa kebanyakan orang yang hanya ritual.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si.

Lokasi : Karangrejo, Metro Utara (Mitra PPUPIK UM Metro)

The post Puasa Kontekstual Petani Sayur appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/puasa-kontekstual-petani-sayur/feed/ 0