opini Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/opini/ Solusi Sukses Masa Depan Fri, 28 Mar 2025 13:23:14 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png opini Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/opini/ 32 32 Eksistensi Keluarga dalam Pendidikan Budi Pekerti https://ummetro.id/eksistensi-keluarga-dalam-pendidikan-budi-pekerti/ Wed, 19 Oct 2022 14:36:46 +0000 https://ummetro.id/?p=15089 Opini UM Metro – Hampir setiap hari dan telah menjadi rutinitas yang dilakukan dipagi hari yaitu menengok televisi agar memperoleh informasi terbaru yang menjadi berita hangat hari itu. Beberapa saat melihat televisi, ada berita yang dikelempokkan dan bersambung karena serupa namun berbeda tempat. Yang menarik perhatian adalah dari sekian berita yang dikelompokkan, terdapat salah satu

The post Eksistensi Keluarga dalam Pendidikan Budi Pekerti appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Opini UM Metro – Hampir setiap hari dan telah menjadi rutinitas yang dilakukan dipagi hari yaitu menengok televisi agar memperoleh informasi terbaru yang menjadi berita hangat hari itu. Beberapa saat melihat televisi, ada berita yang dikelempokkan dan bersambung karena serupa namun berbeda tempat. Yang menarik perhatian adalah dari sekian berita yang dikelompokkan, terdapat salah satu berita tentang rentetan terjadinya tawuran pemuda atau pelajar yang terjadi diberbagai tempat. Mirisnya adalah, terdapat juga korban jiwa akibat peristiwa tersebut karena memang pada saat tawuran banyak yang membawa senjata tajam. Melihat berita tersebut, Selaku pendidik merasa miris dan prihatin. Apa yang menyebabkan terjadinya hal itu, pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah bahkan dipandang dan dinilai buruk banyak dipraktikkan oleh para pemuda atau pelajar diberbagai tempat. Apakah permasalahan ini hanya dibebankan pada dunia Pendidikan formal? Ataukah ada faktor dan pihak lain yang menyebabkan para pemuda atau pelajar tumbuh dan berkembang dengan budi pekerti yang kurang baik?.

Merujuk pada lingkungan belajar siswa yang tidak hanya dilingkungan sekolah, namun masyarakat dan keluarga bahkan saat ini lingkungan belajar siswa lebih luas serta global dengan kemajuan teknologi, akan memberikan gambaran bahwa ada lingkungan belajar siswa di luar sekolah yang berkontribusi membentuk budi pekerti anak. Anak akan terbentuk karakternya dimana terdapat pengaruh yang kuat terhadapnya. Diantara lingkungan belajar pembentuk karakter anak, seharusnya lingkungan keluarga yang paling kuat pembentuk karakter anak.

Menilik sejarah Pendidikan Indonesia, ada seorang tokoh Pendidikan yang hingga saat ini masih menjadi dasar pengembangan Pendidikan di Indonesia, dialah sosok Ki Hajar Dewantara. Dalam tulisan Ki Hajar Dewantara ada yang menjelaskan bahwa “keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya”.

Ki Hajar Dewantara telah memberikan penjelasanya bahwa dalam membentuk karakter baik seorang anak terutama  pembentukan watak individual, keluarga menjadi tempat yang sempurna untuk melatih kecerdasan budi pekerti. Penurunan budi pekerti yang terjadi pada pemuda saat ini yang merupakan representasi dari hasil Pendidikan budi pekerti bisa jadi disebabkan karena existensi peran keluarga yang sudah mulai menurun dan pudar. Keluarga tidak lagi menjalankan peranya sebagai tempat yang baik untuk pendidikan moral anak. Keluarga sudah tidak lagi memberikan tuntunan dan contoh baik serta kenyamanan hidup untuk anak. Sehingga anak mencari tuntunan dan contoh lain yang kurang relevan dengan budi perkerti yang seharusnya. Peran keluarga sebagai “penuntun” anak menggapai kesempurnaan budi pekerti yang dimiliki sudah mengalami penurunan bahkan pudar. Minimnya Interaksi anggota keluarga sehingga tidak ada regenerasi budi pekerti antara orang tua kepada anak.

Hal ini banyak kita jumpai dikomunitas kecil yang disebut keluarga. Orang tua sibuk sendiri dengan pekerjaanya atau dengan kegiatan lain sebagai wahana menyibukkan atau menghibur diri. Bercengkrama dengan keluarga beserta anak-anak sangat terbatas bahkan tidak pernah dilakukan. Sehingga berdampak pada perkembangan budi pekerti anak yang menurun bahkan hilang. Anak seperti kehilangan jati dirinya untuk belajar budi pekerti. Keluarga sebagai ekosistem kecil yang bertujuan menyiapkan anak hidup di masyarakat dengan baik, tidak optimal dalam menjalankan peranya.

Padahal, Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan pada kita semua bahwa “Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.”

Jelas sekali bahwa orang tua sebagai pendidik memiliki peran yang besar terhadap perkembangan budi pekerti anak. Sejauh mana peran orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya menjadi koreksi bersama. Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak dalam keluarga juga menjadi perhatian serius yang perlu segera dilakukan perubahan jika sudah tidak sesuai dengan aturan yang ada. Oleh karenanya, belajar dari beberapa pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat mengingatkan kembali akan pentingnya keluarga dalam menanamkan budi pekerti yang baik pada anak. Menumbukan kembali peran keluarga sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter yang baik.

Oleh karenanya, agar dapat menghindarkan anak dari budi pekerti yang buruk, mari kita tumbuhkan kembali existensi keluarga sebagai ruang anak mendapatkan teladan, tuntunan dan pengajaran yang baik dengan terus belajar dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter baik serta budi pekerti yang luhur melalui teladan yang diberikan. Meninjau dan berusaha mengimplementasikan kembali apa yang telah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai landasan mendidik budi pekerti yang baik dilingkungan keluarga maupun dilingkungan Pendidikan formal.

Penulis: Bobi Hidayat, Dosen FKIP UM Metro

The post Eksistensi Keluarga dalam Pendidikan Budi Pekerti appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Shelly Paparkan Cara Menumbuhkan dan Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship di Kalangan Mahasiswa https://ummetro.id/shelly-paparkan-cara-menumbuhkan-dan-mengembangkan-jiwa-entrepreneurship-di-kalangan-mahasiswa/ Tue, 19 Oct 2021 09:25:04 +0000 https://ummetro.id/?p=13947 Opini UM Metro – Menjadi pengangguran merupakan suatu keadaan yang banyak ditakuti oleh orang dewasa. Akan tetapi, membangun  jiwa wirausaha pun tidaklah mudah sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri. Saat ini kebanyakan orang lebih fokus mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan, yang mana persaingan dalam dunia kerja pun semakin ketat. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita dapat

The post Shelly Paparkan Cara Menumbuhkan dan Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship di Kalangan Mahasiswa appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Opini UM Metro – Menjadi pengangguran merupakan suatu keadaan yang banyak ditakuti oleh orang dewasa. Akan tetapi, membangun  jiwa wirausaha pun tidaklah mudah sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri. Saat ini kebanyakan orang lebih fokus mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan, yang mana persaingan dalam dunia kerja pun semakin ketat.

Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita dapat mencari solusi atas permasalahan yang kita hadapi. Maka untuk dapat menghindari pesatnya dunia kerja yang semakin menyempitkan peluang kita, kita perlu menumbuhkan dan mengembangkan jiwa wirausaha pada kalangan mahasiswa.

Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa entrepreneurship dikalangan mahasiswa adalah tema artikel kita kali ini. Mahasiswa adalah  sebagai agent of change juga agent of control masa depan haruslah mampu mengembangkan ilmu yang telah mereka serap di dunia perkampusan sebagai bekal dasar sebelum mahasiswa menginjakkan kaki mereka di lingkungan masyarakat secara utuh.

Dasar-dasar nilai kehidupan yang sudah mereka timba dilingkungan kampus seharusnya telah menjadi pondasi dalam berpijak di masyarakat dan bersosialisasi sesuai dengan lingkungan mereka. Dan untuk itu, diperlukan adanya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang didalamnya membantu mahasiswa untuk menambah wawasan kewirausahaan serta membantu mahasiswa dalam mengembangkan skill berwirausaha dan berbisnis.

Sebagai solusi untuk berbagai permasalahan yang telah dijabarkan sebelumnya, serta tuntutan dari motto UM Metro solusi sukses masa depan. Maka hadirlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Entrepreneur Club yang nantinya dapat menjadi wadah berkembangnya mahasiswa khususnya di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis.

