profetika Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/profetika/ Solusi Sukses Masa Depan Sat, 17 Jul 2021 03:26:31 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png profetika Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/profetika/ 32 32 Profetika Kurban: Keseimbangan Peradaban Manusia https://ummetro.id/profetika-kurban-keseimbangan-peradaban-manusia/ Sat, 17 Jul 2021 03:26:31 +0000 https://ummetro.id/?p=13435 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,” (Al-Kautsar: 1-3). Dalam kajian profetika kurban hari ini saya akan mentadaburi surat Al-Kautsar ayat 2 dan 3 dengan tetap membangun relevansi (munasabah) dengan ayat selanjutnya.

The post Profetika Kurban: Keseimbangan Peradaban Manusia appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,” (Al-Kautsar: 1-3).

Dalam kajian profetika kurban hari ini saya akan mentadaburi surat Al-Kautsar ayat 2 dan 3 dengan tetap membangun relevansi (munasabah) dengan ayat selanjutnya.

Ayat pertama, Allah SWT membangun sensor syukur dan layanan kepada nabi Muhammad SAW, yang secara otomatis berlaku kepada umatnya. Dengan sensor syukur dan layanan akan melahirkan kesadaran diri (self-awareness) yang sangat tinggi secara spiritual, bahwa manusia sungguh telah mendapatkan karunia yang tak terhingga, bahkan tak terhitung dari Allah SWT. Tidak ada ungkapan terimakasih atas karunia selain taat kepada yang memberikan karunia tersebut, sungguh dosa dan kesombongan besar ketika melawan atau ingkar kepada-Nya.

Ayat pertama tersebut mengaktifkan nalar syukur manusia, untuk menerima perintah yang selanjutnya. Demikianlah pola komunikasi dalam Al-Qur’an, yang begitu sering Allah SWT menggunakan pola kesadaran tersebut. Akan tetapi yang mampu membaca adalah mereka yang aktif akal fikiranya yang dihiasi dengan logika imaniah.

Setelah kesadaran itu muncul maka Allah SWT memberikan titah yang sangat luar biasa. Fasolli lirabbika wanhar maka sholatlah dan berkorbanlah.

Huruf fa dalam  fasholli lirabbika merupakan huruf fa sababiyah, fungsinya menyatakan sebab. Sebelum huruf fa adalah sebab terjadinya sesuatu, yang sesuatu itu disebutkan setelah huruf fa.

Sehingga perintah sholat dan berkurban adalah disebabkan karena Allah SWT telah karuniakan hamba Nya kebaikan yang sangat banyak dan tak terhitung.

Nalar berfikir inilah yang dibangun oleh Allah SWT dan mengental pada diri nabi Muhammad SAW, sebagai nabi yang selalu bersyukur karena mengakui nikmat yang sangat banyak.

Konsekuensi syukur yang pertama adalah sholat.

Para ulama memahami sholat pada surat Al-Kautsar ini adalah sholat Iedul Adha, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaluddin as Suyuthi. Sholat Iedul Adha secara hukum adalah Sunnah muakkadah atau Sunnah yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Walaupun andaikata tidak dilaksanakan dengan sesuatu halangan tidak berdosa dan tidak perlu menggantinya.

Mengapa sholat sebagai simbol syukur? Karena sholat Iedul Adha yang hanya Sunnah muakkadah adalah bentuk kesungguhan seorang hamba dalam mensyukuri segala karunia Allah SWT. Berbeda dengan kewajiban yang mana banyak konsekuensi jika tidak melaksanakannya, yang menghadirkan rasa takut.

Sehingga sholat Iedul Adha adalah pilihan kesadaran totalitas hamba yang ingin mensyukuri nikmat Allah SWT dengan menundukkan wajahnya, bersujud di tanah lapang atau masjid sebagai kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Ungkapan syukur tertinggi adalah meletakkan wajad di tanah, serendah-rendahnya, sehingga Allah akan meninggikan derajat hamba tersebut. Ibarat sebuah bangunan, semakin dalam menanam pondasi maka semakin kokoh bangunan tersebut. Sehingga kekokohan seorang hamba dalam hidupnya, memegang tauhid dan menghadapi segala masalah ditentukan dengan sujudnya yang penuh kesyukuran. Inilah kekuatan vertikal hamba kepada Allah SWT.

