profetk Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/profetk/ Solusi Sukses Masa Depan Thu, 20 Mar 2025 13:25:00 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png profetk Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/profetk/ 32 32 Indikasi Taqwa, Pegang Janji dengan Kuat https://ummetro.id/indikasi-taqwa-pegang-janji-dengan-kuat/ Wed, 15 Sep 2021 04:20:33 +0000 https://ummetro.id/?p=13804 Profetik UM Metro – Allah swt berfirman: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkatkan gunung (Tursina) di atas kalian (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa (Al Baqarah ayat 63) Berbicara akan janji memang sangat berat,

The post Indikasi Taqwa, Pegang Janji dengan Kuat appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah swt berfirman: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkatkan gunung (Tursina) di atas kalian (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa (Al Baqarah ayat 63)

Berbicara akan janji memang sangat berat, karena yang berat dalam hidup adalah menepati janji. Janji kepada Allah, janji kepada Rasulullah, janji kepada manusia, dan janji pada diri sendiri. Semua janji tersebut adalah hutang, yang semua akan menjadi tanggung jawab manusia, dan akan ada hisab diakhirat.

Banyak orang menganggap janji adalah hutang. Tetapi orang kadang terpaku pada hutang materi, sedangkan hutang janji adalah lebih berat , terutama janji kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits : Pernah datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sementara ia mempunyai tanggungan puasa sebulan, apakah aku melakukan qadha untuknya?” Maka, beliau menjawab, “Kalau ibumu mempunyai tanggungan hutang apakah engkau akan melunasinya?” Lelaki tersebut menjawab, “Ya”. (https://whyinstitute.com/) Beliau lalu bersabda, “Jika demikian sesungguhnya hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan”.

Dalil ini memang terkhusus pada kasus puasa sebagai konsekwensi syahadat, janji untuk mentaati syariat, maka puasa menjadi janji yang harus dijalankan, ketika ditinggalkan maka menjadi hutang.

Maka makna umumnya semua perinta Allah adalah janji yang harus dijalankan, jika ditinggalkan secara senagaja maka menjadi hutang yang harus dibayar, atau jika tidak diselesaikan di dunia maka diakhirat akan dihisab.

Janji kepada Allah SWT ini konteks ayat 62 surat Al Baqarah,  ketika Bani Israil mencoba ingkar janji, maka Allah SWT angkat gunung Tursina dengan kekuasaan Nya, sehingga mereka mau mengakui janjinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengingatkan Bani Israil akan apa yang telah Dia ambil dari mereka berupa janji-janji dan ikrar untuk beriman hanya kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya, dan mau mengikuti rasul-rasul-Nya. Allah menceritakan bahwa ketika Dia mengambil janji dari mereka, maka Dia angkat gunung itu di atas mereka agar mereka mau mengakui apa yang disumpahkan kepada mereka, mengambilnya dengan sekuat tenaga, dan bertekad untuk melaksanakannya. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

{وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Al-A’raf: 171)

Kondisi ini karena memang Bani Israil sangat luar biasa kebiasaan ingkarnya akan janji janji Allah SWT.

Manusia hidup hakikatnya diikat oleh janji, sebagai seorang hamba dia diikat dengan janji Allah SWT, sebagai umat dia diikat dengan janji kenabian, sebagai makhluk sosial dia diikat dengan janji kemasyarakatan. Maka konsisten akan janji yang sesuai dengan aturan Allah SWT adalah indikasi ketakwaan.

Kemakmuran dan kedamaian dunia akan terwujud jika janji janji itu dilaksanakan dengan baik. Akan tetapi kerusakan akan nampak jika janji sudah dikhianati.

Sebuah bangsa akan menjadi maju, jika para pemimpin menepati janji sebagai pemimpin, menepati kesepakatan undang undang yang telah dibuat, tetapi ketika khianat masuk dalam diri pemimpin, kepentingan masuk dalam dirinya maka pasti rusak negara tersebut.

Korupsi adalah bentuk khianat janji suci para pemimpin negeri, untuk mengutamakan kepentingan rakyat dari kepentingan pribadinya. Maka negara yang korup akan hancur ketika tidak segera diperbaiki pola janji mereka.

Keluarga yang baik adalah ketika suami istri menepati janji, mereka menepati hak dan kewajiban mereka, maka sungguh akan terwujud Sakinah mawadah wa Rahmah.

Institusi yang baik ketika janji mereka dipegang dengan baik, tugas mereka dijalankan dengan baik, maka roda organisasi berjalan sesuai tujuan.

Janji hendaknya dipegang sekuat mungkin, karena ingkar janji adalah kemunafikan. Kemunafikan adalah kesalahan dan kerusakan logika berfikir, ketika mereka tidak ada konsistensi dalam berfikir dan berucap. Sedangkan kebenaran adalah adanya konsistensi antara ucapan, perbuatan, keyakinan dengan konsep yang benar.

Insan profetis adalah insan yang amanah degan janji, baik janji kepada Allah, rasul maupun manusia. Mereka akan menjalankan janji dengan sekuat mungkin, karena mereka adalah orang-orang yang konsisten dengn ketaatan.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Indikasi Taqwa, Pegang Janji dengan Kuat appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Ngobrol Enteng Entengan tentang “Pluralisme Beragama” https://ummetro.id/ngobrol-enteng-entengan-tentang-pluralisme-beragama/ Wed, 15 Sep 2021 04:13:02 +0000 https://ummetro.id/?p=13801 Profetik UM Metro – Allah SWT Berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (al baqarah ayat 62)

The post Ngobrol Enteng Entengan tentang “Pluralisme Beragama” appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT Berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (al baqarah ayat 62)

Kewajiban orang beriman, yang mengimani al Qur’an adalah membaca dan memahami al Qur’an, minimal setiap hari ada progress pemahaman terhadap al Qur’an yang kita yakini kebenaranya. Tulisan saya setiap hari hakikatnya untuk mengamalkan hal tersebut, memberi manfaat kepada diri sendiri dan andaikata memberikan pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat adalah sebuah kesyukuran yang luar biasa. Tentu tulisan ini bukanlah finish understanding, akan tetapi sebuah pemahaman sesuai kemampuan daya hati dan nalar yang Allah SWT karunikan.

Hari ini kita mendapatkan satu ayat sebagai kesimpulan akan kisah-kisah Bani Israil, bahkan ayat ini sering menjadi dalih bagi mereka yang memiliki pemahaman pluralisme dan wihdatul adyan (kesatuan agama). Dua hal inilah yang akan kita renungi bersama agar menambah khasanah ilmu kita, dan juga menguatkan sisi tauhid kita kepada Allah SWT.

Yang pertama, Yahudi, nasrani, sabiin sebelum Kedatangan Nabi Muhammad saw.

Asbabun Nuzul ayat ini hakikatnya, Riwayat pertama, dari Abu Hatim, dan Al-Adani dalam Musnad-nya dari jalur Ibnu Abi Najih dari Mujahid berkata, “Saya bertanya kepada Nabi SAW tentang penganut agama yang aku dahulu pernah menganutnya, maka aku menyebutkan sholat mereka dan ibadah mereka, maka turunlah ayat 62 surat al baqarah ini: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.

Jika melihat sebab turunya ayat tersebut mengindikasikan bahwa ayat ini berlaku untuk mereka orang Yahudi, Nasrani dan Sabiin sebelum diutusnya Nabi Muhammad sawt. Karena setelah diutusnya Nabi Muhammad saw maka agama yang diterima adalah Islam, konsekwensi iman orang yahudi dan nasrani adalah mengimani Nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad saw.