Di mana didalam Entrepreneur Club ini kita dapat membangun serta mengembangkan skill berwirausaha dan berbisnis mahasiswa. Sehingga melahirkan generasi muda yang aktif, kreatif dan inovatif.

Di dalam Entrepreneur Club kita dituntut untuk aktif, berdaya, bercipta, berkasa dan bersahaja dalam kegiatan wirausaha maupun kiprahnya. Yang mana hal ini sangat penting bagi mahasiswa terutama mahasiswa ekonomi dan bisnis.

Entrepreneurship sendiri merupakan kemampuan dan kemauan nyata seorang individu, yang berasal dari diri mereka sendiri, dalam tim di dalam maupun luar organisasi yang ada, untuk menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Di Amerika ada budaya keinginan seseorang untuk menjadi bos sendiri memiliki peluang individual, menjadi sukses dan menghimpun kekayaan. Hal ini merupakan aspek yang utama dalam mendorong berdirinya kegiatan kewirausahaan.

Beberapa motivasi yang mendorong seseorang berwirausaha antara lain;

  • Pertama alasan keuangan, yaitu untuk mencari nafkah, untuk menjadi kaya atau untuk mencari pendapatan tambahan.
  • Kedua alasan sosial, yaitu untuk memperoleh gengsi/status untuk dapat dikenal dan dihormati atau agar dapat bertemu dengan orang banyak.
  • Ketiga alasan pelayanan, yaitu untuk memberi pekerjaan pada masyarakat, untuk membantu ekonomi masyarakat, untuk masa depan anak dan keluarga.
  • Keempat alasan pemenuhan diri, yaitu untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau untuk menjadi lebih produktif

Dorongan membentuk wirausaha juga dapat berasal dari teman pergaulan, lingkungan maupun organisasi tertentu. Mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasi masalahnya. Dan dengan adanya Entrepreneur Club diharapkan dapat mendorong mahasiswa agar termotivasi untuk berwirausaha ataupun untuk membantu mengembangkan skill berwirausahanya.

Penulis: Shely Alfiana (Mahasiswa S1 Akuntansi/Entrepreneur Club)

The post Shelly Paparkan Cara Menumbuhkan dan Mengembangkan Jiwa Entrepreneurship di Kalangan Mahasiswa appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Insan Profetik Profesional Menjadi Standar Lulusan Muhammadiyah https://ummetro.id/insan-profetik-profesional-menjadi-standar-lulusan-muhammadiyah/ Fri, 20 Aug 2021 09:31:47 +0000 https://ummetro.id/?p=13642 Laman Opini UM Metro – Kemajuan zaman saat ini berhasil menghantarkan keterbukaan informasi yang masif termasuk ilmu pengetahuan yang dapat diakses banyak orang melalui smartphone atau pun laptop dari mulai anak-anak hingga orang dewasa sekalipun. Keterbukaan informasi yang signifikan atas dorongan teknologi digitalisasi kini mampu menembus batas dan waktu yang dulu sempat menjadi penghalang bagi

The post Insan Profetik Profesional Menjadi Standar Lulusan Muhammadiyah appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Kemajuan zaman saat ini berhasil menghantarkan keterbukaan informasi yang masif termasuk ilmu pengetahuan yang dapat diakses banyak orang melalui smartphone atau pun laptop dari mulai anak-anak hingga orang dewasa sekalipun. Keterbukaan informasi yang signifikan atas dorongan teknologi digitalisasi kini mampu menembus batas dan waktu yang dulu sempat menjadi penghalang bagi para pelajar untuk menggali ilmu pengetahuan yang mendalam. Jika para generasi dulu harus berkelana dan berduyun mencari sosok guru sebagai tempat ilmu pengetahuan berkumpul, sebagian yang lain bahkan rela menghabiskan waktunya berjam-jam di perpustakaan. Namun saat ini semua ilmu pengetahuan dapat dipelajari dengan sangat gamblang, sangking gamblangnya tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari dan dicari dengan memanfaatkan aplikasi pencarian yang tersedia di smartphone kesayangan generasi muda saat ini.

Hal ini makin masif dipraktikkan sejak Pandemi Covid-19 merambat ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) yang dulu sempat asing di telinga masyarakat Indonesia, kini menjadi terdengar seakan hal yang normal. Bahkan tidak sedikit frasa pembelajaran daring menjadi perbincangan pelajar SD hingga mahasiswa Perguruan Tinggi. Semua tugas yang diberikan baik oleh guru maupun dosen dapat dengan mudah dijawab mereka. Entah jawaban tersebut datang dari buah pikir dan kerja tangan mereka sendiri, atau justru banyak bayang-bayang lain yang ikut andil dalam proses penanaman ilmu pengetahuan sebagai modal sukses di masa depan. Hal yang pasti adalah, informasi yang mereka butuhkan sudah tertuang dan tersaji dengan baik di internet sehingga tugas demi tugas yang mereka terima dapat dengan mudah terselesaikan. Hanya saja hal yang perlu dipikirkan bagi tenaga pengajar bagaimana membuat mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka baca apalagi menjadikannya sebagai jawaban mutlak, melainkan bagaimana sang pendidik mampu membuat mereka memahami hal tersebut kemudian membuat jawaban dengan menggunakan kalimat mereka sendiri yang disebut parafrasa.

Kemajuan teknologi ini juga berhasil menghantarkan para pejuang ilmu belajar mandiri. Mereka mampu mengulik informasi semau mereka sehingga tidak mengherankan jika di dalam proses pembelajaran sebagian pelajar kadang lebih memahami suatu persoalan ketimbang pengajarnya. Jika dulu tenaga pengajar diuntungkan karena pengalaman, maka sekarang generasi muda dapat belajar dengan lebih cepat karena bantuan teknologi yang sudah tak terbendung lagi. Jika generasi muda mampu memanfaatkan teknologi tersebut ke arah yang positif untuk menggali ilmu pengetahuan, maka ke depan mereka akan menjadi generasi yang kuat, tangguh, dan profesional di bidangnya. Apalagi kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) perihal kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang membuat pelajar memiliki kesempatan untuk menggali potensi yang mereka miliki seluas-luasnya. Para pelajar diberikan kebebasan untuk memilih tempat belajar tidak hanya terbatas di ruang kelas, perpustakaan, atau pun di laboratorium saja akan tetapi mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di perindustrian secara langsung, pusat riset, tempat kerja, tempat pengabdian, pedesaan, dan masyarakat sesuai dengan potensi, bakat, minat, spirit dan cita-cita yang mereka inginkan. Karena pemerintah menginginkan generasi muda saat ini siap menjadi lulusan yang tangguh, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan zaman, serta siap menjadi pemimpin di masa depan dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Hanya saja, hal ini perlu perhatian khusus dari aspek sikap atau afektif. Kemajuan zaman seringkali membuat perilaku generasi muda justru bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Sehingga seringkali ditemukan perilaku siswa kurang santun dalam bersikap kepada yang lebih tua baik kepada tenaga pengajar, orang tua maupun masyarakat umum. Sikap acuh tak acuh juga menjadi salah satu karakter generasi muda saat ini akibat kebiasaan mereka yang cenderung menyukai pengoperasian smartphone sebagai tempat mencari solusi dari semua persoalan ketimbang mendiskusikannya dengan orang lain. Padahal Islam telah mengajarkan bahwa mengedepankan adab ketimbang ilmu adalah keniscayaan sebagaimana yang disampaikan ulama besar kita Ibnul Mubarok, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Sangking pentingnya adab, Muhammadiyah melalui Amal Usahanya yang bergerak di dunia Pendidikan menjadikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai mata pelajaran/mata kuliah yang wajib diikuti oleh semua pelajar. Hal ini tak lain adalah langkah Muhammadiyah untuk memberikan keseimbangan antara kognitif, afektif dan psikomotor para pelajar. Langkah yang sama juga untuk menyeimbangkan antara hati nurani dengan logika berpikir. Sebagian pelajar bisa saja dalam mengambil sikap terhadap suatu permasalahan mengandalkan logika tanpa memperhatikan hati nurani mereka, apakah yang mereka kerjakan sudah benar atau justru sebaliknya. Para pelajar di Muhammadiyah hendaknya menjadikan aspek profetik (Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah) sebagai pintu gerbang dalam mempertimbangkan sesuatu sementara logika akan menjadi langkah untuk mengerjakan sesuatu halnya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21, “Sungguh, telah ada para (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Jika aspek profetik yang didasarkan pada empat sifat nabi menjadi pangkal mengambil kebijakan maka tentu tindakan yang diambil oleh para pelajar akan sesuai dengan hati Nurani yang Allah ciptakan condong pada kebenaran.