Semakin tingginya pengetahuan manusia kadang semakin sulit melakukan sujud serendah-rendahnya, bahkan selama lamanya. Dengan sujud yang penuh kesyukuran, akan menjernihkan hati, fikiran dan amalnya.

Ungkapan syukur yang kedua adalah berkurbanlah.

Makna berkurban adalah menyembelih binatang ternak di hari Ied Al-Adha, maka secara fikih para ulama menggunakan kata wanhar. Maka kurban di sebut nahar atau udhiyah. Kata kurban lebih familiar di Indonesia dalam wawasan fikih Nusantara. Akan tetapi ini bukan sesuatu yang salah, bahkan lebih substantif. Karena hakikat sembelihan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Al-Qurban).

Kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalur horizontal, yaitu sisi kemanusiaan. Di sinilah Islam sebagai agama kemanusiaan (ad dien Al insani) agama yang membangun dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menentang segala ketidak perikemanusiaan yang terjadi.

Kurban adalah implementasi pengorbanan hamba dengan jiwa dan hartanya. Mengapa saya menyatakan demikian? Karena awal kurban adalah permintaan sembelihan jiwa manusia (Ismail) dan itu dipenuhi oleh Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi kemudian berubah menjadi domba sebagai gantinya, dan saat itulah berubah menjadi pengorbanan harta.

Dari sinilah hakikat kurban, bukan hanya mengeluarkan harta, akan tetap harus berangkat dari jiwa yang benar, ketaatan totalitas, itulah ketaqwaan.

Oleh sebab itu Allah tidaklah menerima daging kurban, darah dan tulangnya, akan tetapi Allah menerima ketaqwaan hamba-Nya. Daging dan tulangnya hendaknya dibagikan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Di masa pandemi, ruang kemanusiaan terbukan lebar, maka ujian ayat kurban sangat relevan untuk menguji iman manusia yang aktif nalar fikir imaniahnya.

Pengorbanan bukan hanya setahun sekali, akan tetapi ketika manusia memanggil maka disitulah kesadaran kurban harus diaktifkan.

Profetika kurban mengajarkan manusia untuk selalu mensyukuri karunia Allah SWT dengan selalu bersujud dan berkurban. Inilah pesan kenabian yang harus dibaca oleh setiap manusia yang aktif logika imanya.

Berkorban bukan hanya dengan harta, tetapi jiwa adalah paling penting. Bagaiamana manusia mengorbankan waktunya untuk orang lain, membantunya, mengajarkan ilmunya dan sebagainya. Bagaiamana manusia mau membantu sekecil apapun yang dia mampu untuk membantu saudaranya, apalagi dalam kondisi darurat pandemi saat ini. Hendaknya umat Islam menjadi garda terdepan.

Insan profetis akan selalu melakukan pendekatan vertikal kepada Allah SWT dan horisontal, untuk membangun peradaban yang lebih baik, mereka insan yang bergantung kepada Allah SWT.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Profetika Kurban: Keseimbangan Peradaban Manusia appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetika Kurban: Keterputusan Peradaban https://ummetro.id/profetika-kurban-keterputusan-peradaban/ Sat, 17 Jul 2021 03:02:05 +0000 https://ummetro.id/?p=13432 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,” (Al-Kautsar: 3). Dalam kesempatan hari ini kita akan bahas surat Al-Kautsar ayat 3. Terkesan tidak ada relevansinya dengan ayat sebelumnya, tapi kajian ini mencoba merenungi secara mendalam. Dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dibahas tentang munasabah (relevansi) ayat, sehingga ketika Allah SWT meletakkan

The post Profetika Kurban: Keterputusan Peradaban appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,” (Al-Kautsar: 3).

