satrio Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/satrio/ Solusi Sukses Masa Depan Thu, 07 Oct 2021 08:47:23 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.5 https://ummetro.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-UM-Metro-32x32.png satrio Archives - Universitas Muhammadiyah Metro https://ummetro.id/topik/satrio/ 32 32 Sistem yang Penuh Dukungan https://ummetro.id/sistem-yang-penuh-dukungan/ Thu, 07 Oct 2021 08:47:23 +0000 https://ummetro.id/?p=13898 Opini UM Metro – Beberapa waktu lalu, sebuah tim sepakbola berkeluh – kesah. Timnya sering kalah saat menjalani pertandingan di masa pandemi. Sang pelatih menyalahkan ketiadaan suporter yang mendukung tim mereka. Saking pentingnya dukungan suporter. Bahkan suporter mereka anggap sebagai anggota tim ke-12. Anggapan ini sudah jadi hal biasa dalam sepak bola. Sebenarnya, apasih yang dilakukan

The post Sistem yang Penuh Dukungan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Opini UM Metro – Beberapa waktu lalu, sebuah tim sepakbola berkeluh – kesah. Timnya sering kalah saat menjalani pertandingan di masa pandemi.

Sang pelatih menyalahkan ketiadaan suporter yang mendukung tim mereka. Saking pentingnya dukungan suporter. Bahkan suporter mereka anggap sebagai anggota tim ke-12. Anggapan ini sudah jadi hal biasa dalam sepak bola.

Sebenarnya, apasih yang dilakukan oleh supporter sepak bola? Mengapa dukungan mereka terasa begitu penting ? Padahal yang mereka lakukan hanya berteriak atau memberikan tepuk tangan.

Dalam teori psikologi sosial, ternyata, manusia sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya. Teori dukungan sosial, pertama kali dicetuskan oleh Don Drennon-Gala dan Francis Cullen. Teori keduanya berpusat pada preposisi bahwa segala macam instrumen, informasi dan dukungan emosional dari lingkungan dapat mempengaruhi peforma ataupun prilaku manusia.

Segala macam dukungan positif suporter inilah yang terkadang, mampu meningkatkan peforma sebuah tim sepak bola. Konsep teori dukungan sosial ini, sebenarnya, tidak hanya berlaku pada tim sepak bola. Namun berlaku pada semua setting kehidupan manusia.

Pada setting organisasi misalnya. Walau terlihat sepele, prilaku suportif ini, mungkin bisa memberi pengaruh besar pada peforma sebuah organisasi, ataupun peforma dari anggota organisasi tersebut.

Contoh lebih sederhana, pada group whatsapp (WA) misalnya. Ada group-group WA yang suportif ada juga yang tidak suportif. Tergantung dari budaya yang dianut oleh tiap group WA tersebut.

Ada group WA, ketika ada capaian prestasi dari salah satu anggotanya, anggota yang lain tidak pelit memberikan apresiasi dan dukungan. “Selamat”. “Nderek Binggah (ikut senang)”. “Sukses”. Celetukan yang biasa diberikan aggota group WA, jika ada posting dari prestasi dari anggota yang lain. Mungkin ini, yang memicu anggota organisasi dari group WA tersebut, terus berprestasi. Sehingga tidak disadari, prestasi di organisasi tersebut, sudah jadi hal biasa. Membudaya.

Namun ada juga group wa yang sebaliknya. Ketika ada capaian dari anggotanya, anggota yang lain, sangat berhati-hati memberikan apresiasi ataupun dukungan. Apresiasi dan dukungan mungkin dianggap sebagai hal yang sakral. Tidak bisa sembarangan diberikan pada anggota group yang lain. Meskipun dia, telah berprestasi. Justru terkadang image negatif yg diberikan. Ibarat tim sepakbola, tidak ada suporternya (pemberi dukungan). Atau bahkan, ada suporternya, tapi suporter justru mencaci timnya sendiri.

Berbedanya iklim tiap group wa, tentunya akibat berbedanya budaya organisasi dari group wa tersebut. Sekilas tentang budaya sebuah organisasi. Budaya dibentuk oleh perilaku tiap anggota organisasi, disetujui oleh mayoritas anggota organisasi tersebut, dan terjadi secara konsisten. Jadilah kebiasaan yang membudaya.