Penanaman nilai-nilai profetik ini akan menjadi pengikat bagi lulusan-lulusan Muhammadiyah di mana nanti di masa depan mereka tidak hanya profesional di bidangnya semata, akan tetapi juga dapat memanfaatkan keahliannya agar berguna bagi dirinya sendiri, orang lain, dan bangsa. Hal ini akan membuat mereka menargetkan hal baru sebagai capaian akhir yakni keindahan tempat di akhirat, bukan hanya sekedar kebahagiaan di dunia saja. Sehingga jika nanti mereka menjadi ahli hukum, mereka akan menjadi ahli hukum yang menegakkan keadilan sesuai hati nurani mereka yang akan mengedepankan aspek hukum sebab akibat dalam mengambil keputusan. Jika mereka menjadi akuntan, mereka akan menjadi akuntan yang adil dan jujur dalam menghitung segala halnya bukan hanya mengandalkan standar administrasi namun juga kejujuran yang berdasarkan hati nurani. Jika mereka menjadi dokter, mereka akan mengedepankan aspek kemanusiaan ketimbang hanya menjadikan uang sebagai syarat penanganan atas jasa keprofesionalan mereka. Begitulah mestinya lulusan Muhammadiyah dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed.

The post Insan Profetik Profesional Menjadi Standar Lulusan Muhammadiyah appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Signifikasi Peran Mahasiswa Bagi Kemajuan Perguruan Tinggi https://ummetro.id/signifikasi-peran-mahasiswa-bagi-kemajuan-perguruan-tinggi/ Fri, 20 Aug 2021 09:29:34 +0000 https://ummetro.id/?p=13639 Laman Opini UM Metro – Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memberikan peluang besar-besaran bagi mahasiswa untuk semakin tumbuh dan berkembang baik dalam aspek non-teknis (soft-skills) maupun aspek teknis (hard-skills). Semua perguruan tinggi mulai dituntut untuk mengadaptasi perubahan kurikulum MBKM ini ke dalam kurikulum Program Studi

The post Signifikasi Peran Mahasiswa Bagi Kemajuan Perguruan Tinggi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memberikan peluang besar-besaran bagi mahasiswa untuk semakin tumbuh dan berkembang baik dalam aspek non-teknis (soft-skills) maupun aspek teknis (hard-skills). Semua perguruan tinggi mulai dituntut untuk mengadaptasi perubahan kurikulum MBKM ini ke dalam kurikulum Program Studi yang akan berdampak pada aktivitas pembelajaran termasuk sepak terjang mahasiswa. Mahasiswa yang sigap dalam menyambut program MBKM ini akan menjadi sosok yang berkemajuan yang tidak hanya memberikan efek bagi dirinya sendiri, namun juga bagi perguruan tinggi tempat di mana ia bernaung.

Meski sejatinya pengembangan kurikulum merupakan hak progratif perguruan tinggi, namun perguruan tinggi harus tetap memperhatikan acuan Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang tertuang dalam Permendikbud No.3 Tahun 2020 di mana pengembangan kurikulum seharusnya menghantarkan mahasiswa untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu serta membentuk budi pekerti luhur sehingga dapat berkontribusi untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan, kebhinekaan, serta mendorong semangat kepeduliaan kepada sesama bangsa dan umat manusia untuk meningkatkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan serta kejayaan bangsa Indonesia. Hal ini tentu sejalan dengan program MBKM yang akan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terus tumbuh.

Setidaknya ada delapan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang sudah dibuat oleh Kemdikbud Ristek dewasa ini yakni Pertukaran Pelajar, Magang/Praktik Kerja, Asisten Mengajar di Satuan Pendidikan, Penelitian/riset, Proyek Kemanusiaan, Kegiatan Wirausaha, Studi/Proyek Independen, dan Membangun Desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik. Sampai saat ini mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro baru mengikuti tiga dari delapan program tersebut yakni Kampus Mengajar, Pertukaran Pelajar/Mahasiswa, dan Program Magang. Tentu hal ini sangat membanggakan bagi UM Metro. (https://www.maceradrinks.com/) Mahasiswa UM Metro menunjukkan kesiapannya menyambut program yang spetakuler ini baik secara mental maupun materil. Selain itu, kesuksesan sekelompok mahasiswa UM Metro yang telah berhasil menuntaskan program kampus mengajar di Angkatan 1 juga berhasil mendorong mahasiswa UM Metro lainnya untuk mengikuti kegiatan yang sama di Angkatan 2. Apabila budaya ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin kedelapan program yang digagas Kemdikbud tersebut akan disambut dan dilaksanakan oleh mahasiswa UM Metro dengan sangat baik sehingga persentase pemeringkatan perguruan tinggi bagi UM Metro di bidang kemahasiswaan juga akan terus naik.

Lalu apa saja keuntungan bagi mahasiswa UM Metro mengikuti program MBKM. Jika menilik dari tujuan awalnya, kebijakan MBKM ini merupakan kerangka untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan zaman, serta siap menjadi pemimpin di masa depan dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Melalui kebijakan ini pula, kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkaya, memperdalam, serta meningkatkan wawasan dan kompetensinya terbuka luas di dunia nyata sesuai dengan potensi, bakat, minat, spirit dan cita-citanya. Hal ini tentu sejalan dengan visi UM Metro yang berbunyi “Pusat Keunggulan Profetik Profesional, Modern dan Mencerahkan” di mana mahasiswa UM Metro ke depan akan menjadi sarjana yang unggul dan siap bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi lainnya.

Selain itu, hal yang juga tak kalah menarik bagi mahasiswa adalah kebebasan memilih tempat belajar juga terbentang luas bagi mahasiswa di mana mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, perpustakaan, atau pun di laboratorium saja. Mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di perindustrian, pusat riset, tempat kerja, tempat pengabdian, pedesaan, dan masyarakat. Melalui kerja sama yang erat antara UM Metro dengan dunia kerja dan dunia industri, ke depan UM Metro akan hadir sebagai mata air bagi kemajuan dan pembangunan bangsa Indonesia melalui lulusan-lulusan yang sergap dan siap untuk terjun di bidangnya masing-masing.

Dengan kebijakan ini pula, kompetensi lulusan UM Metro akan meningkat, baik dari segi keterampilan nonteknis (soft-skills) mau pun keterampilan teknis (hard-skills). Sehingga lulusan UM Metro akan lebih siap dan selaras dengan kebutuhan zaman, serta lebih cakap sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. Program pembelajaran berbasis pengalaman (experimental learning) dengan jalur yang fleksibel diharapkan akan dapat memfasilitasi mahasiswa UM Metro mengembangkan potensinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Apa yang dicapai oleh mahasiswa UM Metro dalam kegiatan MBKM yaitu Kampus Mengajar sebanyak 47 orang mahasiswa, Pertukaran Mahasiswa dan Magang yang jumlahnya sedang dalam pendataan akan terus ditingkatkan di masa-masa mendatang agar mencapai jumlah yang ideal sesuai dengan ketentuan dalam SIMKATMAWA. Proram yang belum diikuti oleh mahasiswa, akan terus didorong, sehingga mahasiswa UM Metro selalu dapat mengikuti perkembangan zaman. UM Metro telah menerapkan Kurikulum MBKM bagi mahasiswa angkatan 2020/2021, namun kegiatan MBKM telah diikuti oleh mahasiwa angkatan sebelumnya. Ini berarti bahwa mahasiswa UM Metro sangat mendukung program pemerintah Republik Indonesia.

Pimpinan Perguruan Tinggi sangat mengapresiasi mahasiswa UM Metro yang telah mengikuti program MBKM dengan memberikan layanan administrasi dan pengakuan atau rekognisi bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan program MBKM seperti Kampus Mengajar melalui penyusunan panduan rekognisi dan Standar Operasional Prosedurnya yang dibiayai melalui anggaran Wakil Rektor III. Hal tersebut sebagai wujud perhatian nyata Wakil Rektor III dalam menyambut program MBKM ini. Diharapkan dengan perhatian yang besar tersebut kan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa secara signifikan dalam membangun bangsa terbuka luas di depan mata mereka melalui program MBKM yang berlangsung selama mereka duduk di perguruan tinggi mulai terpatri ke dalam sanubari mereka, maka visi UM Metro untuk menjadi pusat keunggulan profetik professional, modern dan mencerahkan secara bertahap akan terwujud.