Dalam kesempatan hari ini kita akan bahas surat Al-Kautsar ayat 3. Terkesan tidak ada relevansinya dengan ayat sebelumnya, tapi kajian ini mencoba merenungi secara mendalam.

Dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dibahas tentang munasabah (relevansi) ayat, sehingga ketika Allah SWT meletakkan ayat satu dengan yang lainya, pasti ada relevansinya. Hanya membutuhkan pemahaman dan perenungan bagi mereka yang berakal.

Setelah ayat sebelumnya membahas tentang sholat Iedul Adha sebagai simbol sujud dan berkurban sebagai simbol pengorbanan seorang hamba sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, ayat ketiga membahas tentang kebencian orang kafir dan nasib mereka yang terputus.

Jika dideskripsikan maka ungkapan ayat ke tiga surat Al-Kautsar seperti ini ” Yakni sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya. demikian  Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-As ibnu Wa-il.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari yazid ibnu Ruman yang mengatakan bahwa dahulu Al-As ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia mengatakan, “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah sebutannya.” Maka Allah menurunkan surat ini.

Demikianlah ungkapan orang kafir ketika melihat nabi Muhammad SAW terputus keturunan lelakinya, karena semua putra Rasulullah Saw meninggal, maka mereka menyebut Rasulullah sebagai Abtar atau orang yang tidak akan memiliki garis keturunan lagi.

Demikianlah tradisi Arab yang cenderung patrilinial (bergaris ke laki laki) selalu menganggap anak laki-laki adalah kebanggaan, mereka yang akan melanjutkan klan atau sukunya, sehingga dahulu Umar bin Khatab Ra pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena malu ketika masa jahiliah.

Demikianlah peradaban jahiliah, yang tidak menggunakan logika iman, menganggap bahwa keberlangsungan keturunan atau peradaban terletak pada materi atau manusia. Bahkan manusia pun mereka membangun kelas, bahwa laki laki adalah pembawa garis keturunan itu, dan lebih mulia dari perempuan.

Sedangkan peradaban Islam bukanlah peradaban materi biologis, tetapi lebih pada peradaban substantif, yaitu ajaran yang terus berlanjut sampai hari kiamat.

Walaupun dalam Islam Rasulullah SAW sangat menekankan untuk memiliki anak yang banyak, karena Rasulullah akan berlomba lomba dengan nabi sebelumnya di akhirat akan kuantitas umat. Dan adapun anak tidak dibedakan antara lelaki dan perempuan, semuanya memiliki keunggulan dan keutamaan masing-masing. Bahkan Islam sangat mengutamakan perempuan, yang pada masa jahiliah selalu dimarginalkan statusnya, karena dianggap subordinasi laki-laki.

Di sinilah relevansi antara ayat kurban dengan keterputusan peradaban. Mengapa?

Yang Pertama, Keberlangsungan Peradaban yang Paling Tinggi Adalah Keberlangsungan Sujud.

Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang paling terkenal sujudnya, sehingga ketika beliau baru dibangkitkan pun tidak mau beranjak dari sujudnya sebelum Allah tolong umatnya.

Sehingga Rasulullah dengan semangat membangun karakter sujud kepada umatnya, agar ketika beliau wafat warisan sujud akan tetap berlangsung dalam kehidupan.

Demikianlah seharusnya tujuan berkeluarga, bagaiamana pernikahan adalah sarana melanjutkan keturunan yang akan meneruskan sujud orang tuanya, sehingga pahala kebaikan akan mengalir kepada orangtuanya. Demikian pula pendidikan, hendaknya seorang pendidik menjadikan pengajarannya untuk membangun generasi yang berilmu dan dengan ilmunya akan lebih dekat dan nikmat dalam bersujud kepada Allah SWT, sehingga pahala ilmu yang manfaat akan terus mengalir walau sang pendidik sudah tiada. Generasi sujud inilah lawan dari generasi congkak yang akan menjadikan peradaban semakin rusak dan jauh dari Allah SWT.