Keimanan umat terdahulu dan amal sholih mereka, mendapatkan pahala dan balasan yang sesuai dengan apa yang mereka lakukan, mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana orang-orang beriman setelah kedatangan Nabi Muhammad saw. Sehingga keimanan mereka tidaklah sia-sia.

Disinilah Islam mengakui eksistensi keimanan umat sebelum kerasulan Nabi Muhammad saw, karena hal inilah logika yang benar. Ibarat dalam sebuah konstitusi, ada istilah amandemen undang-undang. Sebelum adanya amandemen maka yang berlaku adalah kontitusi yang lama, sampai datang konstitusi yang baru yang menghapus atau memperbaharui konstitusi yang lama.

Kita melihat sejarah, bagaiman Bukhaira seorang pendeta yang ditemui oleh Abu Thalib, yang menceritakan akan nubuwah Muhammad saw, sehingga dia meminta Abu Thalib menjaga Nabi Muhammad saw. Juga Nama ahli kitab yang juga merupakan salah satu saudara khadijah ( sepupu khadijah ) yang membenarkan bahwa nabi muhammad telah diutus sebagai rasul Allah adalah waraqah bin naufal. Waraqah bin naufal merupakan seseorang yang pada saat itu pemeluk agama nasrani. Mereka adalah contoh orang yang memegang teguh ajaran Taurat dan Injil sebelum datangnya kerasulan Muhammad saw, merekalah yang akan mendapatkan pahala sebagaimana ayat di atas.

Yang kedua, Bantahan Dalih Pluralisme dan wihdatul adyan (kesatuan agama)

Surat al Baqarah ayat 62 ini juga sering menjadi dalih bagi para pegiat pluralisme dan penyatuan agama, bahkan sering menggunakan dasar tafsir Buya Hamka untuk “mengakui” kebenaran Yahudi dan Nasrani bahkan Sabi’in setelah kerasulan Muhammad saw, bahkan mereka tetap mendapatkan pahala sebagaimana umat Muhammad saw.

Buya Hamka dalam tafsir mengatakan bahwa hakikat Islam adalah percaya kepada Allah SWT dan hari akhir, sehingga orang yahudi, nashrani dan shabiin yang mereka beriman kepada Allah dan hari akhir maka mendapatkan posisi yang sama dengan Islam. Hal ini dimaksudkan agar meminimkan fanatik beragama, sehingga akan terwujud kedamaian serta saling menghargai, menghormati dalam kehidupan beragama, karena Islam maupu agama lain mendapatkan porsi yang sama.

Penulis tidak mengatakan pendapat Buya Hamka salah, beliau orang Alim, Faqih, Mutashawif yang bijak, akan tetapi kearifan beliau sering menjadi dasar bagi pegiat pluralisme untuk membiaskan ajaran Islam, bahwa agama apapun sama, semuanya benar, semuanya punya kamar surga. Hal ini sangat berbahaya dalam konteks akidah tauhid dalam Islam.

Bantahan pertama, banyak pegiat pluralis membaca ayat ini keluar konteks, mereka hanya menafsiri lafadz saja, walau hal itu kadang boleh dilakukan. Ayat ini memiliki asbab nuzul yang jelas, menunjukan kisah umat terdahulu, bahkan masih sangat terkait dengan kisah Bani Israil dengan Nabi Musa as, dalam istilah ulumul Qur’an munasabah ayat. (https://www.unlockbase.com/) Sehingga memahami ayat dengan lepas dari konteksnya akan membahayakan bagi mereka yang tidak memahami, karena generalisasinya tentu akan berbeda.

Bantahan kedua, ayat ini bukan dalil pluralisme (mengakui semua agama benar) karena Allah SWT menyatakan dalam surat Ali Imran ayat 85: Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi. Ayat ini banyak perdebatan apakah telah menasakh (menghapus) al baqarah ayat 62 atau tidak. Bagi mereka yang menyatakan risalah Muhammad sebagai agama terakhir, maka ayat ini menghapus, tetapi bagi mereka yang ingin menyamakan status keagamaan maka ayat ini tidak menghapus, karena yang dimaksud Islam bukan agama, tetapi kepasrahan sebagaimana Ibrahim as selalu menyatakan dalam al-Qur’an.

Bagi penulis, pluralisme agama atau menganggap semua agama benar dan diterima Allah swt setelah kerasulan Muhammad saw adalah hal yang bertentangan dengan konsepsi risalah nabi sebelum Muhammad saw, karena mereka telah berpesan akan lahir nabi akhir zaman Muhammad saw, maka ikutilah dia. Sehingga konsekwensi iman mereka harusnya mengikuti perintah Nabi Mereka, Musa, Isa dan yang lainya. Ketika mereka ingkar, dan bersikukuh dengan ajaran sebelumnya maka berarti mereka masih bersikukuh dengan risalah yang sudah diperbaharui oleh nabi setelahnya, tentu logika kontitusi tidaklah diterima, karena kontitusi baru sudah diberlakukan,

Bagi penulis, Islam agama yang mengakui pluralitas (perbedaan) tetapi menolak pluralisme. Banyak ayat menerangkan bahwa Islam agama yang mengakui perbedaan, bahkan perbedaan keyakinan, sehingga tidak perlu memaksakan ayat ini untuk membangun konsep menyatukan agama dalam satu pandangan. Bahkan Allah SWT menyatakan, mampu membuat satu agama, tetapi Allah SWT tidak lakukan, karena disitulah ujian logika dan nalar manusia.

Bagi penulis, jika menganggap agama Islam paling benar menyebabkan fanatik dan ketidak harmonisan dunia, adalah sebuah kesalahan, karena Islam sangat menghargai semua agama, bahkan melarang memaksakan agama. Kedamaian bukan didapatkan dari kesatuan ideologi, tetapi saling memahami dalam kehidupan. Islam melarang mencela agama-agama, mencela Tuhan yang diyakini orang beragama, islam mengajarkan untuk toleransi dalam ibadah orang beragama, bahkan membantu orang yang berbeda. Bahkan rosulullah menyampaikan siapa yang memusuhi ahli dzimmah sama dengan memusuhinya.

Sehingga konsepsi Islam sangat sempurna, kefahaman oknum yang masih terus diperbaharui. Serta tidak perlu membangun sebuah konsepsi berfikir pluralisme yang terkesan memaksakan untuk membangun narasi perdamaian dan harmonisasi. Karena hal ini menunjukan kesalahan berfikir (logical fallacy) kita dalam memahami kitab suci, cukup memahami kitab suci dengan sistematika yang benar akan kita temukan konsep perdamaian universal dalam al-Qur’an.

Insan profetis hendaknya membangun narasi berfikir yang tepat, bukan memaksakan nalar qur’ani kepada konteks yang ada, demi menyesuaikan keinginan konteks. Hal inilah yang membuat kerusakan agama-agama dalam sejarah, ketika agama harus disesuaikan dengan kultur yang ada dengan pola fikir memaksakan. Sedangkan agama hadir untuk membangun kebaruan, memajukan dan memberdayakan. Agama hadir untuk perdamaian bukan penghancuran. Hanya bagaimana kita memahami Islam dengan benar, bukan dengan ego dan nafsu syahwat baik pribadi maupun gologan.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Ngobrol Enteng Entengan tentang “Pluralisme Beragama” appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Logika dalam Doa https://ummetro.id/logika-dalam-doa/ Wed, 15 Sep 2021 04:10:54 +0000 https://ummetro.id/?p=13799 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, “Hai Musa, kami tidak sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata, “Maukah kalian mengambil

The post Logika dalam Doa appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, “Hai Musa, kami tidak sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata, “Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kalian ke suatu kota, pasti kalian memperoleh apa yang kalian minta.”(Al Baqarah ayat 61)

Membaca sejarah Bani Israil memang menggemaskan, itulah mengapa merek dikenal sebagai kaum yang cerdas tapi kurang taat, kaum yang selalu menentang, dan kaum yang suka mempermainkan syariat Allah SWT.