Penulis: Drs. Anak Agung Oka, M.Pd. (Wakil Rektor III UM Metro)

The post Signifikasi Peran Mahasiswa Bagi Kemajuan Perguruan Tinggi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Kesiapan Keuangan Perguruan Tinggi Menghadapi MBKM https://ummetro.id/kesiapan-keuangan-perguruan-tinggi-menghadapi-mbkm/ Fri, 20 Aug 2021 09:22:37 +0000 https://ummetro.id/?p=13636 Laman Opini UM Metro – Saat ini perguruan tinggi di Indonesia baik negeri ataupun swasta tengah berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas internal dalam menjalankan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Penerapan MBKM ini didasarkan adanya tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, kompetensi dan keterampilan di era 4.0 menuju era 5.0. MBKM sendiri merupakan desain lanjutan dari penerapan kurikulum program

The post Kesiapan Keuangan Perguruan Tinggi Menghadapi MBKM appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Saat ini perguruan tinggi di Indonesia baik negeri ataupun swasta tengah berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas internal dalam menjalankan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Penerapan MBKM ini didasarkan adanya tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, kompetensi dan keterampilan di era 4.0 menuju era 5.0. MBKM sendiri merupakan desain lanjutan dari penerapan kurikulum program studi berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang berorientasi pada keutuhan capaian kompetensi pembelajaran, meliputi unsur sikap/tata nilai, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus.

Kebijakan KKNI secara tidak langsung menuntut semua pengelola program studi dapat menyempurnakan dokumen kurikulum yang menjadi acuan dosen mahasiswa dalam perkuliahan. Mulai dari pemutakhiran visi lembaga, penyesuaian profil utama dan tambahan, keterkaitan capaian pembelajaran (learning outcome), bahan kajian, hingga penetapan struktur kurikulum dengan kelayakan sistem kredit semester (sks). Prinsip utama dalam KKNI tentu saja bukan berapa banyak jumlah mata kuliah yang ditawarkan, tetapi seberapa besar kompetensi itu muncul dalam mata kuliah.

Sesuai regulasinya MBKM dilakukan dengan penyiapan kurikulum sebagai wadah rekognisi pembelajaran/kegiatan/aktivitas mahasiswa yang merdeka. Kebebasan pembelajaran/kegiatan/aktivitas akan diatur sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah dijanjikan. Terkait kebijakan tersebut, dalam Permendikbud No.3 tahun 2020 menyebutkan bahwa Perguruan Tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela (dapat diambil atau tidak), berupa penyediaan kesempatan mengikuti kegiatan di luar perguruan tinggi, diitambah lagi aktifitas perkuliahan satu semester di luar program studi di kampus yang sama.

Kebijakan MBKM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas dan kompetensi baru melalui beberapa kegiatan pembelajaran. Selain itu, mahasiswa juga diberikan kebebasan untuk mengikuti kegiatan belajar di luar program studinya di dalam perguruan tinggi yang sama dengan bobot sks tertentu. Semua kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan bimbingan dosen.

Implementasi MBKM dalam Perguruan Tinggi sejatinya hanya bertolak pada dua kegiatan besar, yang pertama, penyediaan perkuliahan 20 sks di luar prodi yang masih dalam satu institusi, dan kedua, penyediaan program atau kegiatan yang setara dengan 40 sks. Bagi mahasiswa, adanya program MKBM tentu sangat menguntungkan, antara lain peningkatan kompetensi, dan pengalaman baru (new experiences) sesuai kebutuhan mereka. Dari sisi jumlah distribusi mata kuliah yang dipilih jauh lebih simpel, karena boleh jadi mata kuliah tertentu tidak lagi dikuliahkan karena sudah berganti, terekognisi dengan kegiatan MBKM.

Dari sisi keuangan perguruan tinggi, pelaksanaan MBKM saat ini tidak berdampak pada stabilitas keuangan. Artinya pelaksanaan MBKM yang bersifat masih dalam jaringan (daring) tidak membutuhkan biaya akomodasi baik itu dari perguruan tinggi ataupun mahasiswa yang mengikuti MBKM. Kebijakan pemerintah saat ini tentang MBKM dapat berjalan dengan dana APBN atau dana mandiri. Untuk dana APBN adalah mahasiswa tetap membayar SPP di perguruan tinggi masing-masing walaupun mereka mengambil beberapa mata kuliah di perguruan tinggi lain. Hal ini sangat menguntungkan perguruan tinggi swasta karena tidak semua perguruan tinggi sudah memiliki nama di mata mahasiswa Indonesia. Sehingga kemungkinannya sangat kecil PTS tersebut untuk dipilih mahasiswa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa akan memilih kampus besar dengan penawaran mata kuliah unggulan yang menarik. Hal ini secara tidak langsung membuat kampus-kampus kecil kalah bersaing dengan kampus besar yang mayoritas ada di pulau Jawa. Sedangkan syarat berlangsungnya kelas MBKM apabila kuota mahasiswa mencapai 20 orang untuk 1 mata kuliah yang ditawarkan.

Saat ini pelaksanaan MBKM masih berdasarkan seleksi yang diadakan oleh Kemdikbud Ristek. Mahasiswa yang lulus seleksi MBKM dapat memilih mata kuliah yang ditawarkan pada perguruan tinggi yang telah ditentukan. Sehingga untuk pembiayaan masih ditanggung oleh APBN seutuhnya, baik itu untuk kepentingan perkuliahan ataupun akomodasi dosen. Namun akan berbeda bila pelaksanaan MBKM dilaksanakan secara luring dan mandiri. Mahasiswa akan membayar SPP sejumlah yang ditentukan oleh perguruan tinggi yang dituju, selain itu juga mahasiswa harus menyiapkan dana untuk tempat tinggal dan biaya hidup.

Pelaksanaan MBKM secara mandiri ini akan menguntungkan perguruan tinggi yang memiliki banyak peminat karena akan mendapat pemasukan tambahan dari mahasiswa luar. Sedangkan bagi perguruan tinggi kecil hal ini akan menjadi bumerang besar karena mahasiswa akan memilih kampus luar yang lebih besar dan secara otomatis mereka akan membayar SPP dikampus tersebut.

Kondisi keuangan perguruan tinggi dapat dipastikan goyah karena jumlah pemasukan yang bersumber dari SPP akan berkurang. Hal ini yang menjadi ancaman sekaligus tantangan PTS yang berada di luar pulau Jawa khususnya Sumatra. Bagaimana Perguruan Tinggi dapat membuat kampusnya layak jual di mata mahasiswa.

Penulis: Suyanto, S.E., M.Si., Akt., CA., ACPA., CRA. (Wakil Rektor II UM Metro)

The post Kesiapan Keuangan Perguruan Tinggi Menghadapi MBKM appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Perspektif MBKM dalam Pendidikan Tinggi https://ummetro.id/perspektif-mbkm-dalam-pendidikan-tinggi/ Fri, 20 Aug 2021 02:51:40 +0000 https://ummetro.id/?p=13629 Laman Opini UM Metro – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, dengan sasaran adalah: 1) Meningkatnya kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan tinggi; 2) Meningkatnya kualitas dosen dan tenaga kependidikan; dan 3) Terwujudnya tata kelola Ditjen

The post Perspektif MBKM dalam Pendidikan Tinggi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, dengan sasaran adalah: 1) Meningkatnya kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan tinggi; 2) Meningkatnya kualitas dosen dan tenaga kependidikan; dan 3) Terwujudnya tata kelola Ditjen Pendidikan Tinggi yang berkualitas. Khususnya pada sasaran nomor 1 dan nomor 2, maka perguruan tinggi harus melakukan transfomasi dalam melaksanakan pendidikan tinggi yang relevan dengan dinamika kekinian dari masyarakat dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan kapasitas dan kualitas proses dan pengelolaaan pendidikan menjadi fokus perguruan tinggi. Perguruan tinggi pada era revolusi industri 4.0 ini harus mampu mendisrupsi diri dan menyiapkan mahasiswa sebagai pembelajar sepanjang hayat yang responsif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Untuk itu kampus perlu membuka kesempatan setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi sesuai peminatan masing-masing mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman atau experience learning.

Perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tnggi harus merujuk kepada standar nasional pendidikan tinggi (SN-Dikti) sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor: 3 Tahun 2020 Tanggal 24 Januari 2020 tentang Sandar Nasional Pendidikan Tinggi khususnya Pasal 18 Ayat (3) yang telah dioperasionalkan sebagai “kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)”. Panduan MBKM telah dterbitkan berupa dokumen  Buku Saku Panduan Merdeka Belajar Kampus Merdeka oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020.

Perlu diketahui bahwa ide “Merdeka Belajar” ini diakui oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim bahwa dirinya bukanlah sebagai “penggagas merdeka belajar, melainkan Ki Hajar Dewantara”. Hakikat tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu melahirkan insan yang merdeka dan berbudaya. Insan merdeka merupakan orang-orang yang mampu mandiri dan berdikari, dalam konteks saat ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bekerja, memanfaatkan teknologi dan keterampilannya untuk tidak bergantung pada orang lain untuk menentukan masa depannya sendiri.