Jadi tidak aneh, budaya tiap organisasi berbeda-beda, karena orang didalamnya juga berbeda-beda. Ada yang punya budaya memberikan dukungan sosial bagi anggotanya yang berprestasi. Ada juga yang baru memberikan dukungan sosial ketika salah satu anggotanya mengalami musibah. Contoh ekstrimnya, kematian misalnya. Jadi kalo mau mendapatkan dukungan sosial, anggota dari kelompok tersebut, harus mati dulu.

Penulis: Dr. Satrio Budi Wibowo, M.A. (Dosen BK UM Metro)

The post Sistem yang Penuh Dukungan appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Melawan Covid 19 Sesuai Situasi dan Kondisi https://ummetro.id/melawan-covid-19-sesuai-situasi-dan-kondisi/ Wed, 23 Jun 2021 09:49:20 +0000 https://ummetro.id/?p=13310 Laman Opini UM Metro – PPKM Skala besar, penyekatan, bahkan lockdown, merupakan salah satu opsi yang disarankan para ahli untuk melawan laju penularan Covid 19. Beberapa daerah telah menerapkan opsi tersebut. Namun, jika kita lihat berita akhir-akhir ini, mengenai masyarakat yang abai bahkan melawan himbauan pemerintah, kita menjadi bertanya. Bisakah opsi tersebut diterapkan saat ini

The post Melawan Covid 19 Sesuai Situasi dan Kondisi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – PPKM Skala besar, penyekatan, bahkan lockdown, merupakan salah satu opsi yang disarankan para ahli untuk melawan laju penularan Covid 19. Beberapa daerah telah menerapkan opsi tersebut. Namun, jika kita lihat berita akhir-akhir ini, mengenai masyarakat yang abai bahkan melawan himbauan pemerintah, kita menjadi bertanya. Bisakah opsi tersebut diterapkan saat ini ?

Pertanyaan tersebut ternyata telah dijawab oleh Gubernur DI Yogyakarta. Sultan HB X selasa lalu (22/6) membatalkan rencana penerapan PSBB di DI Yogyakarta. Padahal, sebagian daerah di DI Yogyakarta telah menjadi zona merah. Banyak hal yang menjadi alasan beliau, diantaranya adalah alasan ekonomi dan alasan tidak akan dipatuhinya aturan tersebut oleh masyarakat.

Kita juga menyaksikan, berita mengenai masyarakat di Madura yang nekat menjebol penyekatan yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini menegaskan, sangat sulit menerapkan lockdown ataupun penyekatan di situasi saat ini. Beberapa penyebabnya adalah masyarakat yang sudah abai terhadap pandemi Covid 19. Lihat saja komentar para netizen menanggapi berita tentang Covid 19. Anda akan mendapatkan banyak komentar yang berisi meragukan keberadaan Covid 19, berbagai isu konspirasi, atau merasa Covid 19 bukanlah hal yang perlu ditakutkan.

Kajian Psikologi telah lama menjelaskan fenomena ketidak patuhan masyarakat dalam melakukan upaya kesehatan. Beberapa ahil psikologi di Amerika mengembangkan Healt Belief Model (HBM). HBM terdiri dari Persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, petunjuk untuk aksi kesehatan, dan efikasi diri.

Respon umum manusia terhadap situasi pandemi Covid 19, tentu saja ketakutan dan merasa tidak dapat mengontrol untuk mengakhir pandemi Covid 19. Semua orang pasti ingin situasi pandemi segera berakhir. Sehingga ia bisa kembali tenang, nyaman dan tidak perlu takut lagi. Jika respon ini disandingkan dengan HBM. Maka seseorang akan berusaha menciptakan ketenangan dan kenyamanan palsu dengan ; mempersepsikan ia kuat dan tidak rentan terhadap Covid 19, mempersepsikan bahwa Covid 19 tidak akan membuat keparahan, mengarahkan persepsinya dengan mencari arahan atau berita-berita  yang mendukung upaya mendapatkan keamanan palsu (percaya terhadap berita hoax). Beberapa hal tersebut akhirnya mengembangkan efikasi diri yang palsu, bahwa ia aman dari Covid 19, atau menilai Covid 19 tidak berbahaya bagi dirinya, atau menilai bahwa ia telah menemukan obatnya. Efikasi diri palsu tersebut membuat seseorang kembali merasa nyaman dan merasa situasi telah normal.

Situasi tersebut membuat banyak masyarakat tidak patuh terhadap kebijakan yang diterapkan pemerintah. Ditambah situasi Pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung sangat lama. Maka kebijakan lockdown dan penyekatan akan terus ditentang oleh masyarakat.