Allah SWT sangat banyak menceritakan kisah Bani Israil, agar generasi setelahnya memahami bagaimana prilaku Bani Israil dan mampu mengambil pelajaran yang benar, sehingga tidak mengikuti tradisi buruk mereka.

Dalam ayat ini kita akan merasa gemas dengan prilaku mereka yang mempermainkan Allah SWT, walau Allah SWT tidak akan dapat dipermainkan, karena sebaik apapun makar, maka makar Allah SWT adalah terbaik.

Dalam ayat 61 ini ada kisah bahwa Bani Israil tidak sabar dengan makanan yang telah diberikan Allah SWT, yaitu Manna dan Salwa,. Sedangkan makanan minuman ini adalah konsumsi level tinggi. Akan tetapi ketidak sabaran dan ketidak syukuran mereka, atau mungkin ketidak biasaan mereka makan makanan dengan kualitas tinggi, mereka meminta Nabi Musa as untuk meminta kepada Allah SWT makanan yang mereka biasa makan, sebagaimana dalam ayat: Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Logika sederhana manusia saja mampu membuat kesimpulan bahwa Manna dan Salwa lebih baik kualitasnya, gizinya dan segala kandungannya, dan mampu mencukupi nutrisi tubuh mereka dalam kondisi cuaca yang panas.

Disinilah kita memahami mengapa orang-orang Padang pasir memakan daging, susu dan madu lebih banyak dibanding orang-orang tropis, karena memang cuaca mereka membutuhkan hal itu, sehingga mereka sehat.

Akan tetapi ketidak sabaran Bani Israil, menyebabkan logika sehat mereka tertutup, mereka hanya berfikir enak dan lezat, mereka berfikir makan untuk mulut, bukan untuk sehat. Maka mereka melakukan perbuatan yang sangat rendah, yaitu meminta sesuatu yang lebih rendah, dibandingkan apa yang telah dikaruniakan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ}

Musa berkata, “Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al-Baqarah: 61)

Di dalam ungkapan ayat ini terkandung teguran dan celaan terhadap permintaan mereka yang meminta jenis-jenis makanan yang rendah ini, padahal mereka sedang dalam kehidupan yang menyenangkan dan memiliki makanan yang enak lagi baik dan bermanfaat.

Ayat ini menjadi dasar berfikir, bahwa jangan meminta sesuatu yang lebih rendah dari karunia yang Allah SWT telah berikan. Karena sesuatu yang telah Allah tetapkan dikaruniakan kepada kita adalah yang terbaik, meminta sesuatu di bawah itu karena ketidak sukaan kita, karena mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi doa awal kita, menunjukan sesuatu yang hina, ketidak syukuran dan ketidak percayaan kepada keputusan Allah SWT.

Maka Islam mengajarkan selalu berfikir sehat, berlogika positif dan bernalar yang benar, agar dalam memahami tidak salah, mengambil sikap tidak salah, mengaplikasikan kesimpulan tidak salah, bahkan selalu melakukan evaluasi. Setelah semua dialkukan maka hendaknya melakukan kreasi yang lebih, apa? Memohon kepada Allah SWT yang lebih dari apa yang dikaruniakan, misal, kita sudah mampu sholat lima waktu, mohon sama Allah agar dimampukan sholat Sunnah. Sudah diberikan motor, mohon sama Allah agar diberi mobil yang lebih manfaat.

Akan tetapi pola ini harus terhindar dari rasa serakah dan ketidak syukuran, syukuri dulu yang ada, lalu beranjak kepada sesuatu yang lebih diatasnya, sehingga orang beriman akan selalu mengalami kemajuan, perubahan dan perbaikan hari demi hari.

Bahkan nabi Muhamamd Saw menyampaikan bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, ini menunjukan keatifitas total orang beriman (meminjam istilah taxonomi bloom) sehingga kemajuan dan peradaban tercapai.

Jika hanya ingin sesuatu yang lebih rendah, sisi manfaatnya, dan hanya enak saja, tidak perlu memohon kepada Allah dengan Musa, karena Allah sudah berikan dari dulu kepada mereka, tinggal mereka pergi saja ke kota mereka dahulu.

Allah SWT berfirman Pergilah kalian ke suatu kota, pasti kalian memperoleh apa yang kalian minta. (Al-Baqarah: 61)

Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang mereka minta tidak membutuhkan mukjizat, cukup dikota mereka banyak. Inilah kesalahan besar Bani Israil, yang tidak mampu membaca dan memahami keadaan dan karunia, tetapi memang inilah sifat mereka suka mengejek, mengolok-olok, dan meremehkan Allah SWT.

Ma sa-altum artinya apa yang kalian minta; dan mengingat permintaan mereka itu termasuk ke dalam kategori keterlaluan dan sangat buruk, maka bukan merupakan suatu keharusan untuk diperkenankan.

Penyakit orang saat ini kurang mampu membaca apa yang dimiliki, kurang mampu memanfaatkan apa yang dikaruniakan, sehingga mereka merasa selalu kurang, mengeluh bahwa Allah SWT tidak memberinya nikmat. Maka dengan pola pikir ini, nalar mereka rusak, dan tidak mampu memohon yang lebih kepada Allah SWT, karena munculnya ketidak yakinan mereka kepada Allah SWT.

Rasulullah ketika sudah menguasai Makkah Madinah maka targetnya adalah Persia dan Romawi. Sebuah target besar, diluar nalar manusia saat itu.

Hendaknya orang beriman terutama insan profetis mampu mengambil ibrah ayat ini, untuk selalu memohon kepada Allah SWT sesuatu yang lebih baik, tentu ukurannya adalah ilmu dan iman, bukan syahwat dan nafsu yang hanya terbatas panca indera dan kesenangan perut dan kemaluan. Akan tetapi kebaikan yang bersifat duniawi ukhrawi, sehingga membawa kepada kebahagiaan totalitas.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Logika dalam Doa appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Batu dan Air, antara Rasional dan Irasional https://ummetro.id/batu-dan-air-antara-rasional-dan-irasional/ Wed, 15 Sep 2021 04:04:51 +0000 https://ummetro.id/?p=13796 Profetik UM Metro – Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (Al Baqarah ayat

The post Batu dan Air, antara Rasional dan Irasional appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (Al Baqarah ayat 60)

Bicara rasionalitas sebagai cara berfikir yang sesuai dengan alasan yang benar, sesuai akal sehat. Rasionalitas juga secara konsep normatif adalah mengacu pada kesesuaian keyakinan seseorang dengan alasan seseorang untuk percaya, atau tindakan seseorang dengan alasan seseorang untuk bertindak.

Sedangkan lawan kata rasional adalah irasional. Yaitu cara berfikir yang tidak sesuai akal sehat, dan alasan yang tepat.

Manusia akan selalu berada dalam dua kondisi berfikir ini dalam menghadapi sesuatu, baik itu peristiwa ataupun sebuah informasi.

Surat Al Baqarah ayat 60 menguji cara berfikir manusia, apakah dia mampu rasional atau irasional.

Mari kita renungi ” Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Lalu memancarlah darinya dua belas mata air

Mari kita renungkan ayat ini, rasional atau irasional?

Tentu semua orang akan mengatakan irasional. Karena tidak akan mungkin, batu keluar air dengan pukulan tongkat. Karena tidak ada fakta umum tentang ini.

Akan tetapi ketika kita melihatnya bukan pada faktanya, tetapi kepada penyebab fakta maka sangat rasional, yaitu melihat pada Zat yang menjadi penyebab, yaitu Allah swt.