Nadiem Anwar Makarim berdalih “hanya melanjutkan gagasannya Ki Hajar Dewantara”. Pernyataan tersebut disampaikan di dalam agenda Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ketika menyelenggarakan seminar berseri secara daring bekerja sama dengan FDTI pada. Webinar seminar daring seri ke-6 yang mengusung tema “Tantangan Mewujudkan Kampus Merdeka”. Melalui kebijakan ini, Mendikbud membuka ruang belajar seluas-luasnya bagi para siswa dan mahasiswa. Khusus bidang pendidikan tinggi, menerapkan kebijakan Kampus Merdeka sebagai kebijakan Merdeka Belajar.

Payung Kebijakan Merdeka Belajar

Dalam suatu kesempatan disampaikan oleh Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Nizam, mengatakan bahwa kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menjadi dasar perguruan tinggi dalam menjalankan program dan kegiatan. “Ada empat kebijakan penting dalam Kampus Merdeka yaitu: 1) Pembukaan Program Studi Baru, 2) Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi, 3) Perguruan Tinggi Badan Hukum, dan 4) Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi yang setiap kebijakannya memiliki payung hukum masing-masing.

Kebijakan Pembukaan Program Studi Baru diatur dalam Permendikbud No. 5 dan 7, Kebijakan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi diatur dalam Permendikbud No.5, Perguruan Tinggi Badan Hukum pada Permendikbud No. 4 dan 6 serta Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi dipayungi Permendikbud No.3”. Lima Peraturan Mendikbud (Permendikbud) sebagai landasan penerapan Merdeka Belajar Kampus Merdeka yaitu: 1) Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, 2) Permendikbud No. 4 Tahun 2020 tentang Perubahan Perguruan Tinggi Negeri menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum, 3) Permendikbud No. 5 tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi, 4) Permendikbud No. 6 tahun 2020 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tingggi Negeri, dan 5) Permendikbud No. 7 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri dan Pendirian, Perubahan dan Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta.

Kampus Merdeka, diibaratkan oleh Nadiem Anwar Makarim Belajar di Luar Prodi seperti belajar di laut lepas. Kombinasi kegiatan pembelajaran mahasiswa S-1 di luar kampus ini nantinya diserahkan untuk diatur oleh masing-masing rektor perguruan tinggi tempat mahasiswa berkuliah. Mendorong mahasiswa mendapatkan pengalaman baru di luar kelas untuk mencari pengalaman baru, terdapat perubahan pengertian mengenai sks. Setiap sks diartikan sebagai ‘jam kegiatan’, bukan lagi ‘jam belajar’ Pembelajaran di luar prodi dilakukan untuk mendorong pengembangan sikap adaptif mahasiswa menghadapi dunia pasca kuliah.

 Hakikat MBKM

Kebijakan Kampus Merdeka menurut Nadiem Anwar makarim yang lebih penting adalah bagaimana kita memperbarui pola pikir yang dewasa; memperbarui pola pikir untuk mengambil risiko dan mencoba hal yang baru. “Kita harus mulai sadar yang dibutuhkan mahasiswa sangat berbeda dengan apa yang dibutuhkan oleh generasi di masa dulu. Kita harus memikirkan untuk mahasiswa”. Untuk itu  pada saat ini dibutuhkan gebrakan di perguruan tinggi yang positif. Kampus Merdeka adalah suatu metode atau suatu filsafat, terrmasuk dengan turunan-turunan kebijakannya yang terus bergulir. Ini bukan suatu yang statis, ini akan terus berkembang melalui program-program pemerintah,”.  Kebijakan Kampus Merdeka diyakini merupakan salah satu cara membongkar birokrasi administrasi di perguruan tinggi. Kebijakan Kampus Merdeka akan membawa sivitas akademika di perguruan tinggi seperti dosen dan mahasiswa memiliki kemerdekaan dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu, mereka memiliki akses yang luas untuk belajar mendapatkan ilmu di program studi baik di dalam dan luar kampus.

Dosen berperan sebagai fasilitator dalam proses pertukaran ilmu, menyusun kurikulum yang berorientasi dan berbasis pada proyek keilmuan, kelompok mahasiswa berbasis proyek keilmuan, partisipasi dalam debat studi kasus, dan lainnya. Menurut Nadiem Anwar Makarim, yang membuatnya inovatif adalah cara berpikir. Perubahan ini bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu bertahan, beradaptasi, dan memiliki kemampuan non-teknis untuk hidup dan bekerja dalam masyarakat. Lulusan memerlukan modal bagi kehidupan mereka di masa depan, bukan di kehidupan saat ini saja.  Profil lulusan dalam peta jalan pendidikan Indonesia, mencakup enam profil, antara lain: 1) berintegritas spiritualitas, 2) berwawasan kebhinekaan, 3) mandiri, 4) gotong royong, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Pendidikan tinggi harus mampu mendorong orang bukan hanya bisa dalam bidang apa, melainkan orang ini punya kemampuan dan kemauan terus belajar seumur hidup sesuai dengan akselerasi perubahan ekonomi, adaptif, kolaboratif, kreatif, dan berpikiran terbuka.

Beban Belajar Merdeka Belajar

Merdeka belajar bagi mahasiswa jenjang Sarjana Satu (S1) diwujudkan di dalam kebebasan untuk memilih kegiatan pembelajaran di luar prodi  yang diambil selama dua semester atau setara 40 sks. Perguruan tinggi wajib memberikan pilihan kegiatan pembelajaran di luar program studi. Setiap kegiatan yang dipilih mahasiswa harus dibimbing oleh seorang dosen yang ditentukan oleh kampus. Daftar kegiatan yang dapat diambil oleh mahasiswa dapat dipilih dari program yang ditentukan pemerintah dan/atau program yang disetujui oleh rektor,”.

Kegiatan yang bisa dipilih mahasiswa S1 untuk belajar untuk memenuhi bobot sks selama dua semester di luar kampus seperti:  1) magang dan praktik kerja, 2) mengajar di salah satu sekolah di daerah terpencil, 3) melakukan penelitian, 4) membantu proyek penelitian dosen, dan 5)  membantu penelitian mahasiswa jenjang S2 dan S3. Bahkan oleh Nadiem Anwar Makarim, “Mahasiswa itu juga bisa bekerja sama dengan dosen untuk menciptakan suatu kurikulum sendiri, suatu project independent study”.

Mahasiswa, juga bisa memilih berkontribusi di desa atau sering dikenal sebagai Kuliah Kerja Nyata selama satu tahun. Pilihan lainnya adalah melakukan pertukaran mahasiswa antar universitas baik di dalam maupun di luar negeri. “Entrepreunership, mahasiswa ingin merintis suatu start up yang dibina oleh dosen itu juga diperbolehkan. Jadi persetujuan (kegiatan) ini dari dua pihak yang melakukannya, satu rektor dan yang kedua adalah kementerian,”.  Beban satuan kredit semester (sks) yang wajib diambil di prodi asal adalah sebanyak 5 semester dari total semester yang harus dijalankan. Namun demikian, kebebasan untuk menentukan pembelajaran di luar prodi dan kampus ini tidak berlaku untuk prodi di rumpun ilmu Kesehatan.

Fasilitasi Ditjen Dikti bagi Perguruan Tinggi dalam MBKM

Dalam penyelengggaraan MBKM di perguruan tinggi secara nasional oleh Plt Dirjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Nizam mengungkapkan dalam implementasi kebijakan Kampus Merdeka membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak mulai dari civitas akademika, kementerian lain hingga dunia industri. Dalam konteks di lapangan secara lintas kementerian,  kerja sama penerapan program Kampus Merdeka akan segera dijalin dengan Kementerian Pembangunan Desa dan Transmigrasi (PDT) dengan tema Kampus Merdeka untuk Desa. “Mahasiswa yang melakukan pengabdian kepada masyarakat ataupun mengajar di daerah terpencil akan dihitung ke dalam sks perkuliahan. Mahasiswa akan diminta partisipasinya dalam membangun desa dan mengawal implementasi Dana Desa”. Dalam kerja sama dengan dunia industri juga, akan semakin ditingkatkan agar “link and match” antara perguruan tinggi dengan dunia industri akan semakin baik. Dengan kebijakan baru, mahasiswa memiliki kesempatan untuk magang di dunia industri dengan jangka waktu lebih lama, maksimal 3 (tiga) semester.