Sehingga dapat difahami, bahwa Keterputusan bukanlah bersifat biologis tetapi ideologis. Maka orang kafir yang menganggap nabi terputus keturunannya salah besar, karena hakikatnya merekalah yang terputus, karena mereka setelah mati mereka benar-benar tidak mendapatkan kebaiakn dari keturunan mereka yang banyak.

Yang Kedua, Keberlangsungan Peradaban Adalah Persaudaraan.

Syariat kurban adalah syariat berbagi, dengan berbagi maka akan menguatkan relasi persaudaraan. Persaudaraan dalam Islam bukanlah hanya persaudaraan biologis, tetapi yang paling tinggi adalah persaudaraan imaniyah (ukhuwah imaniyah). Karena persaudaraan ini adalah persaudaraan paling kekal, dan abadi dunia akhirat. Orang-orang beriman akan diperjumpakan di dunia bahkan di surga. Maka di mana letak keterputusan itu?

Sungguh orang yang beriman bersaudara, bahkan karena persaudaraan ini mereka bisa mengutamakan saudaranya melebihi kepentingan dirinya sendiri (itsar). Inilah inti syariat kurban, ketika orang beriman mampu mengorbankan yang paling dia cintai. Sebagai implementasi binatang kurban yang harus sempurna ketika hendak dikurbankan.

Dengan jiwa pengorbanan yang dibangun oleh nabi Muhammad SAW maka peradaban Islam meluas dan abadi sampai datang hari kiamat, dan anggapan orang kafir itu terpatahkan.

Anggapan bahwa peradaban Islam akan berakhir bukan hanya saat era jahiliah kuno saat itu,. Tapi hari ini banyak orang yang tidak menyukai Islam selalu berusaha memadamkan cahaya Islam, baik melalui lisan mereka, bahkan hari ini dengan media mereka, bahkan dengan serangan senjata mereka. Tetapi Allah SWT semakin menyalakan cahaya Islam dari timur dan barat.

Walau saat ini Islam serasa tertinggal, Islam dihinakan di daerah timur, tetapi Allah hadirkan Islam di barat, dan rasulallah telah memberikan forcasting (prediksi nubuwah) bahwa kejayaan Islam akan lahir dari Bizantium timur.

Semakin ditekan umat Islam, semakin kuat dirinya. Semakin meluas areanya. Ibarat air di ember yang ditekan, maka dia akan tumpah kemana mana. Saat ini pengungsi Muslim merata di dunia, dan jiwa Islam adalah jiwa pejuang, hidup dengan sabar dan syukurnya, maka ini adalah awal kemajuan peradaban.

Hal ini diungkapkan dalam hasil penelitian lembaga survei Pew Research Center, Amerika Serikat, pekan ini, yang menunjukkan bahwa Islam berkembang dua kali lebih cepat ketimbang pertumbuhan populasi global. Muslim akan berkembang dari 23 persen tahun 2010, yaitu 1,6 miliar orang, menjadi 30 persen di tahun 2050, menjadi 2,8 miliar. Pertumbuhan Islam bahkan diprediksi melampaui Kristen.

Islam akan menjadi agama terbesar di India dan Eropa, bahkan Indonesia masih mendapatkan rangking ketiga. Ini adalah prediksi ilmuwan barat akan Islam. Artinya keberlangsungan peradaban bukan karena aspek kebanggaan biologi tetapi aspek ideologis.

Insan profetis akan selalu berfikir logis imani, berjuang bagaimana ideologi iman terus berkelanjutan, melalui segala aspek dan bidang yang digelutinya. Pada aspek pendidikan bagaimana pendidikan menjadi jalan menghadirkan generasi iman, bidang politik, bagaimana dengan kebijakan mampu menjaga dan meningkatkan iman, dan seterusnya.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Profetika Kurban: Keterputusan Peradaban appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>