Kelemahan manusia, menganggap sesuatu rasioanal Hanya pada level makhluk, level akibat, dan level Jauhar. Sehingga banyak hal yang akan kita sebut sebagai sesuatu yang irasional, bahkan mustahil.

Tetapi bagi orang beriman, dia akan menaikan pada rasionalitas ilahiah, bahwa segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah berkenan.

Maka dalam Islam akan mengenal mukjizat untuk para nabi, karamah untuk para wali, maunah untuk manusia yang diberikan keluarbiasaan, tentu bagi mereka yang pendekatan rasional nya adalah rasionalitas materi, maka semua akan irasional, maka orang kafir selalu menganggap itu sebagai sihir atau ilusi.

Dalam kisah pada surat Al Baqarah ayat 60 tersebut, secara faktual Bani Israil selalu memanfaatkan mukjizat nabi Musa, bahkan air yang keluar dari batupun mereka minum bersama para sukunya yang berjumlah 12 suku.

Tapi setelah mereka mengambil manfaat mereka kembali berbuat kerusakan di muka bumi. Begitulah sifat kebanyakan manusia, mereka selalu memohon keajaiban Allah SWT, dalam setiap masalah, bahkan dokter pun selalu mengatakan, dalam kondisi emergency hanya kuasa Tuhan tapi setelah kuasa Tuhan di tunjukan mereka seakan lupa kepada Tuhan.

Semua hanya menjadi cerita, tapi manusia tak mampu mengambil pelajaran, kemudian bersyukur dan semakin dekat, yakin kepada Allah SWT.

Inilah bahayanya rasionalitas materialis, yang hanya melihat sesuatu pada rasioanalitas yang nampak dan terukur oleh instrumen indera dan akalnya. Tetapi jarang menggunakan rasioanalitas ilahiah, yang selalu memandang sesuatu rasioanal karena melihat segala sesuatu pada Penyebabnya, bukan akibatnya.

Efek afeksi dari rasionalitas ilahiah adalah optimisme dan positif thinking kepada Allah SWT, bahwa segalanya akan ada solusinya dengan Allah, tetapi sebaliknya bagi rasionalitas materialis, akan banyak kebuntuan, sehingga sikap putus asa dan ketidak mungkinan sering menjadi kesimpulan dalam diri mereka.

Seakan tulisan ini adalah utopis dan apologetik, tetapi hakikatnya tulisan ini mengajak kita untuk membangun Nalar fikir Qur’ani yang benar.

Insan profetis adalah mereka yang mampu berfikir rasional ilahiah, yang selalu membangun keluasan berfikir dan segalanya menjadi mungkin. Peradaban Islam akan wujud dengan pemikiran ini.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

 

The post Batu dan Air, antara Rasional dan Irasional appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Kebiasaan Mengganti Perintah dengan Olok-olokan https://ummetro.id/kebiasaan-mengganti-perintah-dengan-olok-olokan/ Wed, 15 Sep 2021 04:02:55 +0000 https://ummetro.id/?p=13793 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. (Al-Baqarah: 59) Ada penyakit logika dan hati yang sangat berbahaya saat ini, dan penyakit ini adalah penyakit Bani Israil, yaitu kebiasaan mengolok-olok perintah Allah SWT. Sebelum kita membahas secara kontekstual, kita bahas secara historis ayat

The post Kebiasaan Mengganti Perintah dengan Olok-olokan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. (Al-Baqarah: 59)

Ada penyakit logika dan hati yang sangat berbahaya saat ini, dan penyakit ini adalah penyakit Bani Israil, yaitu kebiasaan mengolok-olok perintah Allah SWT.

Sebelum kita membahas secara kontekstual, kita bahas secara historis ayat tersebut. Hakikatnya ayat tersebut sebagai kelanjutan ayat sebelumnya, setelah mereka sampai di Baitul maqdis, maka Allah SWT perintahkan mereka untuk bersujud, bersyukur karena mereka telah selamat, dan sampai ke kampung halaman dengan selamat, bahkan Allah SWT berikan kebebasan untuk makan dan minum segala sesuatu yang enak.

Akan tetapi perintah sujud tersebut ternyata tidak sesuai dengan nalar mereka, mengapa malah bersujud? Dengan inilah mereka berani mengganti perintah ini dengan olok-olok yang keji, sebagaimana dalam Al Qur’an:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

Kebiasaan Mengganti Perintah Allah dengan olok-olok adalah perbuatan orang orang dzalim. Karena mereka tidak memahami, bahwa semua perintah Allah adalah kebaikan. Tetapi ketika mereka meninggalkan atau mengganti dengan apa yang mereka anggap baik (asumsi) maka itu bukan kebaikan, tetapi mereka menghancurkan diri mereka sendiri (dzalim Li nafsih). Inilah kesalahan nalar mereka yang akhirnya, Allah SWT menurunkan azab dari langit (rijzan Minassama’).

Bani Israil sebenarnya sangat sederhana, mereka mengganti perintah sujud menjadi mengesot dan mengganti kalimat khittah (ampunan) menjadi khintah (gandum) . Sebagaimana dalam hadits :

دَخَلُوا الْبَابَ -الَّذِي أُمِرُوا أَنْ يَدْخُلُوا فِيهِ سُجَّدًا-يَزْحَفُونَ عَلَى اسْتَاهِهِمْ، وَهُمْ يَقُولُونَ: حِنْطَةٌ فِي شُعَيْرَةٍ”

Mereka memasuki pintu gerbang —yang mereka diperintahkan untuk memasukinya sambil sujud— dengan mengesot, seraya mengucapkan “Hintah fi sya’irah”

Penggantian ini sangat sederhana, tetapi hal ini bentuk kesombongan dan keraguan akan perintah Allah SWT. Ragu akan perintah Allah, kemudian membangun asumsi berdasarkan logika nafsu adalah sebuah kedzaliman yang sangat besar. Wajar Allah SWT memberikan azab, dalam hadits azab tersebut adalah tha’un, belum lagi di akhirat, neraka yang menyala-nyala.

Penyakit kerusakan nalar ini sangat berbahaya, dan di dunia kita saat ini sangat menggejala, dengan lahirnya banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan Utilitarianisme. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan.

Paham ini hakikatnya tidak salah, ketika membangun nalar bahwa kebaikan itu yang memiliki manfaat. Akan tetapi manfaat disini bukan hanya duniawi tetapi ukhrawi.

Kesalahan besar ketika menganggap kebaikan adalah segala yang manfaat terhadap kehidupan dunia mereka saja, inilah yang terjadi pada Bani Israil, ketika menganggap sujud sesuatu yang tidak manfaat, sedangkan sujud adalah manfaat terbesar hamba di akhirat. Mereka menganggap yang bermanfaat adalah gandum, sebagai simbol duniawi mereka.

Saat ini banyak ilmuwan pemikir yang melakukan pembiasan perintah Allah dan syar’iat Allah SWT dengan pendekatan utilitarianisme ekstrim ini. Mereka selalu mendekati agama, membangun kesimpulan agama dengan relasi sosiologis, psikologis, ekonomi, HAM dan lain sebagainya. Seakan ketika ada ketidak sesuaian, maka agama perlu dilakukan rekonstruksi.

Walau senyatanya, rekonstruksi adalah suatu hal yang positif, akan tetapi ketika ini menjadi latah para pemikir, akhirnya merusak norma nilai Islam yang paten (qath’i) maka akan sangat berbahaya.