Ditjen Pendidikan Tinggi akan menyiapkan rambu-rambu petunjuk teknis pelaksanaan kebijakan Kampus Merdeka, untuk kemudian setiap kampus dapat mempelajarinya dan menyesuaikannya dengan dengan kondisi kampus masing-masing. “Inovasi dan kreativitas pengelola perguruan tinggi menjadi penting dalam penerapan kebijakan Kampus Merdeka ini. Pertukaran mahasiswa yang biasanya sering dilakukan dengan kampus di luar negeri, saat ini juga didorong juga dilakukan antar perguruan tinggi dalam negeri.

Menurut Nizam kebijakan ini akan saling menguntungkan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Perlindungan terhadap mahasiswa magang juga akan menjadi perhatian Kemendikbud, agar mendapatkan hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan yang berlaku. “Dengan durasi magang lebih lama, mahasiswa dapat memperoleh kompetensi lebih baik di perusahaan. Dunia industri juga mendapatkan manfaat lebih, karena mahasiswa magang akan mendapatkan waktu cukup untuk memahami suatu pekerjaan. Mahasiswa magang dengan kompetensi baik, tentu akan menjadi kandidat pertama ketika perusahaan tersebut melakukan rekrutmen pegawai. Dosen pendamping magang juga dapat memperbaharui bahan ajar sesuai dengan perkembangan kebutuhan dunia industri dan masyarakat”.

Penutup

Menutup tulisan ini, merujuk kepada Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Nizam (2020), pada saat menjadi pembicara kunci pada webinar dengan tajuk “Membangun Kolaborasi Triple Helix Transportasi dan Logistik melalui Transformasi Kampus Merdeka” yang diselenggarakan oleh Institut Transportasi dan Logistik Trisakti Merajut Ekosistem Pentahelix Melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka,  setiap mahasiswa memiliki rencana masa depannya masing-masing. Hal ini tidak bisa diseragamkan dalam kerangka yang sempit melalui kurikulum yang sangat rigid dari ruang kelas dan laboratorium semata. “Kampus menjadi fasilitator bagi mahasiswa memperluas cakrawala dan ruang belajar sesuai dengan minat serta bakat masing-masing mahasiswa. Spirit inilah yang menjiwai Merdeka Belajar: Kampus Merdeka,”. Selama ini tidak ada jembatan penghubung antara kebutuhan dunia kerja dengan perguruan tinggi, masing-masing berjalan sendiri. Perguruan tinggi dengan pelaksanaan tri dharma, sedangkan dunia kerja dengan orientasi ekonomi produktifitasnya. “Di sinilah kebijakan MBKM mengambil peran menciptakan link and match dan menjadi mata rantai penghubung antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja,”. Perguruan tinggi harus melibatkan industri dan dunia usaha dalam proses perumusan dan pembentukan learning outcome. Dengan Langkah ini dapat dipastikan bahwa lulusan perguruan tinggi jauh akan siap menghadapi dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja secara mandiri, dan tangguh menghadapi masa depan.”

Penulis: Dr. Agus Sujarwanta, M.Pd. (Wakil Rektor I/Bidang Akademik UM Metro)

The post Perspektif MBKM dalam Pendidikan Tinggi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Social Champions https://ummetro.id/social-champions/ Mon, 26 Jul 2021 02:50:28 +0000 https://ummetro.id/?p=13463 Laman Opini UM Metro – Di tengah-tengah bencana yang sedang melanda selalu ada orang-orang berhati mulia dan welas asih untuk membantu sesama yang sedang mengalami kesusahan baik akibat dari bencana itu sendiri maupun karena terdampak resikonya. Sekarang ini ketika bencana wabah covid-19 semakin tidak terkendali dan pemerintah terlihat semakin kewalahan, muncul di masyarakat sebuah aksi

The post Social Champions appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Di tengah-tengah bencana yang sedang melanda selalu ada orang-orang berhati mulia dan welas asih untuk membantu sesama yang sedang mengalami kesusahan baik akibat dari bencana itu sendiri maupun karena terdampak resikonya. Sekarang ini ketika bencana wabah covid-19 semakin tidak terkendali dan pemerintah terlihat semakin kewalahan, muncul di masyarakat sebuah aksi solidaritas atas nama kemanusiaan, tanpa melihat latar belakang agama, suku, ras, etnis, dan golongan. Mereka bahu membahu, bergotong royong menolong orang-orang yang terpapar covid-19 dengan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan. Di beberapa tempat muncul gerakan sosial untuk membantu dan memobilisasi yang lain untuk bersama-sama membantu kesusahan oran lain.

Sekelompok orang membuat dapur umum dengan biaya secara patungan dari kantong pribadi dan para donatur. Mereka menyediakan nasi kotak dengan lauk pauk yang memenuhi standar gizi yang baik, lalu dibagikan kepada orang-orang yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah atau tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat isolasi bagi pasien covid-19. Di tengah kelangkaan oksigen karena banyaknya pasien covid-19 yang membutuhkan, ada sekelompok anak muda yang menyediakan tabung oksigen secara gratis dengan pinjam pakai atau menyediakan oksigen isi ulang secara gratis.

Ada juga yang membuat peti jenazah secara sukarela lalu peti jenazah itu didistribusikan ke beberapa rumah sakit yang membutuhkan tanpa harus membayar. Beberapa rumah sakit, khususnya di pulau Jawa  sejak gelombang kedua pandemi covid-19 melanda memang banyak yang kekurangan stok peti jenazah karena tingginya angka kematian akibat covid-19. Di rumah sakit tersebut, tingkat kematian akibat Covid-19 ada yang mencapai angka 30 kematian bahkan lebih dalam sehari. Karena jenazah covid harus dimakamkan dengan dimasukkan ke dalam peti, banyak rumah sakit yang kehabisan stok peti jenazah. Bantuan peti jenazah tentu saja akan sangat membantu rumah sakit dan keluarga korban. Beberapa orang ada yang menyediakan rumahnya atau rumah kost yang dia miliki untuk dapat digunakan secara sukarela bagi mereka yang membutuhkan tempat untuk isolasi mandiri. Banyak lagi bentuk-bentuk solidaritas yang lainnya atas nama kemanusiaan.

Demikianlah, dalam setiap bencana selalu ada aksi solidaritas yang lahir secara spontan di tengah-tengah masyarakat. Solidaritas seperti ini adalah modal sosial yang sangat penting bagi kita untuk bersama-sama melawan pandemi covid-19. Apalagi bencana non alam seperti pandemi tidak hanya cukup diserahkan kepada pemerintah semata. Belakangan ketika gelombang kedua covid-19 melanda di negeri ini kita menyaksikan bahwa pemerintah mulai kewalahan dengan penyediaan sarana dan pembiayaan dalam mengatasi pandemi yang semakin tidak terkendali. Banyak rumah sakit pemerintah dan tenaga kesehatan mulai ambruk dalam menangani pandemi. Munculnya orang, kelompok, organisasi atau lembaga yang ikut handarbeni dalam membantu pemerintah dalam menanggulangi bencana patut untuk disyukuri dan ditumbuh kembangkan terus menerus. Para volunter yang dengan secara sukarela tanpa pamrih ikut membantu orang-orang yang kesusahan di masa bencana ini yang oleh sosiolog Imam B.Prasojo disebut sebagai Social Champions, para juara dalam gerakan sosial baru. Mereka bergerak ketika negara dinilai membutuhkan bantuan.   Mereka tidak besar tetapi mampu menggerakkan dan menggalang aksi sosial secara efektif. Di tengah hiruk pikuk sosial media yang berisi konten hoak, olok-olok, dan guyonan satire tanpa ujung, gerakan seperti ini laksana oase di tengah padang pasir yang gersang. Walaupun harus juga diakui gerakan seperti ini terkadang masih berserakan, belum terkoneksi dan terorganisir secara baik.

Umat Islam dan Social Champions

Islam adalah agama rahmat, bukan hanya bagi umat Islam sendiri, tetapi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamiin). Kasih sayang, welas asih, tolong menolong, adalah nafas yang mengalir dalam setiap ajarannya. Salah dua dari nama-nama Allah yang baik adalah Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, yang artinya Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jika Allah Yang Maha Mulia memiliki sifat pengasih dan penyayang, maka umat Islam sebagai hamba Allah sudah sewajarnya bahkan merupakan suatu keharusan untuk menginternalisasikan sifat Allah yang mulia itu dalam dirinya. Rasulullah SAW, manusia paling mulia di sisi Allah, sepanjang sejarah kehidupannya adalah juga seorang yang lemah lembut, peduli terhadap sesama dan penebar kasih sayang yang melintasi iman, etnis, bangsa dan golongan. Beliau adalah uswatun khasanah (contoh teladan yang baik) bagi kita semua.

