quran Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/quran/ Solusi Sukses Masa Depan Tue, 08 Apr 2025 14:13:12 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png quran Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/quran/ 32 32 Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan https://ummetro.id/bahagia-dengan-al-quran-iman-dan-kecerdasan/ Thu, 01 Jul 2021 16:15:43 +0000 https://ummetro.id/?p=13368 Profetik UM Metro – Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti (Al-Baqarah ayat 13). (https://baycities.com) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Waiza qila ” (apabila dikatakan), yakni kepada

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti (Al-Baqarah ayat 13). (https://baycities.com)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ” Waiza qila ” (apabila dikatakan), yakni kepada orang-orang munafik. Aminu kama amanan nasu, berimanlah kamu sekalian sebagaimana orang-orang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari berbangkit sesudah mati, surga dan neraka serta lain-lainnya yang telah diberitakan oleh Allah kepada orang-orang mukmin. Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dalam mengerjakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.

Qalu anuminu kama amanas sufaha-u; mereka menjawab, “Akankah kami disuruh beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Yang mereka maksudkan dengan “orang-orang yang bodoh” adalah para sahabat Rasul Shalallahu’alaihi Wasallam.

Demikianlah orang-orang yang berpenyakit hati, yang menganggap bahwa keimanan adalah indikasi kebodohan, ketidakcerdasan.

Saat ini kita mengalaminya suatu kondisi bagaimana keimanan sering diidentikkan dengan orang-orang yang tidak rasional, karena mempercayai sebuah keyakinan yang tidak empiris.

Saat ini banyak manusia menjadikan rasionalitas untuk menjadikan dirinya ragu akan iman, ragu akan agama akhirnya melemahnya amal ibadah seseorang, karena cenderung meremehkan iman.

Hakikatnya iman adalah tanda kecerdasan seseorang, karena kecerdasan bukan hanya terkait masalah rasionalitas, tetapi juga spiritualitas.

Teori spiritual Quotien bahwa setiap manusia memiliki titik Ketuhanan (God spot) dalam dirinya, menunjukan bahwa seseorang yang memiliki keimanan adalah kecerdasan sangat luar biasa.

Seseorang yang memiliki keimanan akan menjadikan dirinya orang yang paripurna, karena memiliki kekuatan vertikal ilahiah dan horizontal insaniah. Sedangkan orang yang tidak beriman, walau memiliki kecerdasan intelektual dia akan mengalami kegelisahan sepanjang hidupnya, karena dia akan takut setelah kematiannya.

Sehingga saat ini ada informasi bagaimana ilmu pengetahuan mampu menghidupkan orang mati, ini adalah indikasi ketakutan nasib manusia setelah kematianya.

Bagi orang beriman, mereka akan memiliki ketenangan karena mengetahui apa yang terjadi setelah kematiannya. Rasullullah menyebut mereka sebagai orang super cerdas dengan sabdanya: “Manusia yang paling utama adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Manusia yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang berakal dalam riwayat lain: Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsami)

Sehingga mereka menyiapkan dirinya untuk hari tersebut.

Insan profetis adalah insan yang cerdas intelektual dan cerdas spiritual, karena inti hidup mereka ada pada ruang spiritualnya. Ilmu yang mereka miliki dalam rangka menguatkan sisi spiritualnya, mengenal Tuhannya dan menjadi jalan akhir kehidupannya.

Insan profetis akan bangga dengan keimanan, bukan meremehkannya, walau keimanan itu jauh berbeda dengan rasionalitas dirinya. Karena keimanan diatas rasio manusia.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Iman dan Kecerdasan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Bahagia dengan Al-Qur’an: Menipisnya Self-Awareness https://ummetro.id/bahagia-dengan-al-quran-menipisnya-self-awareness/ Thu, 01 Jul 2021 16:05:12 +0000 https://ummetro.id/?p=13365 Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya (Al Baqarah ayat 12). Ayat ini menggambarkan bagaimana orang munafik Madinah yang sangat vokal menyatakan dirinya sebagai pelaku perbaikan (muslihun) sedangkan realitasnya mereka adalah pembuat kerusakan (mufsidun). Fakta ini mengindikasikan ketidaksadaran diri mereka (la yasy’uruun) akan

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Menipisnya Self-Awareness appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya (Al Baqarah ayat 12).

Ayat ini menggambarkan bagaimana orang munafik Madinah yang sangat vokal menyatakan dirinya sebagai pelaku perbaikan (muslihun) sedangkan realitasnya mereka adalah pembuat kerusakan (mufsidun).

Fakta ini mengindikasikan ketidaksadaran diri mereka (la yasy’uruun) akan posisi diri mereka sendiri. Karena mereka terlena dengan karya yang mereka lakukan.

Demikianlah sifat orang yang berpenyakit hati, apa yang mereka lakukan tak sebanding dengan kerusakan yang mereka sebabkan, tetapi tetaplah mereka mengatakan melakukan perbaikan.

Ketidak sadaran diri ini disebut dalam teori Maslow sebagai self-awareness (kesadaran diri). Teori ini menyebutkan bahwa seseorang hendaknya memahami, mengerti siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang dimiliki, apa langkah-langkah yang diambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang dimiliki.

Bahkan kesadaran diri hendaknya menyentuh ruang ruang spiritual bagaimana visi misi kita hidup, tujuan hidup dan kemana kita akan kembali serta apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini.

Umar bin Khatab mengajarkan kesadaran diri ini dengan selalu bermuhasabah, atau mengevaluasi diri kita. Apakah yang kita lakukan sudah ikhlas, sesuai perintah Allah dan Rasul, memberi manfaat kepada manusia dan alam semesta?

Beliau menyebutkan hasibu anfusakum qabla antuhasabu hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung Allah di hari hisab nanti.

Kecakapan dalam bermuhasabah akan menghadirkan self-awareness, sehingga akan melahirkan manusia yang memiliki kepekaan akan kebaikan, mampu membedakan yang baik dan buruk (furqan) serta mampu mengenal dirinya sendiri (ma’rifatun nafsi).

Self-awareness akan menghidupkan rasa malu kepada diri sendiri, sehingga dia akan menjadi manusia yang tawadhu, tidak merasa berjasa, merasa berbuat tetapi dia akan selalu optimal dan berbuat dan berkarya.

Kiayi Dahlan pernah berpesan “sepi eng lambe rame eng gawe” demikianlah orang yang bersih hatinya dari kemunafikan, tidak banyak berbicara akan karyanya tetapi fokus pada karya walaupun karyanya tak diakui oleh manusia. Karena dia hanya berharap kepada Allah SWT, yakin akan perintah Allah SWT.

Sifat insan profetis yang hendaknya selalu dibangun adalah self-awareness, cerdas emosi dan spiritual nya, dengan selalu ber muhasabah diri agar melahirkan percikan cahaya hidayah Allah SWT dalam setiap fikiran, hatinya dan amalnya.

Mereka bukan orang yang vokal menyebutkan prestisenya, tetapi mereka orang yang selalu menghadirkan prestasi nyata, mereka orang yang selalu menyadari diri sebagai hamba dan Khalifah Allah SWT di muka bumi.

Insan profetis yang sadar dirilah adalah tiang penyangga peradaban masa depan.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)

The post Bahagia dengan Al-Qur’an: Menipisnya Self-Awareness appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>