Sampai akhirnya kondisi ini melahirkan keraguan bagi umat akan syariat agamanya sendiri. Contoh, betapa takutnya umat Islam berbicara akan syariat qishas, syariat waris, syariat jihad, syariat poligami dan lain sebagainya. Semua itu seakan selalu dilihat pada lefel manfaat duniawi belaka, sedangkan dalam syariat itu ada manfaat ukhrowi yang sangat besar. Tidak kalah juga, pada syariat tersebut banyak hikmah yang terkandung dalam kehidupan manusia, tetapi nafsu manusia yang menutup nalar kritis positif manusia, akhirnya menjadikan mereka lalai.

Penyakit selalu mengukur syariat dengan pendekatan materi, duniawi ini menjadikan Allah SWT murka, kemurkaannya dapat dilihat dari kerusakan sistem sosial manusia, dan banyaknya masalah kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya. Hal ini terjadi hanya pada wilayah muslim, karena mereka yang mendapatkan taklif syariat saja. Bagi negara yang tidak muslim, maka berlaku hukum istidraj.

Insan profetis tentu manusia yang memiliki nalar iman yang baik, nalar positif yang selalu melihat syariat dengan positif, sehingga yang ada adalah ketaatan. Andaikan ada syari’at yang seakan tidak sesuai dengan konteks sosial, psikologi, hukum, ekonomi, HAM dan lainya, maka mereka membangun logika dengan benar. Karena syariat adalah objek ukur, instrumen ukurnya adalah ilmu pengetahuan dan realitas. Ketika objek dan instrumen tidak sesuai, bukan objeknya yang disalahkan, tapi instrumentnya yang disesuaikan.

Kesalahan logika hari ini, mereka memaksakan instrumen untuk merubah objek, sehingg objeknya menjadi tidak jelas. Tugas manusia seharusnya membangun instrumen berfikir yang benar, untuk memahami syariat, bukan karena ketidak mampuanya, lalu melakukan perubahan syariat. Menurut saya ini bentuk keputus asaan akademik, dan ketidak mampuan nalar positif mereka.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

 

The post Kebiasaan Mengganti Perintah dengan Olok-olokan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Ghamam, Manna dan Salwa, Nikmat Spesial dalam Al-Qur’an https://ummetro.id/ghamam-manna-dan-salwa-nikmat-spesial-dalam-al-quran/ Wed, 15 Sep 2021 03:58:00 +0000 https://ummetro.id/?p=13788 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Dan Kami naungi kalian dengan awan dan Kami turunkan kepada kalian manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Al Baqarah ayat 56) Ayat ini menarik untuk menjadi kajian, karena mengandung

The post Ghamam, Manna dan Salwa, Nikmat Spesial dalam Al-Qur’an appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Dan Kami naungi kalian dengan awan dan Kami turunkan kepada kalian manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Al Baqarah ayat 56)

Ayat ini menarik untuk menjadi kajian, karena mengandung mukjizat ilmiah yang sangat luar biasa terutama dalam aspek fisika dan biologi.

Walau hakikatnya ayat ini menceritakan akan karunia Allah SWT kepada Bani Israil yang tidak ada henti-hentinya, walau selalu diingkari oleh mereka, akan tetapi Rahmat Allah SWT sangat luas bagi mereka, sehingga Allah SWT mengkaruniakan selalu nikmatNya.

Setelah Bani Israil selamat dari kejaran Fir’aun, maka mereka melakukan perjalanan menuju Syam (Palestina), maka ketika mereka melewati Padang Sahara, maka mereka merasakan kepanasan luar biasa, kelaparan dan kehausan.

Dengan kondisi inilah Allah SWT memberikan ghamamah (awan sejuk), Manna (minuman sejenis madu) dan Salwa (sejenis burung merpati) yang menjadikan kebutuhan primer bagi mereka tercukupi.

Kandungan ayat ini, pertama, Allah mengingatkan tentang nikmat yg Dia berikan kpd Bani Israil, umat Nabi Musa. Ketika mrk dlm kesulitan, kepanasan dan kelaparan, Allah mencukupi kubutuhan primer mereka, menurunkan makanan dan minuman yg berkualitas dan super nikmat. Kedua, ayat ini menjadi pelajaran bagi kita, umat Nabi Muhammad saw, bahwa Allah akan selalu memberi yg kita butuhkan. Percayalah! Ketiga, ayat ini menjadi pembanding atau tolok ukur bagi kita, umat Nabi Muhammad yg hidup di akhir zaman. Bahwa, menuruti perintah Allah dan Nabi-Nya, pasti berakhir dalam kebahagiaan, meski harus menempuh banyak kesulitan dan hambatan. Umat terdahulu yg berakhir menderita disebabkan krn mendzalimi diri mereka sendiri.

Ada beberapa konsep menarik yang menjadi kajian ilmiah,

Ketika melintas di gurun sahara, Allah menaungi mereka dg ‘ghomam’ artinya ‘awan putih’ agar tidak kepanasan. Istimewa! Awan putih (ghomam) ini sering muncul di padang pasir, demikian menurut riwayat Nasai dan Ibn Abbas dalam tafsir Ibnu Katsir. Ibnu Jarir menambahkan, awan itu jauh lebih dingin dan lebih indah dari awan pada umumnya. Pada ayat ini, kata yg digunakan adalah ‘ghomam’ bukan ‘sahab’. Jadi, jenisnya memang lain. Bahkan, ada tafsir yg juga mengutip pendapat Ibn Abbas, berpendapat  bhw awan itulah yg didatangkan Allah pd perang Badar.

Luar biasa. Tentang awan saja, para ulama tafsir memiliki banyak pendapat yg tentunya diperkuat dalil yg mrk pegang. Saat di sekolah, kita diajari bahwa yg dimaksud awan adalah suatu gumpalan uap air yang terbentuk oleh adanya siklus daur air yang terus menerus terjadi. Siklus daur air ini biasa disebut oleh para ahli sebagai siklus hidrologi. Adanya pemuaian air yang menguap menuju atmosfer dikarenakan oleh adanya panas bumi dan pancaran sinar matahari. Kemudian, terjadi pengembunan dan pemadatan uap air yang bergabung menjadi satu pada tingkat ketinggian tertentu diatas langit dan membentuk awan.

Setelah diteliti, ternyata jenis awan juga beragam, tergantung dari sisi mana melihatnya. Tak heran, jika para ulama tafsir klasik berbeda pendapat ttg istilah ‘ghomam’. Dari bentuknya, ada: (1) Awan Cumulus, awan yg sering kita lihat di langit tanpa adanya mendung. Bentuknya seperti gumpalan kapas yg menghampar scr horisontal; (2) Awan Stratus, bentuknya spt karet yg menghampar ke segala penjuru. Awan ini terasa lebih sejuk krn menutup pancaran sinar matahari langsung ke permukaan bumi; (3) Awan Sirrus, mirip bulu ayam atau pasir di dasar laut. Awan ini diam, tenang, memiliki serat di antara bagiannya. Volumenya sedikit sehingga tidak berpotensi mendatangkan hujan. Dari sisi letaknya dari permukaan bumi, ada awan tinggi, awan sedang, dan awan rendah. Akibat ketinggiannya yg berbeda, maka bentuk dan kekuatannya jg berbeda. (avaana.com.au)

Manna adalah makanan yang turun dari udara (langit). Rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran banyaknya.

Demikianlah makanan terbaik dan minuman terbaik dalam kondisi panas di padang pasir, yang akan menyehatkan tubuh mereka, walau hanya makan secukupnya.

Allah SWT memberikan sesuatu sesuai kebutuhan, sesuai porsinya, maka manusia hendaknya selalu mensyukuri, bukan merasa kurang dan kurang, karena hal itu akan membuat mereka susah sendiri.