Opsi lain yang ditawarkan oleh ahli kesehatan selain lockdown dan penyekatan, adalah vaksinasi. Kita bisa melihat beberapa negara sukses keluar dari pandemi karena berhasil dalam program vaksinasi Covid 19. Sepertinya opsi vaksinasi ini lebih menjanjikan. Tentu saja pemerintah harus berupaya keras menyediakan banyak dosis vaksin untuk masyarakat. Selain itu, yang tidak kalah penting, pemerintah harus mulai mensosialisasikan program vaksinasi secara masif. Diharapkan sosialisasi program vaksin dapat mengalahkan informasi hoax tentang vaksin. Serta mempertimbangkan, mengunakan pendekatan ilmiah ilmu perilaku dalam upaya mengarahkan perilaku masyarakat.

Penulis: Dr. Satrio Budi Wibowo., S.Psi., M.A (Dosen FKIP UM Metro)

The post Melawan Covid 19 Sesuai Situasi dan Kondisi appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Mengapa Kita (Secara Tidak Sengaja) Senang Menyebarkan HOAX? https://ummetro.id/mengapa-kita-secara-tidak-sengaja-senang-menyebarkan-hoax/ https://ummetro.id/mengapa-kita-secara-tidak-sengaja-senang-menyebarkan-hoax/#respond Sun, 31 Mar 2019 07:33:02 +0000 https://ummetro.id/?p=9716 Laman Opini UM Metro – Bagi yang memiliki medsos, di tahun politik saat ini, pasti berandanya dipenuhi oleh sebaran informasi terkait politik. Berbagai macam informasi, baik  kritik, maupun dukungan, banyak bertebaran. Tentunya tidak masalah jika informasi yang disebarkan sesuai fakta. Informasi sesuai fakta mungkin akan berguna bagi sebagian pemilih. Namun, sangat disayangkan, informasi yang disebarkan

The post Mengapa Kita (Secara Tidak Sengaja) Senang Menyebarkan HOAX? appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
Laman Opini UM Metro – Bagi yang memiliki medsos, di tahun politik saat ini, pasti berandanya dipenuhi oleh sebaran informasi terkait politik. Berbagai macam informasi, baik  kritik, maupun dukungan, banyak bertebaran. Tentunya tidak masalah jika informasi yang disebarkan sesuai fakta. Informasi sesuai fakta mungkin akan berguna bagi sebagian pemilih. Namun, sangat disayangkan, informasi yang disebarkan tersebut, tidak semunya fakta,  ada sebagian informasi yang merupakan kabar bohong atau hoax. Bagi anda yang tidak terlalu fanatik terhadap parpol tertentu, tersebarnya hoax diberanda medsos anda, tentunya akan sangat menyebalkan.

Pada gelaran pilpres kali ini, banyak informasi hoax yang disebarkan oleh masing-masing kubu. Misalnya, jika Jokowi terpilih maka ideologi Indonesia akan diubah menjadi komunis, sebaliknya jika Prabowo terpilih maka ideologi Indonesia akan diubah menjadi kilafah. Tentunya informasi tersebut merupakan hasil kesimpulan dari fakta yang tidak lengkap. Karena di kubu Jokowi ada caleg mantan PKI, maka dituduh Jokowi membawa ideologi komunis. Sebaliknya karena Prabowo sangat dekat dengan umat Islam, maka dituduh Prabowo membawa ideologi kilafah.

Kesimpulan atas fakta yang tidak lengkap, cenderung menghasilkan hoax. Lalu, mengapa mereka senang menyebarkan Hoax? Apakah karena mereka iblis, bukan manusia ? Tentu saja tidak. Jika dikaji menggunakan ilmu psikologi, pada situasi tertentu, proses berfikir manusia memang kadang irasional. Hal ini disebabkan, karena manusia memiliki emosi. Keinginan, harapan, ketakutan dan semisalnya, dapat menyebabkan bias dalam proses berfikir (penalaran). Informasi yang seharusnya diolah secara kognitif, karena adanya keterlibatan emosi, membuat kesimpulan yang dihasilkan menjadi subjektif, tidak objektif. Kondisi seperti ini, oleh Dan Kahaan salah seorang ahli psikologi sosial, dinamakan penalaran termotivasi (motivated reasoning).