Seorang muslim dituntut untuk memiliki kesalehan individual dan sekaligus kesalehan sosial. Kesalehan individual diwujudkan dengan menjalankan ritual ibadah secara vertikal hanya kepada Allah SWT dengan dasar tauhid yang kuat, sementara kesalehan sosial diwujudkan dalam bentuk ibadah sosial secara ghorizontal dengan sesama manusia. Ibadah sosial itu wujudnya adalah menghormati dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, berbuat baik kepada sesama, membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Berinteraksi dengan akhlakul karimah, kasih sayang dan tidak saling menyakiti baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Wujud dua kesalehan ini yang dalam bahasa Al-qur’an dilukiskan dengan frasa hablum minallah dan hablum minannas, menjalin hubungan (tali) dengan Allah SWT dan menjalin hubungan (tali) dengan sesama manusia. Allah SWT berfirman :

ضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٖ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَسۡكَنَةُۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ يَكۡفُرُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah  dan diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imron (3) : 112).

Berdasarkan ayat di atas, Allah mengingatkan bahwa manusia akan diliputi  kehinaan jika tidak memegang teguh tali hubungan dengan-Nya dan tali hubungan dengan sesama manusia. Kehinaan itu berupa kemurkaan dari Allah dan kehidupannya diliputi kesengsaraan di dunia maupun di akhirat kelak. Dengan demikian baik ada bencana maupun tidak ada bencana, Islam mengajarkan agar setiap manusia memiliki jiwa dan semangat social champions, para juara dalam membantu orang lain. Menolong yang tanpa pamrih, tanpa melihat siapa yang dibantu, semata-mata hanya mengharapkan ridha dari Allah SWT. Inilah puncak dari kesalehan, yaitu kesalehan yang utuh dan kaffah, saleh secara individual dan saleh secara sosial.

Seorang muslim yang waktunya dihabiskan untuk shalat, berdzikir, membaca al-Qur’an, berpuasa dan ibadah-ibadah lainya dalam rangka memenuhi kehausan hasrat spiritual yang bersifat individual lalu mengabaikan hubungannya dengan orang lain, tidak peduli kepada penderitaan sesama, maka tidak ada jaminan surga baginya. Surga yang didambakannya tidak cukup dengan keasyikan spiritual individual. Surga hanya bisa diraih jika seseorang melakukan ibadah individual dan ibadah sosial secara sekaligus. Orang-orang yang terlalu asyik dengan ibadah vertikalnya kepada Allah lalu melupakan ibadah sosial maka akan jatuh dalam kelompok orang yang muflis, atau orang yang rugi, bangkrut dan karenanya justru neraka tempat yang layak baginya. Penegasan ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «أتدرون من المفلس؟» قالوا: المفلس فينا من لا دِرْهَمَ له ولا متاع، فقال: «إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي وقد شتم هذا، وَقَذَفَ هذا، وأكل مال هذا، وسَفَكَ دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته، وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه، أخذ من خطاياهم فطُرِحَتْ عليه، ثم طرح في النار».

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan kekayaan.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si A, menuduh si B, memakan harta si Fulan, menumpahkan darah si fulan dan memukul si Anu. Maka orang yang itu diberi dari kebaikannya, yang ini juga diberi dari kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis padahal semua dosanya belum habis, diambillah kesalahan-kesalahan (dosa orang yang dizaliminya), lalu dilimpahkan padanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR.  Muslim).

Secara logika, tidak satupun manusia yang mau merugi atau bangkrut. Manusia yang normal ingin selalu beruntung. Karena itu mempertimbangkan secara masak-masak apa yang akan dilakukan sebagai suatu yang niscaya agar tidak mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan yang dialami manusia di dunia ini masih memiliki peluang untuk diperbaiki selagi kita masih sehat dan memiliki kemauan. Namun kebangkrutan yang kita alami pada saat hari perhitungan amal di akhirat nanti tidak ada peluang lagi untuk memperbaikinya meskipun manusia merengek-rengek untuk dikembalikan lagi di dunia dan berjanji akan memperbaikinya. Oleh karena itu, manusia yang cerdas adalah mereka yang sudah sedia payung sebelum turun hujan, yang mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum menghadapi yaumul hisab atau hari perhitungan. Mempersiapakan diri dengan keshalehan individual dan keshalehan sosial adalah kunci untuk menghindari kebangkrutan dalam hidup. Seorang muslim yang baik hendaknya menjadi champions (pemenang) tidak hanya di dunia namun juga pemenang di akhirat.

Bukankah doa yang selalu kita munajatkan setiap saat adalah berharap untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat serta terhindar dari api neraka? Rabbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil akhiroti khasanah, waqiinaa ‘adabannar. Jika itu benar, maka syaratnya adalah masuk dan amalkan Islam secara kaffah. Shaleh secara individual dan shaleh secara sosial. (mh.24.07.21)

Penulis: Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Anggota BPH UM Metro)

The post Social Champions appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bagaimana Mengukur Atribut Psikologis Seseorang ? https://ummetro.id/bagaimana-mengukur-atribut-psikologis-seseorang/ Wed, 02 Jun 2021 08:24:33 +0000 https://ummetro.id/?p=13235 Laman Opini UM Metro – Banyak hal yang bisa kita ukur dari sesorang. Kita bisa mengukur tingginya, beratnya, kecerdasannya, minatnya atau atribut yang lain. Jika digolongkan, atribut yang bisa kita ukur dalam diri seseorang terdiri dari dua macam, atribut fisik dan atribut non fisik atau bisa disebut juga atribut psikologis. Berat badan, tinggi dan suhu

The post Bagaimana Mengukur Atribut Psikologis Seseorang ? appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Banyak hal yang bisa kita ukur dari sesorang. Kita bisa mengukur tingginya, beratnya, kecerdasannya, minatnya atau atribut yang lain. Jika digolongkan, atribut yang bisa kita ukur dalam diri seseorang terdiri dari dua macam, atribut fisik dan atribut non fisik atau bisa disebut juga atribut psikologis. Berat badan, tinggi dan suhu tubuh seseorang masuk kedalam golongan atribut fisik. Hal ini dikarenakan atribut tinggi, berat dan suhu telah memiliki satuan ukur yang baku. Kalo tinggi misalnya, memiliki satuan baku cm, meter dan seterusnya. Untuk mengukur atribut fisik ini, pengukur juga tidak perlu repot membuat alat pengukurnya. Karena telah tersedia alat ukur yang baku. Misalnya untuk mengukur tinggi, kita dapat menggunakan alat ukur meteran.

Berbeda dengan atribut fisik, atribut psikologis tidak memiliki satuan ukur dan alat ukur yang baku. Ketika kita akan mengukur atribut psikologis seseorang maka kita perlu membuat alat ukurnya. Konstruksi alat ukur psikologis disusun berdasarkan konsep mengenai atribut yang akan diukur. Misalnya kita akan mengukur kemampuan matematika siswa SD kelas 4. Maka kita perlu menyusun terlebih dahulu konsep matematika yang diajarkan pada siswa SD kelas 4 , kemudian menentukan domain pengukuran dari konsep matematika kelas 4 SD, menentukan indikator berdasarkan domain yang telah ditentukan, baru kemudian menyusun soal untuk memngukur kemampuan matematika subyek yang akan di tes.

Dalam mengukur atribut psikologis seseorang, pengukur dapat menggunakan dua metode pengukuran. Menggunakan tes atau non tes. Dua metode pengukuran ini sangat mudah sekali dibedakan. Tes digunakan untuk mengukur peformansi maksimal subyek yang di tes. Dalam tes, jawaban subyek dinilai benar – salah. Jadi agar bisa menjawab soal dengan benar, subyek harus mengeluarkan sumber daya yang dimiliki semaksimal mungkin. Contoh alat ukur yang menggunakan metode ini misalnya, tes IQ , tes Bakat, atau tes Ujian Sekolah.

Sedangkan non tes, mengukur peformansi tipikal subyek yang di tes. Sehingga jawabannya tidak dinilai benar – salah. Subyek cukup memilih jawaban yang sesuai dengan tipe dirinya. Mau jawab A, B atau C sah-sah saja. Alat ukur ini hanya berfungsi menggolongkan subyek pada tipe apa. Contoh alat ukur yang menggunakan metode ini misalnya, skala minat (orang biasa menyebut sebagai tes minat), skala motivasi belajar, sosiometri, AUM, atau skala indeks moderasi beragama.