Sayangnya, nikmat yang telah diberikan Allah SWT tidak membuat Bani Israil berhenti menginginkan hal yang lebih banyak. Mereka menginginkan beragam jenis sayuran, ketimun, bawang merah, bawang putih, kacang dan miju-miju. (https://burnhamlibrary.org) (QS Al-Baqarah [2]: 61) Makanan yang merupakan jenis makanan khas Mesir.

Akibat ketidak syukuran ini membuat mereka semakin menjadi kaum yang akan mendapatkan kesulitan, karena ketidak syukuran mereka akan segala nikmat yang Allah SWT berikan.

Insan profetis adalah mereka yang senantiasa mampu mengungkap segala konsep dalam Al Qur’an, karena semua lafadz dalam Al Qur’an memiliki makna, yang akan menjadi pengetahuan dan memberikan manfaat dalam hidup manusia. Mereka selalu berfikir, bahwa Allah SWT telah memberikan panduan hidup lebih baik.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Ghamam, Manna dan Salwa, Nikmat Spesial dalam Al-Qur’an appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bahayanya Materialisme Ketuhanan https://ummetro.id/bahayanya-materialisme-ketuhanan/ Wed, 15 Sep 2021 03:55:13 +0000 https://ummetro.id/?p=13785 Profetik UM Metro – Allah SWT Berfirman:” Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan” (al Baqarah ayat 55). Dalam sejarah Bani Israil ada sebuah kisah bagaimana mereka meminta kepada Musa as untuk ikut mendengarkan dialog kalam Allah SWT

The post Bahayanya Materialisme Ketuhanan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT Berfirman:” Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan” (al Baqarah ayat 55).

Dalam sejarah Bani Israil ada sebuah kisah bagaimana mereka meminta kepada Musa as untuk ikut mendengarkan dialog kalam Allah SWT dengan Musa as, akhirnya merekapun diberikan kesempatan mendengarkan dialog Musa dengan Allah swt, akan tetapi mereka masih belum puas, sehingga meminta Musa untuk mereka dapat melihat Allah SWT dengan panca inderanya. Inilah logika materialisme ketuhanan. Mereka ingin melihat Tuhan dengan panca Indera, sebuah kesalahan logika (logical fallacy) yang fatal, bagaimana mungkin inderawi yang bersifat fisik mampu menemui sesuatu yang bersifat non materi (immateri).

Memandang eksistensi sesuatu hanya pada yang nampak oleh inderawi adalah sebuah kesalahan besar, karena indera sangatlah menipu. Hal inilah yang menyebabkan al-Ghazali melakukan uzlah untuk mendapatkan hakikat pengetahuan. Akhir dari perenunganya adalah makrifatullah sebagai ilmu paling tinggi. Karena dia memandang panca indera penuh tipuan, sebuah contoh bagaimana kayu dalam air terlihat bengkok, hal inilah menjadi dasar bagi al-ghazali bahwa inderawi penuh tipuan. Begitu juga fatamorgana, inderawi manusia tertipu olehnya.

Menipu manusia akan eksistensi Tuhan dengan indera adalah kebodohan, akan tetapi banyak sekali di dunia ini yang terjebak dengan hal itu. Akhir dari kebodohan ini adalah lahirnya ateisme atau faham ketidak percayaan pada eksistensi Tuhan. Karena mereka menjadikan panca indera sebagai standar ada dan tidaknya sesuatu.

Secara epistimologis manusia memiliki sumber pengetahuan inderawi, akali dan qalbi. Melihat Tuhan tidak mungkin dengan inderawi dan akali, maka memandang Tuhan seharusnya dengan potensi hati, hati yang dibimbing oleh kitab suci, karena di dalam kitab suci ada cara mengenal Tuhan. Sebagai seorang muslim, Allah swt telah mengenalkan dirinya di dalam al Qur’an, menunjukan kekuasaan Nya dalam alam semesta, sehingga melihat Allah bukan dengan indera tetapi dengan Iman yang lahir dari hati yang bersih.

Konsep memandang Allah SWT ada ketika manusia berada di akhirat, sebagaimana dalam ayat al Qur’an: “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23). Dalam ayat lain : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).

Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).) (HR. Imam Muslim)

Melihat Allah SWT adalah sebuah kemustahilan di dunia ini, akan tetapi sebuah kepastian di akhirat bagi mereka yang mendapatkan tambahan kenikmatan, mereka orang-orang yang beriman dan menetapi perintah Allah SWT. Sangat nampak logika iman dan logika kufur dalam memahami hal ini, karena keimanan akan membangun keyakinan dalam hati mereka, sedangkan kekafiran akan menghancurkan logika sehat mereka.

Oleh sebab itu Allah SWT menghukum mereka orang-orang yang tidak mau beriman sampai melihat wajahnya dengan sambaran halilintar, sedangkan mereka menyaksikan satu sama lainya. Hal ini menunjukan buruknya pola pikir mereka, dan menjengkelkanya prilaku mereka, sehingga Allah SWT menghukum mereka.

Tentu orang-orang yang terjebak dengan faham materialisme dan berujung pada ateisme ini akan mendapatkan hukuman Allah SWT yang sangat keras, karena mereka begitu sombong meniadakan Tuhan yang telah menciptakanya. Kesombongan inilah yang akan menjadikan mereka hancur baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini memang antara rasio dan iman akan terus berhadapan, bagi mereka yang jauh dari nilai keimanan. Akan tetapi bagi mereka yang menjadikan iman sebagai dasar maka mampu mendialogkan antara rasio dan iman, antara sains dan iman, demikianlah islam mengajarkan.

Insan profetis adalah mereka yang senantiasa menjadikan Iman sebagai dasar segalanya, sebagai dasar melihat sesuatu bahkan memikirkan sesuatu. Mereka adalah orang yang mampu mendialogkan antara indera, akal dan hati, antara iman dan sains, bahkan antara dunia dan akhirat. Dengan inilah peradaban akan terbentuk dengan baik, dan mampu memimpin dunia yang dipenuhi faham materialisme saat ini.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahayanya Materialisme Ketuhanan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Taubat Membutuhkan Pengorbanan https://ummetro.id/taubat-membutuhkan-pengorbanan/ Wed, 15 Sep 2021 03:52:23 +0000 https://ummetro.id/?p=13783 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: ”Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima

The post Taubat Membutuhkan Pengorbanan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: ”Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (al Baqarah ayat 54).

Al Qur’an adalah kitab suci yang senantiasa berbicara akan sejarah, karena menunjukan pentingnya sejarah. Dengan sejarah manusia akan memahami pelajaran masa lalu dan menghindari dari keterjebakan kesalahan kaum terdahulu. Sehingga memahami sejarah adalah kekuatan kunci peradaban Islam, karena dalam setiap sejarah ada pelajaran bagi mereka yang memiliki mata hati.

Dalam ayat ini memberikan pelajaran bahwa Bani Israil adalah kaum yang senantiasa melakukan kedzaliman terhadap diri mereka sendiri, karena mereka tidak mengikuti perintah Allah SWT, bahkan kedzaliman tertinggi mereka adalah kemusyrikan yang mereka lakukan, yaitu menyembelih anak sapi.

Kemusyrikan dalam al Qur’an disebut sebagai inna syirka ladzulmun ‘adziim (sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar). Logikan syirik sebagai kedzaliman yang sangat besar akan selalu berlaku sampai dunia ini hancur. Ketika manusia sudah menghambakan diri kepada materi (materialisme), semuanya mereka ukur dengan materi, bahkan mereka menjadikan sesembahan yang berbentuk materi.

Kemusyrikan yang dilakukan manusia adalah bentuk penganiayaan kepada hati manusia, karena hati adalah subtansi manusia itu sendiri. Sedangkan nutrisi terbaik hati adalah tauhid, maka kemusyrikan adalah pembunuhan hati itu sendiri. Ketika hati telah mati atau rusak maka seluruh anggota tubuh manusia akan mengalami kerusakan. Ketika manusia rusak hati, fikiran dan raganya, maka dia akan melakukan kerusakan di muka bumi.