Penalaran termotivasi adalah proses menalar sebuah fakta namun termotivasi oleh tujuan tertentu yang kita inginkan. Ketika kita melakukan penalaran termotivasi, kita akan melakukan bias konfirmasi (confirmation bias). Dimana kita berusaha membenarkan informasi yang kita inginkan, dan menyalahkan informasi yang tidak kita inginkan. Benar – salah, bukan lagi atas dasar fakta, namun atas dasar, apa yang kita inginkan, benar. Sehingga, dalam konteks dukungan politik, kita akan selalu berusaha mencari – cari berita yang mendukung pilihan politik kita, dan berusaha menyingkirkan berita-berita yang tidak mendukung pilihan poilitik kita. Terjadilah yang namanya disonansi kognitif. Agar merasa nyaman dan tentram, sesorang berusaha menyingkirkan segala sesuatu (sikap, pemikiran, perilaku) yang bertentangan dengan apa yang ia inginkan, sebagai sebuah kebenaran.

Para ahli psikologi pun sudah meneliti bagimana bias konfirmasi ini dapat terjadi. Dengan menggunakan metode pencitraan otak, para peneliti neuropsikologi berusaha mengetahui mekanisme kerja otak, saat melakukan bias konfirmasi. Saat seseorang melakukan  bias konfirmasi dalam menilai kandidat yang ia suka, fungsi penalaran yang biasa digunakan untuk menilai informasi secara rasional (dorsolateral prefrontal cortex), menjadi tidak aktif. Namun, bagian otak yang biasa digunakan untuk mengolah emosi (orbitofrontal cortex), menjadi lebih aktif. Bahkan otak memberikan hadiah terhadap seseorang yang melakukan bias konfirmasi dengan melepaskan dopamine. Yaitu sebuah neurotransmiter yang membuat anda merasa nyaman dan enak. Hal ini mengkonfirmasi, bahwa seseorang cenderung menggunakan emosi saat melakukan bias konfirmasi. Bahkan seseorang akan merasakan kenyaman setelah berhasil melakukan bias konfirmasi. Mengingat otak memiliki kemampuan otomatisasi, semakin sering seseorang melakukan bias konfirmasi, semakin otomatis ia melakukan bias konfirmasi.

Oleh sebab itu, seseorang yang sudah terbiasa melakukan penalaran termotivasi, akan sangat sulit membedakan antara fakta dan hoax. Karena, fakta atau hoax tidak lagi penting, yang terpenting adalah mana informasi yang mendukung pilihan politiknya. Dan saat ia berhasil mendapatkan atau menyebarkan informasi yang mendukung pasangannya ia akan mendapatkan hadiah berupa perasaan nyaman dan tentram. Oleh sebab itu, tanpa disengaja (karena sudah terjadi otomatisasi), seseorang merasa senang dan nyaman, saat berhasil menyebarkan informasi (kadang hoax) yang mendukung pilihan politiknya.

Pelaku bias konformasi menyangka, dengan menyajikan data-data yang mendukung kesimpulannya yang bias,  mereka sudah melakukan proses ilmiah layaknya peneliti. Padahal apa yang mereka lakukan sangat berkebalikan dengan metode ilmiah dalam membuat kesimpulan. Jika peneliti, mengumpulkan data terlebih dahulu, baru menyimpulkan  berdasarkan data yang ia dapatkan. Sebaliknya, para pendukung politik yang fanatik, menyimpulkan sesuatu terlebih dahulu, baru mengumpulkan data-data yang mendukung kesimpulan yang ia inginkan.

Tentunya akan sangat sulit menyajikan fakta bagi mereka yang sudah mengalami bias konfirmasi. Tiap fakta yang tidak mendukung pilihan politiknya, akan disingkirkan. Tentunya perlu cara yang persuasif, untuk meyakinkan bahwa informasi yang mereka sebarkan belum tentu benar. Layaknya iklan kosmetika, mereka tidak menyerang calon konsumennya dengan mengatakan mereka jelek sehingga membutuhkan produk kosmetik yang mereka tawarkan. Tapi mereka mengatakan, bahwa produk kosmetika yang mereka tawarkan dapat mengeluarkan kecantikan natural terpendam (inner beauty) para penggunanya.

Penulis : Satri Budi Wibowo, M.Psi.

The post Mengapa Kita (Secara Tidak Sengaja) Senang Menyebarkan HOAX? appeared first on Universitas Muhammadiyah Metro.

]]>
https://ummetro.id/mengapa-kita-secara-tidak-sengaja-senang-menyebarkan-hoax/feed/ 0