Disebabkan alat ukur psikologis bukanlah alat ukur yang baku, maka sebelum digunakan, alat ukur psikologis perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Validitas mengkonfirmasi bahwa alat ukur yang dibuat benar-benar mengukur atribut yang akan diukur. Misal, tes matematika, jika soalnya menanyakan tentang biologi, maka tes tersebut tidak valid. Atau skala indeks moderasi beragama, jika soalnya diadaptasi dari negara barat yang sekuler, maka bisa jadi soalnya menjadi tidak valid.

Ada banyak cara untuk menentukan  apakah sebuah alat ukur psikologis valid – tidak valid, salah satunya dengan menguji soal yang dibuat kepada panel ahli. Panel ahli ini terdiri dari para ahli yang benar-benar mengetahui konten dari soal yang dibuat (subject matter expert/SME). Para ahli ini menilai, apakah soal-soal yang dibuat benar-benar sesuai dengan tujuan dari pengukuran. Jika tes yang dibuat mengukur kemampuan matematika kelas 4 SD, maka SME tentu saja guru yang mengajar matematika di kelas 4SD. Atau jika skala mengukur indeks moderasi agama, maka SME nya tentu saja para ahli agama (mewakili spektrum variasi keagamaan yang diakui di Indonesia).

Demikian sekilas mengenai teori dalam mengukur atribut non fisik atau psikologis. Semoga dapat menambah khasanah bagi mahasiswa yang menggambil matakuliah pengukuran, assessment psikologi tes dan non tes, atau evaluasi pendidikan. Sebenarnya banyak hal menarik yang dapat dibahas mengenai konsep pengukuran yang akhir-akhir ini menjadi perdebatan di khasanah publik Indonesia. Namun tulisan ini hanya sebuah pengantar singkat dalam membahas teori dalam mengukur atribut non fisik/psikologis.

Penulis: Dr. Satrio Budi Wibowo, S.Psi., M.A.

The post Bagaimana Mengukur Atribut Psikologis Seseorang ? appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/ https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/#respond Mon, 20 Jan 2020 01:58:10 +0000 https://ummetro.id/?p=11763 Laman Opini UM Metro – Belitang (Blitang) terletak cukup jauh dari Kota Metro, membutuhkan sekitar 5,5 jam perjalanan. Secara geografis memang cukup jauh, namun secara psikologis keduanya sangat dekat. Sejak dulu, begitu banyak pelajar dan mahasiswa di Kota Metro berasal dari Belitang. Begitu juga  UM Metro, sejak dulu menjadi tujuan utama masyarakat Belitang sebagai tempat

The post Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Belitang (Blitang) terletak cukup jauh dari Kota Metro, membutuhkan sekitar 5,5 jam perjalanan. Secara geografis memang cukup jauh, namun secara psikologis keduanya sangat dekat. Sejak dulu, begitu banyak pelajar dan mahasiswa di Kota Metro berasal dari Belitang. Begitu juga  UM Metro, sejak dulu menjadi tujuan utama masyarakat Belitang sebagai tempat menimba  ilmu.

Bahkan,  ada satu keluarga besar (satu kakek nenek) yang merupakan alumnus UM Metro, seperti keluarga bapak Muhamdi. Tentu, keluarga Muhamdi bukan satu-satunya di Belitang, banyak ditemui keluarga seperti itu dan tersebar di seluruh wilayah Belitang yang cukup luas (BK=Bendungan Komering : 0 sd 30).

Peran dan kontribusi para alumni UM Metro di Belitang sangat signifikan, bukan saja menjadi bagian formal dari Pemda OKU Timur dan membangun jaringan komunikasi yang baik dengan Pemda dan semua komunitas, mereka juga menjalankan tugas keumatan secara mengagumkan. Banyak sekolah Muhammadiyah baik dari level terendah hingga Perguruan Tinggi mereka bangun, begitu juga panti asuhan dan masjid-masjid megah bisa mereka bangun dari kegigihan dan kemampuan menjalin komunikasi yang efektif dan kinerja yang amanah.

Kota Metro menjadi tujuan favorit studi masyarakat Belitang karena alasan sederhana yang intinya bisa  langsung merasa nyaman: seperti typologi masyarakat yang hampir sama, aman, biaya hidup murah, dan gaya hidup kota yang tidak terlalu wah dan glamour. Para orang tua calon pelajar dan mahasiswa tidak ada kekawatiran akan terjadi culture shock dan maladatif  pada putra putrinya ketika tinggal di Kota Metro.

Selama satu hari berada di Belitang, kami bisa merekam harapan dan sedikit keluhan dari masyarakat yang umumnya alumni terhadap UM Metro. Jika saya bahasakan ulang intinya: bahwa “Pelayanan terbaik adalah Promosi terbaik”. Customer services merupakan energi yang melahirkan kepuasan konsumen dan akan menjaga keberlanjutan sebuah institusi. Di sebuah Perguruan Tinggi, layanan akademik dan administrasi  kepada mahasiswa adalah roh keberhasilan PT.


(Dok: Dosen PPs UM Metro Memasang Kalender 2020 UM Metro di salah satu RM di OKU Timur)

Pelayanan yang baik di sebuah PT akan menjadi cerita indah para alumni dan diceritakan secara indah pula kepada sanak saudara dan teman-teman mereka di lingkungannya. Tentu hal itu merupakan promosi gratis bagi almamaternya. Begitupun sebaliknya, layanan yang tidak profesional: tidak tepat waktu, tidak ramah, tidak tulus dan sepenuh hati kepada mahasiswa akan menggumpal menjadi citra kelabu yang mengalir dari waktu ke waktu.

Begitulah kejadianya, ketika kita turun ke suatu daerah menyambangi para alumni selalu dapat masukan yang jujur, objektif, dan clear karena mereka tidak lagi memiliki beban psikologis-seperti takut menyinggung dosen dan sulit mendapatkan tandatangan tugas akhir-untuk bercerita tentang bagaimana pelayanan para dosen di almamaternya dulu. Negative Brand Personality masih menjadi memori jangka panjang di otak mereka, bahkan menjadi semacam traumatik.

“Bayangkan pak, kami datang dari Belitang ke ke Metro perlu waktu sekitar 6 jam untuk memenuhi janji konsul tentang Draft Tesis dengan pembimbing, tiba di kampus masih dalam kondisi cape dan lapar, mendapatkan kabar bahwa beliau sedang berada di luar kampus. Ketika kami minta konfirmasi tentang waktu yang disepakati, dijawab oleh beliau, jika emang mau konsul sekarang boleh, tapi ke sini (sambil menyebut sebuah kota yang sangat jauh).”

Alhasil, bukannya kata maaf yang diterima dari dosen tersebut yang tentu akan sedikit mengobati kekecewaan mereka. Akhirnya bisa ditebak, mahasiswa pulang dengan tangan dan pikiran hampa akan harapan bisa lulus tepat waktu. Tentu, berbekal perasaan hancur  sambil terus menyetir menyusuri jalan panjang pulang ke Belitang dan harus tiba sebelum pagi datang menjelang. Suasana tambah mengharu biru ketika lagu yang mereka putar di mobilnya dari Ebiet G. Ade, Bertita Kepada Kawan: “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan…”

Beruntung, mahasiswa Blitang adalah pejuang ilmu yang tangguh sehingga pantang jika perjuangan hanya akan jadi arang. Benar adanya, hanya dalam waktu satu bulan dari peristiwa miris tersebut, mereka pun berhasil ujian tesis dan lulus. Dan, kejadian miris tersebut  sekarang justru  menjadi cerita manis yang selalu diceritakan dengan ringan dan penuh tawa.

“Pokoknya kalau sekarang ada orang tanya ke saya, ada dimana? Maka akan saya jawab, Saya ada dimana-mana,” sambil tertawa riuh rendah semuanya. Itu salah satu ilmu baru yang nyelip dalam perjalanan studi mereka dan akan selalu mereka ingat, yang dikhawatirkan justru ilmu utama yang mereka pelajari malah lupa.

Banyak contoh lain seperti kejadian tersebut yang luput dari kepekaan dosen untuk dapat mengukur perlakuan-perlakuan yang menunjukkan pelayanan baik atau buruk kepada mahasiswa dan berujung pada promosi negatif terhadap institusinya secara keseluruhan.

Maka, saatnya perlu penguatan komitmen, dan niat tulus dari kita semua: untuk apa dan siapa hakikat tugas yang kita jalani selama ini? Untuk apa mengeluarkan promosi mahal, seandainya staf dosen dan administrasi masih saja mengekspresikan negative brand personality dalam menjalankan kewajibannya? Patut menjadi renungan dan introspeksi bersama jika kita ingin terus bergerak maju.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si. (Dosen PPs UM Metro)

The post Jalan Panjang Pejuang Ilmu dari Belitang appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/jalan-panjang-pejuang-ilmu-dari-belitang/feed/ 0