Itulah mengapa syirik menjadi dosa sangat besar dalam Islam, dan kematian dalam kemusyrikan adalah kematian tanpa ampunan, kekal dalam neraka. Akan tetapi Allah SWT membuka jalan keselamatan bagi pelaku syirik selama mereka masih hidup, yaitu menjalani pertaubatan. Taubat yang benar-benar mengakui kesyirikanya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi,serta menjalani segala perintah Allah SWT.

Konsep pertaubatan hakikatnya setiap nabi berbeda-beda, sebagaimana dalam ayat di atas syari’at taubat Nabi Musa adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Secara subtansial, hakikatnya tidak berbeda dengan pertaubatan pada syariat Nabi Muhammad saw, yaitu Taubat membutuhkan pengorbanan. Hanya pada syari’atnya saja yang ada perbedaan.

Kaum bani Israil mereka ketika menjadikan anak lembu sebagai sesembahan maka Allah SWT memerintahkan mereka untuk bertaubat, akan tetapi pertaubatan mereka akan diterima dengan mereka bunuh diri. Bunuh diri di sini banyak penafsiran, ada yang mengatakan mereka berperang satu sama lain, sehingga saling membunuh, dan yang terbunuh maka telah diterima taubatnya. Ada yang mengatakan mereka yang tidak menyembah anak lembu, diperintahkan membunuh kaum yang menyemabah anak lembu, dan masih ada beberapa pendapat lagi. Akan tetapi intinya adalah pertaubatan yang berujung pada kematian mereka.

Esensi taubat sepanjang zaman adalah pengorbanan, orang yang bertaubat hendaknya memiliki jiwa pengorbanan. Mengorbankan dirinya untuk meninggalkan segala yang mereka pernah lakukan dan bertentangan dengan syariat Allah SWT. Pertaubatan tanpa pengorbanan tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Jika dalam hukum hudud, contoh pencuri yang telah terbukti mencuri maka dosanya akan diampuni oleh Allah SWT ketika dia telah di had sariqah (hukuman pencuri) yaitu dipotong tanganya. Atau jika dia mendapatkan permaafan maka mengembalikan apa yang telah dicuri dan membayar diyad yang ditentukan.

Saat ini sedang rame hukuman bagi koruptor, sebagai dosa yang lebih besar dari hanya sekedar pencurian biasa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena korupsi adalah pencurian terencana, terstruktur dan merugikan banyak manusia. Sehingga mereka disebut orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi. Hukumanya apakah had sariqah (hukuman pencuri) atau had al qatl (hukuman membunuh manusia) yaitu hukuman mati. Sehingga pertaubatan mereka akan benar-benar terpenuhi ketika mereka benar-benar berkorban untuk mendapatkan had tersebut. Akan tetapi ketika hudud sebagai bentuk konsekwensi pengorbanan tidak ada dalam UU di negara kita, maka mereka hendaknya melakukan pengorbanan dalam bentuk lain, sehingga seseorang tidak mudah melakukan suatu kedzaliman.

Allah SWT Maha menerima taubat, akan tetapi semuanya adalah membutuhkan sebuah syariat dan pengorbanan dalam pertaubatan. Tidak semua dosa diampuni dengan hanya istighfar, kecuali dosa-dosa kecil, akan tetapi segala bentuk dosa besar akan Allah SWT ampuni dengan taubat dan konsekwensi taubat, salah satunya hukum hudud.

Akan tetapi saat ini logika hudud dalam islam seakan menjadi logika yang tidak menarik bagi pengkajian hukum pidana, sedangkan hudud memiliki konsekwensi ampunan Allah SWT, bukan hanya konsekwensi sosial saja. Inilah yang menjadikan seorang wanita pada masa nabi yang berzina, meminta Nabi Muhammad saw untuk merajamnya, walau nabi enggan. Karena wanita sohabiah memahami bahwa rajam adalah jalan pengorbanan dalam taubatnya.

Insan profetis hendaknya membangun logika taubat ini, sehingga mereka memahami konsekwensi akan setiap dosa yang mereka lakukan, apakah dosa itu membutuhkan pengorbanan atau hanya sekedar penyesalan dan istighfar.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

 

The post Taubat Membutuhkan Pengorbanan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Fungsi Kitab dan Furqan sebagai Petunjuk   https://ummetro.id/fungsi-kitab-dan-furqan-sebagai-petunjuk/ Wed, 15 Sep 2021 03:50:48 +0000 https://ummetro.id/?p=13781 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman : Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Kitab dan Furqan, agar kamu memperoleh petunjuk (al Baqarah ayat 53). Al Qur’an selalu mengajak manusia untuk berfikir dengan baik dan benar, menghindarkan dari berlogika yang salah (logical fallacy). Karena al Qur’an selalu menghadirkan ruang berfikir, ruang merenung dan memberikan

The post Fungsi Kitab dan Furqan sebagai Petunjuk   appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman : Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Kitab dan Furqan, agar kamu memperoleh petunjuk (al Baqarah ayat 53).

Al Qur’an selalu mengajak manusia untuk berfikir dengan baik dan benar, menghindarkan dari berlogika yang salah (logical fallacy). Karena al Qur’an selalu menghadirkan ruang berfikir, ruang merenung dan memberikan kesimpulan kebenaran dari itu semua. Itulah diferensiasi manusia dengan makhluk lain, karena kemampuanya membangun pemikiran dan perenungan untuk menghasilkan kesimpulan kebenaran, sehingga akan melahirkan aksi yang tepat dalam melanjutkan kehidupanya.

Dalam surat al Baqarah ayat 53 Allah swt membangun nalar renung kembali manusia, ketika menggunakan kalimat “Ingatlah” artinya Allah swt mengajak manusia mengingat-ingat sesuatu yang telah terjadi, karena hal ini menjadi dasar untuk menyimpulkan sesuatu yang akan berefek pada masa depan. Manusia yang logikanya sehat, nalar berfikirnya baik dan tingkat rasa jiwa (soul)nya hidup maka akan mampu melakukan proses “pengingatan” ini. Kelemahan Bani Israil adalah mengingat-ingat apa yang sudah Allah SWT karuniakan kepada mereka, baik nikmat yang berupa materi maupun kenikmatan yang berupa kecerdasan dan keselamatan, sehingga mereka menjadi manusia yang kurang bersyukur.

Kemampuan merenung menjadi kopetensi yang penting (tadabbur) dalam diri hamba, karena merenung adalah kemampuan membangun relasi logika (rasio) dengan hati (soul) serta kitab suci (teks). Denganya elaborasi itu, maka perenungan akan menghasilkan sebuah produk fikir yang benar, serta kesimpulan yang baik.

Objek ingat dalam ayat di atas adalah karunia Allah SWT ketika menurunkan kepada Musa al Kitab dan al Furqan. Apa yang dimaksud dengan al Kitab dan furqan tersebut?

Banyak mufassir menafsiri dua konsep tersebut, Imam Jalaludin as Suyuti dalam Kitab Jalain memahami bahwa al-Kitab adalah Taurat, sedangkan al-Furqan adalah kata penjelas daripada al Kitab, sebagai pemisah antara hak dan bathil, serta membedakan halal dan haram untuk menunjukan manusia kepada jalan kebenaran.

Imam al Baidhawi dalam kitan Anwaru Tanzil wa asraru ta’wil memahami bahwa al kitab dan al furqan adalah Taurat itu sendiri, karena taurat adalah sesuatu yang menghimpun kitab suci serta menjadi hujjah untuk membedakan yang hak dan yang bathil.

Hakikatnya apapun tafsirnya akan merujuk kepada makna esensi dan fungsi, al kitab sebagai esensi ajaran, sedangkan al furqan sebagai fungsi ajaran tersebut, sebagai pembeda kebenaran dan keburukan. Kemampuan memahami esensi yang melahirkan fungsi inilah perenungan, yang kemudian menghadirkan sebuah kesimpulan petunjuk kebenaran (tahtadun/hidayah).

Seorang pembaca yang baik, seorang ilmuwan yang baik, seorang perenung yang baik bahkan pemikir yang baik adalah mereka yang mampu mengambil segala value kebenaran dalam teks maupun konteks, sehingga value tersebut memiliki fungsi dalam membangun segala sesuatu yang bermanfaat, menjadi jalan dan arah untuk menentukan mana yang benar dan salah, mana yang hak dan yang batil bahkan mana yang halal dan haram.

Kopetensi seperti inilah yang akan mengarahkan manusia menuju kebenaran serta mendapatkah hidayah kitab suci. Karena inti kitab suci adalah petunjuk kebenaranya, Bukan hanya menjadi sebuah doktrin dan bacaan tanpa makna bahkan tak berfungsi. Kelemahan umat manusia saat ini adalah pada wilayah ini, kemampuan mengambil esensi dan fungsi sehingga sebanyak apapun mereka membaca kitab suci, maka tidak memberikan efek ilmiah dan amaliah dalam diri mereka, sehingga peradaban tidak terbangun.

Sebagai orang beriman yang mengimani al Qur’an, al Qur’an sebagai kitab suci penyempurna syari’at sebelumnya, hendaknya menjadikan metode perenungan seperti di atas, karena al-Qur’an memiliki esensi dan fungsi yang sangat universal. Al-Qur’an akan menjadi peta jalan dalam membangun peradaban manusia yang mulia, akan tetapi hal ini tergantung dengan kemampuan umat menghadirkan hidayah dari al Qur’an melalui nalar dan metode berfikir yang benar.

Insan profetis sebagai ujung tombak dalam membangun peradaban, hendaknya mengfokuskan diri dalam berijtihad memahami esensi dan fungsi al Qur’an, sehingga al Qur’an akan mampu menjadi jalan membangun peradaban. Al Qur’an akan menjadi peta jalan bagi para scientis baik sosial maupun eksak dalam membangun Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang menghadirkan kemaslahatan totalitas serta menjadi IPTEK yang menghadirkan makrifatullah.

Al Qur’an akan menjadi peta jalan dalam membangun suatu bangsa, peta jalan politik yang berkeadilan, ekonomi yang mensejahterakan dan hukum yang penuh dengan kesetaraan dan keadilan. Semua manusia yang menjadikan al-Qur’an akan menemukan suara Tuhan di dalam bidang dan aspek yang mereka geluti. Sehingga cahaya ilahi selalu menerangi kehidupan manusia.

Diperlukan sebuah gerakan merenungi nalar berfikir al-Qur’an ini, untuk mereset fikiran manusia yang sudah dipenuhi nalar berfikir materialis yang membahayakan peradaban, karena materialisme hanya menjadi fatamorgana peradaban bukan peradaban yang hakiki.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

 

The post Fungsi Kitab dan Furqan sebagai Petunjuk   appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Kematian Akan Menjadi Bukti Ketidakpercayaan https://ummetro.id/kematian-akan-menjadi-bukti-ketidakpercayaan/ Wed, 15 Sep 2021 03:48:37 +0000 https://ummetro.id/?p=13778 Profetik UM Metro – Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur.(Al Baqarah ayat 55) Manusia memang makhluk yang luar biasa, berbekal akal dia mampu menjadi manusia yang melebihi malaikat, akan tetapi denganya juga bisa menjadi manusia sombong seperti Fir’aun. Kesombongan itu diceritakan ketika Musa mengenalkan taurat, Bani Israil meminta untuk melihat

The post Kematian Akan Menjadi Bukti Ketidakpercayaan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur.(Al Baqarah ayat 55)

Manusia memang makhluk yang luar biasa, berbekal akal dia mampu menjadi manusia yang melebihi malaikat, akan tetapi denganya juga bisa menjadi manusia sombong seperti Fir’aun.

Kesombongan itu diceritakan ketika Musa mengenalkan taurat, Bani Israil meminta untuk melihat Allah SWT dengan indera mereka, akhirnya Allah SWT musnahkan mereka dengan Sambaran halilintar. Setelah kemusnahan itu maka Allah SWT membangkitkan mereka kembali, dengan harapan mereka menjadi beriman, tetapi kesombongan telah menutupi hati mereka.

Sebagaimana dalam riwayat dalam tafsir Ibnu Katsir: Musa ‘alaihissalam berkata kepada mereka, “Ambillah Kitabullah ini!” Mereka menjawab, “Tidak.” Musa ‘alaihissalam berkata, “Apakah yang telah menimpa kalian?” Mereka menjawab, “Kami mengalami mati, kemudian kami dihidupkan kembali.” Musa ‘alaihissalam berkata, “Terimalah Kitabullah ini.” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Allah mengirimkan malaikat, lalu malaikat mencabut bukit dan mengangkatnya di atas mereka. Konteks riwayat ini menunjukkan bahwa mereka dikenakan taklif (paksaan) untuk mengamalkan kitab itu sesudah mereka dihidupkan kembali.

Dalam kisah ini penulis mengambil pelajaran bahwa kematian adalah akhir dari kesombongan. Kematian adalah akhir dari ketidak percayaan akan Tuhan.

Kisah Bani Israil yang mereka tidak mau kembali kepada Allah setelah kematiannya, karena mereka masih dihidupkan kembali, dan masih percaya diri bersama Musa as yang akan selalu memenuhi kehendak mereka.

Sebagai pembaca Al Qur’an maka kita hendaknya mengambil inti ajaran ini, bahwa semua akan terbukti setelah kematian.

Setelah di alam akhirat orang-orang kafir menyesal kenapa di dunia dia tidak bersyahadat (menjadi seorang muslim) percaya bahwa Allah SWT yang Maha Esa dan Muhammad adalah utusannya. Penyesalan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Hijr ayat 2-3 yang artinya: “Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr: 2-3). dalam ayat lain : “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 12)

Demikianlah mereka akan memahami apa yang mereka lakukan, penyesalan demi penyesalan akan mereka rasakan, akan tetapi semua sudah terlambat.

Orang-orang kafir mengira mereka tidak akan dibangkitkan kembali, walau saat ini banyak ilmuwan yang meneliti bagaimana menghidupkan manusia lagi, akan tetapi semua itu hanyalah Senda gurau belaka. Keyakinan bahwa akhirat nyata adalah hak, maka sebagai seorang mukmin wajib meyakini, dan biarlah orang kafir menyesal nanti.

Hal ini tidaklah menyalahi logika, karena memang manusia mengalami banyak tahapan, dari tiada menjadi ada, dan terus menuju fase selanjutnya. Bagi mereka yang melihat sesuatu hanya dengan inderawi belaka secara empiris maka setelah kematian adalah akhir segalanya.

Bagi insan profetis kematian adalah awal kehidupan yang sempurna, dan sangat dinantikan oleh semua manusia.

Hidup di dunia tidak ada jaminan sama sekali, namun kematianlah yang betul-betul menjamin segalanya kita menjadi jaminan. Tapi, mengapa banyak orang belum menyadari kematian.”

Sehingga bagi mereka yang beriman akan menjadikan kematian adalah awal segala kebahagiaan, bukan akhir dari kehidupan.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

 

The post Kematian Akan Menjadi Bukti Ketidakpercayaan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>